PENGARUH KONDISI SOSIAL BUDAYA TERHADAP PENDIDIKAN DAN PERANAN PENDIDIKAN DALAM PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN NASIONAL

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  1. Manusia sebagai makhluk sosial, tidak dapat hidup secara individu, selalu berkeinginan untuk tinggal bersama dengan individu-individu lainnya. Keinginan hidup bersama ini terutama pada aktivitas hidup yang berhubungan dengan lingkungannya. Dalam menjawab tantangan alam, manusia saling berhubungan satu dengan yang lain, sehingga suatu masyarakat dan aturan yang menyebabkan suatu hubungan antar individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Adanya norma-norma, adat istiadat, kepercayaan dalam suatu masyarakat, semuanya berhubungan dengan keseimbangan. Agar tercipta suatu hubungan yang serasi, baik dalam pengelolaan alam maupun dalam hubungan sosial. Melihat hubungan tersebut maka kebudayaan menjadi mekanisme kontrol bagi kelakuan manusia. Adanya tantangan alam dan respon masyarakat, mengakibatkan kehidupan ini berkembang menjadi masyarakat menjadi dinamis. Setiap saat timbul berbagai pemikiran untuk memberikan respon terhadap tantangan alam tersebut. Dinamika masyarakat memberikan kesempatan kebudayaan untuk berkembang. Secara singkat dapat dikatakan bahwa tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat, dan tidak ada masyarakat tanpa kebudayaan sebagai wadah pendukung. Sehingga dapat dikatakan bahwa kebudayaan dan masyarakat merupakan satu kesatuan sistem.
  1. Pendidikan di sekolah bukan hanya ditentukan oleh usaha murid secara individual atau berkat interaksi murid dan guru dalam proses belajar-mengajar, melainkan juga oleh interaksi murid dengan lingkungan sosialnya dalam berbagai situasi sosial yang dihadapinya di dalam maupun diluar sekolah. Anak itu berbeda-beda bukan hanya karena berbeda bakat atau pembawaannya akan tetapi terutama karena pengaruh lingkungan sosial yang berlain-lainan. Ia datang kesekolah dengan membawa kebudayaan rumah tangganya, yang mempunyai corak tertentu, bergantung antara lain pada golongan atau status sosial, kesukuan,agama, nilai-nilai dan aspirasi orang tuanya. Di sekolah ia akan memilih teman, kelompok,yang ada pada suatu saat akan sangat mempengaruhi tingkah lakunya. Selanjutnya anak dipengaruhi oleh kepala sekolah dan guru-guru, yang masing-masing mempunyai kepribadian sendiri-sendiri yang antara lain terbentuk atas golongan sosial dari mana ia berasal dari orang-orang yang dipilihnya sebagai kelompok pergaulannya.
  1. Pendidikan dapat di pandang sebagai sosialisasi, yang terjadi dalam interaksi sosial. Oleh karena itu sudah sewajarnya seorang pendidik harus berusaha menganalisa lapangan pendidikan dari segi sosiologi, mengenai hubungan antara manusiawi dalam keluarga di sekolah, diluar sekolah,dalam masyarakat dan sistem-sistem sosialnya. Selain memandang anak sebagai makhluk sosial, sebagai anggota dari berbagai macam lingkungan sosial.
  1. Kondisi sosial budaya suatu masyarakat akan berpengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan disuatu daerah, tempat dimana manusia hidup, sedang pendidikan memiliki peranan penting dalam mengembangkan dan memajukan kebudayaan dari suatu bangsa, termasuk dalam hal ini bangsa Indonesia, keduanya akan saling sinergi dan saling melengkapi menuju peningkatan kemajuan peradaban dan budaya bangsa Indonesia.
  1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahnya adalah :

  1. Bagaimana pengaruh kondisi sosial budaya terhadap pendidikan ?
  2. Bagaimana peranan pendidikan dalam pembangunan kebudayaan nasional ?
  3. Pengaruh Kondisi Sosial Budaya Terhadap Pendidikan
  1. Pelaksanaan pendidikan sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan antara lain aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan di suatu negara. Salah satu aspek yang menjadi pembahasan dalam naskah ini adalah pengaruh kondisi sosial budaya terhadap pendidikan.

