I

PENDAHULUAN

 I. Pengantar

Setiap ilmu yang kita pelajari tidak pernah terlepas dari aspek dan pengaruh filsafat. Aspek filosofis dari setiap ilmu pengetahuan dikenal dalam tiga istilah yang tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain karena kesatuannya membentuk kadar keilmuan dari sebuah ilmu. Setiap ilmu lasimnya dapat ditelaah menurut aspek ontologis (metafisika), epistemologis dan aksiologis. Ketiga aspek inilah yang memberikan kualifikasi keilmuan dari setiap ilmu yang kita pelajari.

Aspek ontologis dari sebuah ilmu sangat esensial karena dari sana dapat kita telusuri cakupan ilmu tersebut atau kedudukan ilmu tersebut di antara rumpun ilmu yang lain. Aspek ontologis memberikan kekhasan atau keunikan dari sebuah ilmu sehingga berbeda dengan ilmu yang lain. Dengan menelusuri kaitan dan kedudukan ilmu ini di tengah ilmu yang lain maka di sana kita menemukan realitas dalam konteks metafisika.

Aspek kedua yang harus dimiliki oleh sebuah ilmu adalah aspek epistemologis. Unsur epistemologis ini merupakan jalan untuk mengetahui atau mengkaji sebuah ilmu. Oleh karena itu dibutuhkan teori-teori atau metode yang khas ilmu tersebut untuk menyelami apa yang menjadi esensi atau inti dari ilmu tersebut. Tanpa sifat epistemologis yang dimiliki sebuah ilmu maka ilmu tersebut tidak memiliki kredibilitas ilmiah karena sulit dipertanggungjawabkan. Aspek epistemologis membantu kita untuk mengetahui batasan dari sebuah ilmu dengan demikian tidak terlalu lentur untuk ditafsirkan sesuai dengan perspektif penafsirnya. Untuk menyelami sebuah ilmu maka dibutuhkan kemampuan memahami logika, dimana dapat dibangun premis-premis, analogi hingga mencapai kesimpulan yang valid dan benar.

Aksiologis adalah unsur lain yang juga mendasar bagi semua ilmu. Aspek aksiologis inilah yang memberikan jalan dan bukti apakah sebuah ilmu yang dipelajari membawa manfaat bagi orang yang mempelajarinya. Aspek aksiologis diperlukan untuk mengetahui alas an mendasar untuk apa sebuah ilmu dipelajari dan jika telah dipelajari apa manfaat, sumbangan dan implikasinya bagi kehidupan manusia.

Jika ketiga aspek filosofis ini dimiliki oleh sebuah ilmu maka dapat dipastikan bahwa ilmu tersebut memiliki daya dan kekuatan yang layak dikuasai karena mendatangkan manfaat bagi siapa saja  yang mendalaminya. Mengaju kepada landasan berpikir di atas maka dapat ditegaskan bahwa managemen sistem sangat layak dipelajari karena tergolong ilmu strategis yang memiliki muatan filosofis yang mendalam.

Jika merujuk kepada aspek aksiologis dari teori managemen sistem maka kiranya jelas pemikiran sistem memainkan peranan yang sangat penting dan luas cakupannya meliputi perusahaan industri, bidang persenjataan hingga topik manusia dengan ilmu pengetahuan murni.

Setiap orang yang berurusan dengan managemen, posisi, pengaruh, dan keinginan yang menentukan kehidupan wajib memiliki kemampuan berpikir dan bertindak sistematis. Pemikiran yang sistematis mau tidak mau mengacu kepada pemahaman mengenai filosofi dari sistem itu sendiri. ’Pendekatan Sistem’’ untuk menekan berbagai permasalahan seperti polusi, kemacetan, dan udara, lalu lintas yang padat dan lain-lain perlu dikaji berdasarkan sistem berpikir yang sistematis, rasional, realistis dan aplikatif. Dalam perkembangannya Maning perdana menteri Kanada menulis tentang ‘’Pendekatan Sistem’’ dan dalam platform politiknya menyatakan :

Sebuah hubungan timbal balik ada di antara semua elemen dan para pemilih dari masyarakat. Faktor-faktor yang utama dalam masalah-masalah umum, kebijakan-kebijakan, keputusan-keputusan, dan program-program haruslah selalu dipertimbangkan dan dievaluasi sebagai ketergantungan antar komponen dari seluruh sistem.