Kondisi sosial budaya dalam kehidupan masyarakat tentu akan berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan. Kondisi sosial budaya masyarakat tersebut dipengaruhi oleh kondisi geografis, demografis, ekonomi, sumber daya alam serta adat istiadat dan peradaban yang telah ada dalam masyarakat itu. Masyarakat agraris dengan masyarakat industri akan berbeda paradigma dan cara pandangnya dalam menyikapi masalah pendidikan, demikian juga kondisi masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan tentu akan berbeda pendekatan dan kebutuhannya dalam memenuhi kebutuhan pendidikannya. Masyarakat yang sudah maju cara berfikirnya dengan masyarakat yang masih terbelakang cara berfikirnya juga akan berbeda dalam menyikapi terhadap kebutuhan akan pendidikan.

  1. Kondisi sosial budaya masyarakat akan mempengaruhi terhadap kualitas penyelenggaraan dan hasil pendidikan. Beberapa contoh yang dapat digambarkan sebagai suatu kondisi sosial budaya yang memperngaruhi pendidikan misalnya: Modernisasi di barat, bukan hanya menawarkan mekanisasi produksi untuk meningkatkan hasil ekonomi. Akan tetapi membawa paradigma mekanistik dalam memandang manusia dalam penyelenggaraan pendidikan. Sering kondisi sosial budaya barat dapat mengantarkan manusia pada jurang dehumanisasi, dimana akar spiritual dikesampingkan pada sisi kemanusiaan. Sementara disisi lain, berdasar logika oposisi modern-tradisional, maju dari terkebelakangan, barat-timur, rasional-irasional dan dikotomi lainnya, budaya barat memposisikan non barat sebagai terkebelakang dan mesti dimodernisasi. Dari pintu inilah, westernisasi membonceng di modernisasi. Sehubungan dengan dehumanisasi yang diakibatkan oleh modernisasi dan westernisasi, Maurice Borrmans dalam sumbangan tulisannya pada buku Dialektika Peradaban (2002:108) berkomentar: Dengan penyalahgunaan rasionalisme dan sekularismenya, Barat cenderung melakukan perbaikan kondisi kemanusiaan, kosong dari ajaran spiritual.

Sehubungan dengan hal ini, kita dapat menarik pendapat sementara bahwa, kebudayaan yang tidak berakar pada konsepsi makro kosmos dan keseimbangan semesta maka akan mengalami dehumanisasi dan mengantarkan manusia pada jurang kehancuran. Dalam buku Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya (2003:137), Alo Liliweri mengatakan :

…setiap kebudayaan harus memiliki nilai-nilai dasar yang merupakan pandangan hidup dan sistem kepercayaan dimana semua pengikutnya berkiblat. Nilai dasar itu membuat para pengikutnya melihat diri mereka ke dalam, dan mengatur bagaimana caranya mereka keluar. Nilai dasar itu merupakan filosofi hidup yang mengantar anggotanya ke mana dia harus pergi…

  1. Melihat kebudayaan masyarakat Indonesia, maka kita akan menemukan nilai-nilai luhur yang begitu tinggi. Akan tetapi disisi lain, kita juga akan menemukan beberapa hal yang sudah tidak relevan lagi. Menjadi pertanyaan bagi kita semua hari ini adalah, bagaimana melakukan pemilahan terhadap kebudayaan kita sehingga hal-hal yang tidak relevan, ditinggalkan dan hal-hal yang masih relevan tetap dipertahankan. Pertanyaan ini juga berlaku untuk kebudayaan asing yang juga harus dipilah. Sehingga kebudayaan asing yang relevan, dapat kita serap dan kebudayaan asing yang tidak relevan dapat kita tolak.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kondisi sosial budaya dan tingkat kemajuan peradaban masyarakat akan mempengaruhi perkembangan pendidikan pada umumnya.

  • Peranan Pendidikan dalam Pembangunan Kebudayaan Nasional
  1. Pendidikan dan kebudayaan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Salah satu prinsip pendidikan dalam Sisdiknas adalah bahwa Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, artinya bahwa pendidikan berperan penting dalam melakukan proses untuk pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung selama hidup. Makna pembudayaan ini antara lain adalah pendidikan harus mampu menginternalisasi, mensosialisasikan dan memberikan pemahaman dan pembentukan nilai-nilai budaya yang ada di bangsa kita.

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia secara manusiawi, disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi sosialnya.

Kebudayaan berkembang dari waktu ke waktu karena kemampuan belajarmanusia Tampak disini bahwa kebudayaan itu selalu bersifat historis, artinya proses yang selalu berkembang.