Pernyataan di atas merupakan suatu gambaran bahwa dalam pelbagai aspek permasalahan orang tidak bisa berpaling dari pendekatan sistem. Paling tidak kita harus berhadapan dengan keruwetan dengan ‘’keseluruhan’’ atau ‘’sistem’’ di semua bidang ilmu pengetahuan. Hal ini mencakup sebuah dasar orientasi kembali di dalam pemikiran ilmiah. Managemen Pendidikan pun sejatinya berlandaskan cara berpikir sistem. Untuk menopang ketrampilan dalam managemen pendidikan dibutuhkan pemahaman dan penguasaan yang mandalam dan sungguh-sungguh tentang teori sistem dan cara berpikir sistematis.

 

II   

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Sistem

Istilah Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) yang berarti suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasimateri atau energi untuk mencapai suatu tujuan. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi satu sama lain dengan demikian orang dapat menciptakan model tertentu berdasarkan sistem yang ada.

Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti Negara, partai politik, badan-badan dunia dsb. Negara misalnya, merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara tersebut.

Kata “sistem” banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi maupun temu ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan juga pada banyak bidang, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka. Sistem sebagai suatu organisasi atau kumpula objek-objek yang terangkai dalam interaksi dan saling bergantung dan teratur.

Menurut Ludwig von Bertalanffy(1940): Pengertian sistem sebagai suatu elemen-elemen yang berada dalam keadaan yang saling berhubungan.

Sementara itu Kamus Webster mengemukakan pengertian sistem sebagai suatu kesatuan (untiy) yang kompleks yang dibentuk oleh bagian-bagian yang berbeda-beda yang masing-masing terikat pada rencana yang sama atau berkontribusi untuk mencapai tujuan yang sama.

Berdasarkan pengertian di atas, sistem adalah kumpulan objek yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu dalam lingkungan yang kompleks. Objek yang dimaksud disisni adalah bagian-bagian dari sistem seperti input, proses, output, pengembalian umpan balik, batasan-batasan, dimana setiap bagian inimempunyai beberapa nilai atau harga yang bersam-sama menggambarkan keadaan sitem pada suatu saat tertentu. Berikut adalah contoh praktis penerapan teori sistem dalam kehidupan sehari-hari.

  • Sistem yang digunakan untuk menunjukkan suatu kumpulan atau himpunan benda-benda yang disatukan atau dipadukan oleh suatu bentuk saling hubungan atau saling ketergantungan yang teratur. Contoh : sistem tata surya, ekosistem.
  • Sistem yang digunakan untuk menyebut alat-alat atau organ tubuh secara keseluruhan yang secara khusus memberikan andil atau sumbangan terhadap berfungsinya fungsi tubuh tertentu yang rumit tetapi amat vital. Contoh : system syaraf
  • Sistem yang menunjukkan sehimpunan gagasan (ide) yang tersusun /terorganisasikan. Contoh: system teologi Agustinus, sistem pemerintahan demokrasi.
  • Sistem yang dipergunakan dalam arti metode atau tata. contoh: sistem mengetik sepuluh jari, sistem pembelajaran.
  • Sistem yang dipergunakan untuk menunjukkan pengertian skema atau metode pengaturan organisasi atau susunan sesuatu, atau mode tatacara .
  1. Menunjuk pada sesuatu (entitas), sesuatu wujud benda (abstrak / konkrit, termasuk juga yang konseptual). Contoh: mobil, jam tangan, manusia, alam semesta.
  2. Menunjuk pada suatu metode, cara untuk mencapai sesuatu. Contoh: sistem control, sistem belajar efektif.

2.2. Sejarah Perkembangan Teori Sistem

Sistem teori umum muncul pertama kali didahului oleh hadirnya teori cibernatika, sistem keteknikan dan bidang pengetahuan yang saling berhubungan. Pengertian sistem telah melewati sejarah yang panjang, walaupun kondisi sistem tidak mengutamakan sejarah dari pengertian yang meliputi banyak nama dan ilustrasi.Nicolas dari cusa’s Deludo globyBertalanffy dan Hermann Hasse’s Glasperlenspielyang mengamati bahwa pengerjaan dunia direfleksikan dalam sebuah desain yang cakap dan permainan yang abstrak.

Dalam pandangan Kohler sebuah sistem teori dimaksudkan untuk lebih mengerjakan sifat yang paling umum seperti properti organik daripada sistem organik untuk satu derajat, permintaan ini dipenuhi dengan teori sistem terbuka.

Kemampuan mengerjakan disebabkan oleh berbagai perkembangan baru teoritis, epistemologis, matematis dan lain–lain. Dalam hubungannya dengan pekerjaan eksperimen pada metabolisme dan pertumbuhan pada satu sisi dan sebuah usaha untuk mengkongkretkan sebuah program organismik pada sisi yang lain, teori sistem terbuka adalah sebuah lanjutan berdasar pada fakta yang biasa bahwa organisme adalah suatu sistem terbuka.

Seiring berjalannya waktu keberadaan sistem teori mulai diperhitungkan oleh banyak pihak, yang kemudian timbul usaha untuk menginterpretasikan ilmu pengetahuan dan teori yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Sistem teori umum ditanggapi sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin. Teori sistem sering diidentikkan dengan teori cybernatika dan control, meskipun hal ini tidak mutlak benar. Cybernatika sebagai sebuah teori pengendalian mekanis dalam teknologi dan alam, dalam pengertian informasi dan kilas balik, tetapi merupakan sebuah bagian dari sebuah sistem teori umum, sistem cybernatika merupakan kasus spesial tetapi penting dari sistem menunjukkan keteraturan sendiri.

2.2.1. Trend dalam Teori Sistem

Ketika hal baru di serukan sebagai sesuatu yang revolusioner banyak orang memakai istilah ini untuk menandai perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh ‘’revolusi ilmu pengetahuan’’ dapat diidentifikasi sebagai criteria diagnostic yang tertentu. Menurut pendapat Kuhn revolusi ilmu pengetahuan ditentukan oleh pemunculan bagan konsep yang baru atau paradigma. Dalam hal ini masalah sistem merupakan hal yang penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan. Aplikasi prosedur analisis tergantung pada dua kondisi yang pertama interaksi antara bagian yang tidak ada atau cukup lemah untuk dibiarkan untuk tujuan penelitian tertentu. Yang kedua dalam hubungannya dengan menerangkan perilaku bagian haruslah linier.

2.2.2. Sistem Teori Klasik

Teori Sistem Klasik menambah pada matematika klasik dengan tujuan untuk menyatakan prinsip yang digunakan pada sistem umum atau sub kelas yang ditentukan. Berbagai teori pendukungpun bermunculan untuk melengkapi pengapli-kasian teori sistem umum antara lain: Teori Bagian, Teori Set, Teori Grafik, Teori Jaringan, Cibernetika, Teori Informasi, Teori Automata, Teori Permainan, Teori Keputusan, dan Teori Pengantrian.