Kebudayaan bersifat simbolik, sebab kebudayaan bersifat ekspresi, ungkapankehadiran manusia. Suatu ekspresi manusia, kebudayaan ini tidak sama denganmanusia. Kebudayaan disebut simbolik, sebab mengekspresikan manusia dan segalaupayanya untuk mewujudkan dirinya.

Kebudayaan adalah sistem pemenuhan berbagai kebutuhan manusia. Tidak seperti hewan, manusia memenuhi segala kebutuhannya dengan cara-cara yang beradab, atau dengan cara-cara manusiawi.

Menurut Kerber dan Smith (Imran Manan, 1989) menyebutkan ada 6 fungsi utama kebudayaan dalam kehidupan manusia yaitu :

  1. Penerus keturunan dan pengasuh anak
  2. Pengembangan kehidupan ekonomi
  3. Transmisi budaya
  4. Meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  5. Pengendalian sosial
  6. Rekreasi
  1. Peranan Pendidikan dalam kebudayaan

Brameld telah menulis bukunya mengenai “Cultural Foundation of Education (1957)”. Dan banyak lagi tulisan-tulisan lainnya yang menempatkan betapa peranan pendidikan di dalam proses membudaya.

Peranan pendidikan di dalam kebudayaan dapat kita lihat dengannyata di dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar  jumlah dari kepribadian-kepribadian. Di dalam hal ini kita kenal mengenaiiteori superorganik kebudayaan dari Kroeber. Namun demikian, teori Kroeber tersebut tidak seluruhnya dapat diterima. Para pakar antopologi, juga antropologi pendidikan menunjuk kepada peranan individu bukan hanya sebagai bidak-bidak di dalam papan catur kebudayaan. Individu adalah kreator dan sekaligus manipulator dari kebudayaannya. Di dalam pengembangan kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaan akan dapat berkembang melalui kepribadian-kepribadian tersebut. Inilah yang disebut sebab-akibat sirkuler antara kepribadian dankebudayaan. Pranata sosial yang disebut sekolah harus kondusif untuk dapat mengembangkan kepribadian yang kreatif

Ruth Benedict menyatakan bahwa kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah diturunkan seperti tingkah laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi. Di sini kita lihat betapa pentingnya peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia. Para ahli psikologi behaviorisme melihat kelakuan manusia sebagai suatu rekasi dari rangsangan dari sekitarnya. Di sinilah peranan pendidikan didalam pembentukan kelakuan manusia. John Gillin menyatukan pandangan behaviorisme dan psikoanalis mengenai perkembangan kepribadian manusia sebagai berikut:

  1. kebudayaan memberikan kondisi yang disadari dan yang tidak disadari untuk belajar
  2. kebudayaan mendorong secara sadar ataupun tidak sadar akan reaksi-reaksi kelakukan tertentu. Jadi selain kebudayaan meletakkan kondisi yang terakhir ini kebudayaan merupakan perangsang-perangsang untuk terbentuknya kelakuan-kelakuan tertentu
  3. kebudayaan mempunyai sistem “reward and punishment ” terhadap kelakuan-kelakuan tertentu.

Setiap kebudayaan akan mendorong suatu bentuk kelakuan yang sesuai dengan sistem nilai dalam kebudayan tersebut dan sebaliknya memberikan hukuman terhadap kelakuan-kelakuan yang bertentangan atau mengusik ketentraman hidup suatu masyarakat tertentu

  1. kebudayaan cenderung mengulang bentuk-bentuk kelakuan tertentu melalui proses belajar.

Pada dasarnya pengaruh tersebut dapat dilukiskan sebagai berikut :