2.2.3. Arti Teori Sistem Umum

Ilmu modern dikarakterkan oleh spesialisasinya yang pernah meningkat, diharuskan dengan banyaknya jumlah data, kompleksitas tehnik dan struktur teoritis di semua bidang. Pada acara ini, kita merumuskan disiplin ilmu baru yang disebut “Teori Sistem Umum”. Pada teori sistem umum, subjek masalahnya adalah pada perumusan dan derivasi prinsip-prinsip yang valid untuk “sistem” secara umum. Arti disiplin ini dapat dikondisikan sebagai berikut: Fisika dihubungkan dengan sistem level-level generalitas yang berbeda. Ini diperluas dari sistem yang agak khusus, sperti yang diaplikasikan oleh insinyur pada konstruksi jembatan atau mesin, pada hokum khusus disiplin ilmu fisika seperti mekanik atau optik; pada hukum generalitas besar seperti prinsip termodinamika yang diaplikasikan pada sistem yang berbeda sifatnya secara intrisik, mekanik, kalorik, kimia atau yang lain. Dengan mendefinisikan konsep sistem, kita akan tahu bahwa model, prinsip dan hukum yang ada itu diaplikasikan pada sistem yang digeneralkan yang mengabaikan jenis, elemen dan “kekuatan” khusus yang terlibat.

2.3. Tujuan Teori Sistem Umum

Teori sistem umum merupakan keseluruhan yang sampai sekarang masih dianggap sebagai konsep yang semimetafisik dan tidak jelas. Dalam bentuk yang berelaborasi ini akan menjadi disiplin logis matematika secara formal tetapi dapat di aplikasikan pada berbagai ilmu empiris karena berhubungan dengan ‘’keseluruhan yang teroganisir’’ ini akan menjadi signifikasi yang hampir sama dengan yang dimiliki teori probabilitas untuk ilmu yang berhubungan dengan ‘’peristiwa kesempatan’’ yang berikutnya juga adalah disiplin matematika formal yang dapat diaplikasikan pada bidang yang paling berbeda, seperti termodinamika, percobaan biologi dan medis, genetik, statistik asuransi hidup dan sebagainya. Indikasi tujuan teori sistem umum, adalah sebagai berikut :

1.Ada tendensi umum melalui integrasi dalam berbagai ilmu alam dan sosial.

2.Beberapa integrasi nampaknya menjadi pusat dalam teori sistem umum.

3.Beberapa teori mungkin menjadi penting untuk menuju pada teori eksak dalam bidang atau ilmu non fisika.

4.Mengembangkan prinsip kesatuan yang dijalankan secara vertikal melalui universalnya ilmu individu, teori ini membawa kita lebih dekat pada tujuan kesatuan ilmu.

5.Lebih mengarah pada dibutuhkannya integrasi dalam pendidikan ilmiah.

2.4. Sistem Terbuka dan Sistem Tertutup

Fisika konvensional berkenaan hanya dengan sistem tertutup, sistem tertutup, sistem yang terisolasi terhadap lingkungan. Dalam teori kimia fisis dijelaskan reaksi-reaksi, rata-rata dan kesetimbangan kimia yang ditetapkan dalam bejana tertutup dimana sejumlah reaktan dijadikan satu. Hukum termodinamika menyatakan bahwa hukum tersebut hanya diterapkan pada sistem tertutup saja. Sedangkan setiap organisme yang hidup pada dasarnya merupakan sistem yang terbuka.

Mereka mempertahankan diri dalam sebuah pemasukan dan pengeluaran yang berkesinambungan, pembangunan dan kerusakan komponen-komponen, tidak pernah selama hidupnya berada dalam kesetimbangan kimiawi dan termodinamis, tapi tetap berada dalam sebuah keadaan tetap yang berbeda jauh dengan keadaan sebelumnya. Perumusan fisika yang terjadi tidak dapat dipakai oleh organisme hidup dengan sistem terbuka dan keadaan tetap, dan kita juga bisa menduga bahwa karakteristik sistem kehidupan yang beraneka ragam berlawanan asas dalam pandangan hukum-hukum fisika yang merupakan sebuah konsekuensi dari fakta ini.

2.5. Hubungan Sebab Akibat dan Teleologi

Tujuan ilmu pengetahuan sepertinya menjadi analitis yaitu pemecahan realitas menjadi unit-unit yang lebih kecil dan isolasi deretan hubungan sebab akibat yang inidvidualis. Karakteristik ilmu pengetahuan modern yang dipolakan menjadi unit-unit yang dapat dijauhkan dari hubungan sebab akibat telah terbukti tidak mencukupi, oleh sebab itu kenampakan dalam semua bidang ilmu pengetahuan, gagasan seperti keseluruhan, holistik, organisme, gestalt dan sebagainya, semuanya menandakan bahwa kita harus berfikir dalam terminologi sistem-sistem elemen dalam interaksi satu sama lain.

Sama halnya, gagasan teologi dan petunjuk terlihat seperti di luar jangkauan ilmu pengetahuan dan menjadi tempat bermain bagi hal-hal yang misterius, supranatural, asing bagi ilmu pengetahuan pengalihan, pemusatan pikiran bagi para peneliti yang percuma pada alam yang diatur oleh hukum-hukum yang tidak jelas tujuannya

2.6. Beberapa Konsep Sistem.

Konsep sistem menyatakan bahwa sebuah sistem dapat ditetapkan sebagai sekumpulan elemen atau unsur yang berdiri di dalam interrelasi. Sistem dapat ditetapkan secara matematis dengan berbagai cara. Sebagai ilustrasi, dapat dipilih sistem dari persamaan-persamaan diferensial simultan. Tak ada pembicaraan masalah finalitas yang mendetail, tetapi dapat disampaikan tipe finalitas, antara lain :

  1. Teleologi statis, berarti bahwa persesuaian berguna bagi tujuan tertentu.

2. Teleologi dinamis, berarti kelangsungan proses-proses.

Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Analogis secara ilmiah mungkin kurang bermanfaat, namun homologis sebaliknya seringkali menghadirkan model-model bernilai, sehingga secara luas dapat diterapkan dalam fisika. Sementara secara filsafat, teori sistem umum dalam bentuk perkembangannya, akan menggantikan apa yang dikenal dengan teori kategori.

 2.7. Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan

Selanjutnya seluruh hasil utama penyajian sebagai Kestuan Ilmu Pengetahuan dapat kita rangkum sebagai berikut :

1. Analisis prinsip sistem umum memperlihatkan banyak konsep yang merupakan hasil dari definisi sistem atau hasil kondisi sistem tertentu.

2. Investigasi ini merupakan prasyarat bermanfaat yang berkaitan dengan masalah nyata dalam ilmu pengetahuan.

3. Investigasi sama pentingnya dengan filsafat ilmu pengetahuan.

4.   Fakta bahwa prinsip-prinsip diterapkan dalam sistem secara umum.

 Dari sudut pandang kita, Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan memang terbukti nyata pada saat yang sama juga merupakan aspek yang lebih kentara. Realita dalam gagasan modern merupakan suatu urutan hirarkhis yang besar dari entitas terorganisir, mencakup seluruh tingkat dari sistem fisika, kimia hingga biologi. Penjelasan teori sistem umum pada masa yang akan datang, akan menjadi langkah utama terhadap penyatuan ilmu pengetahuan, dan akan memainkan peranan sama dengan logika Aristoteles dalam ilmu pengetahuan antiquiti. Dalam ilmu pengetahuan modern, interaksi dinamis menjadi suatu masalah besar dalam seluruh bidang realita dan prinsip-prinsip umumnya harus ditetapkan dengan teori sistem.

 2.8. Elemen dalam sistem

Pada prinsipnya, setiap sistem selalu terdiri atas empat elemen:

•     Objek, yang dapat berupa bagian, elemen, ataupun variabel. Ia dapat benda fisik, abstrak, ataupun keduanya sekaligus; tergantung kepada sifat sistem tersebut.

•     Atribut, yang menentukan kualitas atau sifat kepemilikan sistem dan objeknya.

•     Hubungan internal, di antara objek-objek di dalamnya.

•     Lingkungan, tempat di mana sistem berada.

 

Ada beberapa elemen yang membentuk sebuah sistem, yaitu : tujuan, masukan, proses, keluaran, batas, mekanisme pengendalian dan umpan balik serta lingkungan. Berikut penjelasan mengenai elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem :

2.8.1. Tujuan

Setiap sistem memiliki tujuan (Goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali. Tentu saja, tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda.