  1. Kepribadian adalah suatu proses. Seperti yang telah kita lihat kebudayaan juga merupakan suatu proses. Hal ini berarti antarapribadi dan kebudayaan terdapat suatu dinamika.
  2. Kepribadian mempunyai keterarahan dalam perkembangannya untuk   mencapai suatu misi tertentu. Keterarahan perkembangan tersebut tentunya tidak terjadi di dalam ruang kosong tetapi di dalam suatu masyarakat manusia yang berbudaya.
  3. Dalam perkembangan kepribadian salah satu faktor penting ialah Manusia tanpa imajinasi tidak mungkin mengembangkan kepribadiannya. Hal ini berarti apabila seseorang hidup terasing seorang diri tnapa lingkungan kebudayaan maka dia akan memulaidari nol di dalam pengembangan kepribadiannya.
  4. Kepribadian mengadopsi secara harmonis tujuan hidup di dalam masyarakat agar ia dapat hidup dan berkembang. Yang paling efisien adalah dia secara harmonis menacri keseimbangan antara tujuan hidupnya dengan tujuan hidup dalam masyarakatnya.
  5. Di dalam pencapaian tujuan oleh pribadi yang sedang berkembang itu dapat dibedakan antara tujuan dalam waktu yang dekat dan tujuan dalam waktu yang panjang.
  6. Learning is a goal teaching behaviour.
  7. Dalam psiko analisis antara lain dikemukakan mengenai peranan super ego dalam perkembangan kepribadian. Super ego tersebut tidak lain adalah dunia masa depan yang ideal.
  8. kepribadian juga ditentukan oleh bawah sadar manusia. Bersama-sama dengan ego, beserta id, keduanya merupakan energi yang adadi dalam diri pribadi seseorang. Energi tersebut perlu dicarikan keseimbangan dengan kondisi yang ada serta dorongan super ego yang diarahkan oleh nilai-nilai budaya. Bidney menyatakan bahwa individu bukan pemilik pasif dari nilai-nilai sosial budaya tetapi jugaaktif di dalam menciptakan dan mengubah kebudayaannya. Salah satu proses yang luas dikenal mengenai kebudayaan adalah transmisi kebudayaan. Artinya kebudayan itu ditransmisikan dari satugenerasi kepada generasi berikutnya. Bahkan banyak ahli pendidikan yang merumuskan proses pendidikan tidak lenih dari proses transmisi kebudayaan. Manusia atau pribadi adalah aktor dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Dengan demikian kebudayaan bukanlah suatu “entity ” yang statis tetapi sesuatu yang tersu menerus berubah.
  1. Sekolah sebagai Pusat Kebudayaan

Manusia dan kebudayaan adalah ibarat dua sisi dari satu mata uang. Manusia membentuk kebudayaan, dan kebudayaan menentukan kualitas kehidupan manusia. Kita telah memahami mengenai tahap perkembangan kebudayaan yang dimulai dari usage, mores, folkways hingga customs yang membentuk aturan bagi tata cara perilaku manusia sebagai individu dan manusia sebagai anggota masyarakat.

Pendidikan merupakan salah satu proses dasar pembentukan budaya, dan karena itu disebut sebagai centre of culturalization. Pusat pembudayaan. Pembahasan tentang karakter, etos, patos dan logos merupakan bagian yang integral dalam proses pembudayaan. Logos menentukan etos, etos membangun patos yang menyata dalam perilaku sehari-hari yang kemudian membentuk budaya.

Mempelajari dan memperhatikan sekolah sebagai pusat kebudayaan diharapkan akan memperoleh berbagai manfaat sebagai berikut :

  1. sebagai guru/dosen dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah dimana ia bekerja dan memperoleh nafkah serta mendarmabaktikan dirinya  pada kehidupan. Sebagai pusat pembudayaan maka sebagaimana dirintis oleh negara-negara maju universitas sejatinya merupakan city of intelectual. Lingkungan sekolah yang bercirikan akademik dan intelek hanya dibangun dalam suasana yang khas akademis. Lingkungan pendidikan harus dihuni oleh insan yang berkecimpung dalam bidang pendidikan, dan semua yang mendiami kawasan tersebut adalah mereka yang bekerja untuk universitas atau perguruan tinggi.
  2. sebagai guru/dosen dapat membantu para peserta didik agar dapat menghayati bahwa lingkungan sekolah adalah pusat kebudayaan, bekal-bekal untuk menciptakan lingkungan sekolah pada tempat mereka bekerja nanti, dapat juga merupakan pusat kebudayaan yang bermanfaat bagi lingkungan sosialnnya dan lingkungan kemanusiaan. Ideal ini hanya dapat diwujudkan bila para dosen dan mahasiswa berada pada satu titik yang sama, dengan demikian interaksi intelektual dapat berlangsung secara terus menerus sehingga menjadi budaya. Budaya intelektual itulah yang memungkinkan manusia hidup dan berkembang serta tercabut dari akar budayanya masing-masing. Hal ini penting karena pendidikan sejatinya harus mengantar manusia menuju akhlak mulia dan terbebas dari lokalitas masing-masing individu.
  3. Agar dapat berperan secara aktif dalam mewujudkan sekolah sebagai pusat kebudayaan, maka beberapa hal perlu dilakukan oleh para pendidik, beberapa hal tersebut antara lain :
  • Setiap pendidik hendaknya bersikap inovatif serta peka terhadap perkembangan dan tuntutan masyarakat, terutama dalam era globalisasi. Antara pendidik dan peserta didik dibutuhkan keberanian dan kemauan untuk terus menerus melakukan inovasi.
  • Pendidik harus mampu membelajarkan peserta didiknya dengan menciptakan suasana belajar yang menarik. Suasana yang menyenangkan membawa peserta didik untuk masuk ke dalam suasana joy of learning. (Soedjarto, 2000: 70)
  • Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut dengan baik, pendidik hendaknya telah menguasai dan mengoperasikan kompetensi profesionalnya. Untuk mencapai kriteria profesional tidak terlepas juga dari proses pendidikan. Proses pendidikan mempersiapkan para pendidik untuk menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan profesional.
  • Pendidik hendaknya dapat menjadi teladan bagi para peserta didik serta warga masyarakat sekitarnya dalam rangka menciptakan sekolah sebagai pusat Pendidikan sebagai proses pembiasaan dan pembudayaan tidak pernah terlepas dari peran sentral para pendidik. Hasil yang maksimal dapat terwujud jika pertemuan yang intens dan berkelanjutan antara pendidik dan peserta didik terjadi pada satu titik city of intelectual.
  • Pendidik hendaknya mampu menumbuh kembangkan kesadaran para peserta didiknya agar selalu ingin belajar, baik di sekolah maupun diluar sekolah. Hal ini berkaitan dengan kemampuan, kemauan dan tanggung jawab dari para pendidik untuk membawa para peserta didik untuk masuk ke dalam kondisi joy of learning karena guru atau pendidik berhasil menciptakan semangat active learning (Soedijarto, 2000: 70).
  1. Sekolah dan Perubahan Masyarakat.