2.8.2. Masukan

Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah, sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya permintaan jasa pelanggan).

 

2.8.3. Proses

Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien.

 

2.8.4. Keluaran

Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan, dan sebagainya.

2.8.5. Batas

Yang disebut batas (boundary) sistem adalah pemisah antara sistem dan daerah di luar sistem (lingkungan). Batas sistem menentukan konfigurasi, ruang lingkup, atau kemampuan sistem. Sebagai contoh, tim sepakbola mempunyai aturan permainan dan keterbatasan kemampuan pemain. Pertumbuhan sebuah toko kelontong dipengaruhi oleh pembelian pelanggan, gerakan pesaing dan keterbatasan dana dari bank. Tentu saja batas sebuah sistem dapat dikurangi atau dimodifikasi sehingga akan mengubah perilaku sistem. Sebagai contoh, dengan menjual saham ke publik, sebuah perusahaan dapat mengurangi keterbasatan dana.

2.8.6. Mekanisme Pengendalian dan Umpan Balik

Mekanisme pengendalian (control mechanism) diwujudkan dengan menggunakan umpan balik (feedback), yang mencuplik keluaran. Umpan balik ini digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan.

2.8.7. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar sistem. Lingkungan bisa berpengaruh terhadap operasi sistem dalam arti bisa merugikan atau menguntungkan sistem itu sendiri. Lingkungan yang merugikan tentu saja harus ditahan dan dikendalikan supaya tidak mengganggu kelangsungan operasi sistem, sedangkan yang menguntungkan tetap harus terus dijaga, karena akan memacu terhadap kelangsungan hidup sistem

 

2.9. Klasifikasi Sistem

Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem abstrak (abstract system) dan sistem fisik (phisycal system).

a. Sistem abstak adalaah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak tampak secara fisik.

b. Sistem fisik merupakan sistem yang ada secara fisik

 

2. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem alamiah (natural system) dam sistem buatan manusia (human made system).

a. Sistem alamiah adalah sistem yang terjadi melalui proses alam, tidak dibuat oleh manusia.

b. Sistem buatan manusia adalah sistem yang dirancang olenh manusia.

3. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertentu (deterministic system) dan sistem tak tentu (probalistic system).

a. Sistem tertentu beropersi dengan tingkah laku yang sudah diprediksi.

b. Sistem tak tentu merupakan sistem yag kondisi masadepannya tak dapat diprediksinya karena mengandung unsur probalitas.

 4. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertutup dan sistem terbuka.

a. Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak berhubungan dan tidak terpengaruh oleh lingkungan luarnya.

b. Sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dan tepengaruh oleh lingkungan luarnya.

 

2.9.1. Karakteristik Sistem

Suatu sistem mempunyai karakteristik atas sifat-sifat yang tertentu, yaitu memiliki:

1. Komponen Sistem

Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi yang artinya saling kerjasama membentuk suatu kesatuan.komponen-komponen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagian-bagian dari sistem.

2. Batasan Sistem

Batasan sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batasan sistem memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai suatu kesatuan dan menunjukan ruang lingkup dari sistem tersebut.

3. Lingkungan Luar Sistem

Lingkungan dari luar sistem adalah apapun diluar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem.

4. Penghubung Sistem

Penghubung merupakan media yang menghubungkan antara satu subsistem dengan subsistem lainnya.

5. Lingkungan Luar Sistem

Masukan sistem adalah energi yang dimasukan kedalam sistem. Masukan dapat berupa masukan perawatan (Maintenance Input) dan masukan sinyal (Sinyal Input). Maintenance input adalah energi yang dimasukan supaya sistem tersebut dapat berjalan,signal input adalah energi yang diproses untuk mendapatkan keluaran dari sistem.

6. Keluaran Sistem

Keluaran sistem adalah energi yang diolah dan diklasifikasi menjadi keluaran yang berguna. Keluaran dapat merupan masukan untuk subsistem yang lain.

7. Pengolahan Sistem

Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolahan atau sistem itu sendiri sebagai pengolahannya. Pengolahan yang akan merubah masukan menjadi keluaran.

8. Sasaran Sistem

Suatu sistem pasti mempunyai tujuan atau sasaran, jika suatu sistem tidak mempunyai sasaran maka sistem tidak akan ada. Suatu sistem yang berhasil bila mengenai sasaran atau tujuannya. Sasaran sagat berpengaruh pada masukan dan keluaran yang dihasilkan.

2.10. Praktek Teori Sistem dalam Managemen Pendidikan

Keseluruhan penjelasan di bawah ini dapat diaplikasikan dalam ranah managemen pendidikan. Oleh karena semuanya berkaitan maka managemen pendidikan mutlak membutuhkan penerapan teori sistem yang telah memiliki aspek filosofis yang tidak diragukan lagi. Sistem berguna dalam managemen pendidikan untuk menetapkan dan mencapai:

1.     Tujuan

Setiap perilaku atau kegiatan dari sebuah sistem senantiasa diorientasikan pada sebuah tujuan tertentu. Tujuan dari sebuah sistem adalah menciptakan sesuatu yang berharga, sesuatu yang bernilai. Catatan : Tujuan sistem bisa lebih dari satu , akan tetapi dari beberapa tujuan itu tetaplah ada tujuan utamanya.

2.     Batas

Sebuah konsep untuk memisahkan sistem tersebut dengan lingkungan dan memisahkan sistem tersebut dari sistem lain yang lebih luas atau besar.

3.Keterbukaan

Sistem biasa dibedakan dua macam yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dengan lingkungannya, komponen2 nya dibiarkan mengadakan hubungan keluar dari batas luar sistem. Sebaliknya sistem tertutup adalah sistem yang terisolasi dari segala pengaruh luar sistem itu sendiri. Dalam kenyataanya sebenarnya tidak ada sistem yang benar2 tertutup, karena komponen2 nya senantiasa dipengaruhi oleh berbagai kekuatan  yang ada dilingkungannnya. Karena itulah maka dapat disimpulkan pada hakekatnya sistem itu bersifat terbuka.

4.Struktur sistem – sub sistem

Suatu sistem terdiri dari beberapa subsitem atau bagian yang lebih kecil, dan biasa juga disebut unsur atau komponen. Istilah komponen bisa diartikan:

1. Bagian-bagian fisik,

2. Langkah-langkah/cara,

3. Sub sistem yang kedudukannya lebih rendah atau lebih kecil.

a.Kebulatan / keseluruhan (“wholisme”)

Sistem sebagai satu keseluruhan bukanlah sekedar kumpulan dari bagian-bagian, pemahaman ini melandasi konsep sinergi yaitu tindakan yang terpadu atau kompak. Sinergi berkaitan dengan kemampuan bagian-bagian atau komponen sistem untuk mencapai tujuan atau sasaran bersama secara bersama-sama dengan demikian kebulatan muncul. Tujuan yang tunggal dan jelas akan mempermudah bagian-bagian menjadi satu kebulatan yang padu, sementara beragam tujuan akan kearah konflik diantara sub sistem yang bisa mencerai beraikan bagian-bagian tersebut. Untuk menjaga kebulatan yang utuh dan padu diperlukan usaha menyeimbangkan tujuan-tujuan yang berbeda, meyeimbangkan bagian-bagian dan lingkungannya. Dari sini tersirat keharusan untuk lebih mendahulukan kepentingan sistem secara keseluruhan dibandingkan kepentingan khusus anggota atau bagian.

b.Saling hubungan

Konsep saling hubungan mencerminkan adanya interaksi dan saling ketergantungan diantara berbagai bagian atau komponen sistem dan antara sistem dan lingkungan.

c.Proses tranformasi

Setiap sistem yang terbuka merupakan tempat mengolah, memproses, mengubah, mentranformasikan bahan2 yang disebut masukan (input) menjadi sesuatu yang bisa disebut keluaran (output). Dengan model seperti diatas dimungkinkan untuk melakukan analisis hasil akhir maupun analisis proses.

d.Mekanisme kontrol, penyesuaian  dan pengaturan diri.

Karena sistem mempunyai sifat terbuka dan saling hubungan antara bagiannya maka sistem akan tanggap terhadap keadaan atau tuntutan baik yang berasal dari bagian-bagiannya (internal) ataupun dari lingkungan (eksternal). Dengan kata lain sistem itu haruslah mampu mengatur dirinya sendiri dan mampu menyesuaikan dirinya dengan kondisi lingkungan maupun kondisi internal sistem.

Sistem adalah  kumpulan bagian-bagian yang memiliki keterhubungan yang bulat dan utuh bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu

Tujuan menggunakan pendekatan sistem dalam memahami realitas

  1. Memahami realitas secara holistik/menyeluruh/integral
  2. Mengetahui bagian-bagian /unsur pembentuk dalam sebuah realitas tertentu.
  3. Memahami keterkaitan antara masing-masing bagian dalam rangka mencapai tujuan.
  4. Mengetahui hal-hal yang memberikan pengaruh terhadap sebuah realitas sistem.
  5. Mengetahui hubungan sebab akibat dalam realitas sistem.

 

 III

KESIMPULAN

Teori Sistem Umum sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin ilmu tidak muncul begitu saja tetapi melalui perjalanan yang panjang dengan bantahan-bantahan yang muncul dan bersifat menentang karena pada waktu itu ilmu fisika dan kimia dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu sosial. Masalah sistem itu penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan.

Hal ini seharusnya diungkapkan pertama kali berawal dari ilmu-ilmu metafisik dan pertama kali diperkenalkan oleh Von Bertalanffy melalui bukunya General System Theory pada tahun 1928 dan merupakan awal konsep untuk memandang dan memecahkan masalah secara integral dan holistik. Memecahkan masalah hanya dengan satu ilmu pada waktu itu sudah tidak memadai, sehingga General System Theory sangat populer dan diakui oleh dunia Teori sistem umum juga sering diidentifikasi dengan teori cibernetika, sebagai sebuah teori pengendalian mekanis dalam teknologi dan alam, didirikan pada pengertian informasi dan feedback.

Isomorfisme dalam Ilmu Pengetahuan, bermaksud menunjukkan tujuan umum dan beberapa konsep umum dari teori sistem umum. Pada kasus yang sederhana, tujuan isomorfisme telah dapat dilihat seperti pada hukum eksponensial maupun hukum logistik. Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Sementara model organisme sebagai sistem terbuka telah terbukti bermanfaat dalam penjelmaan dan perumusan matematika berbagai fenomena hidup. Model ini juga menghasilkan masalah-masalah alam yang fundamental. Di sisi lain, teori sistem dalam psikologi dan psikiatri bukanlah penemuan baru yang harus dikontradiksikan. Konsep sistem adalah pembalikan teori robotik secara radikal. Dalam kondisi tertentu sistem terbuka mendekati suatu kondisi yang bebas waktu yang disebut sebagai kondisi tetap/mantap.

Dari pemikiran Bertalanffy tentang hal tersebut di atas jelas Bertalanffy mengemukakan pemikirannya tentang General System Theory yang telah berjasa dalam menghilangkan jurang pemisah antara ilmu-ilmu eksak dengan ilmu sosial. Masyarakat dunia semakin sadar bahwa dibutuhkan kesatuan dalam ilmu pengetahuan untuk mengatasi permasalahan yang muncul di belahan dunia manapun.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bertalanffy, L.V, 1968, General System Theory: Foundations, Development, Aplications, New York, George Braziller

 

Hersey, Paul dan Kenneth H. Blancard, 1995, Manajemen Perilaku Organisasi : Pendayagunaan Sumber Daya Manusia, Penerj. Agus Dharma, Edisi 4, Jakarta: Erlangga

Indrajit, Eko R, 2001, Analisis dan Perancangan Sistem Berorientasi Object. Bandung, Informatika.

 

About these ads