Keberadaan sekolah adalah berdasar pada pertimbangan atau atas dasar anggapan dan kenyataan bahwa pada umumnya para orang tua tidak mampu mendidik anak mereka secara sempurna dan lengkap.

Karena itu mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk mendidik anak-anak mereka. Dengan sekolah mereka berharap ia mengalami perubahan dalam kehidupannya baik untuk memperoleh pekerjaannya yang baik maupun untuk meningkatkan derajat hidup dan prestise di dalam masyarakat. Oleh karenanya banyak orang yang sekolah sampai ketingkat yang lebih tinggi.

Sekolah yang mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan. Anak yang menamatkan sekolah diharapkan sanggup melakukan pekerjaan sebagai mata pencarian atau setidaknya mempunyai dasar untuk mencari nafkahnya. Makin tinggi pendidikan makin besar harapannya memperoleh pekerjaan yang baik. Ijazah masih dijadikan syarat penting untuk suatu jabatan. Walaupun ijazah itu sendiri belum menjamin kesiapan seseorang untuk melakukan pekerjaan tertentu. Akan tetapi dengan ijazah yang tinggi seorang dapat memahami dan menguasai pekerjaan kepemimpinan atau tugas lain yang dipercayakan kepadanya. Memiliki ijazah perguruan tinggi merupakan bukti akan kesanggupan intelektualnya untuk menyelesaikan studinya yang tidak mungkin dicapai oleh orang yang rendah kemampuannya. Sekolah yang ditempuh seseorang banyak menentukan pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang.

  1. Sekolah memberikan keterampilan dasar. Orang yang telah bersekolah setidak-tidaknya pandai membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam tiap masyarakat modern. Selain itu diperoleh sejumlah pengetahuan lain seperti sejarah, geografi, kesehatan, kewarganegaraan, fisika dan lain-lain yang membekali anak untuk melanjutkan pelajarannya, atau memperluas pandangan dan pemahamannya tentang masalah-masalah dunia.
  2. Sekolah yang membuka kesempatan memperbaiki nasib. Sekolah sering dipandang jalan bagi mobilitas sosial. Melalui pendidikan orang dari golongan rendah dapat meningkat ke golongan yang lebih tinggi. Orang tua mengharapkan agar anank-anak mempunyai nasib yang baik dan karena itu berusaha untuk menyekolahkan anaknyajika mungkin sampai memperoleh gelar dari suatu perguruan tinggi, walaupun sering dengan pengorbanan besar mengenai pembiayaan.
  3. Sekolah menyediakan tenaga pembangunan. sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.
  4. Masalah-masalah sosial diharapkan dapat diatasi dengan mendidik generasi muda untuk mengelakkan atau mencegah penyakit-penyakit sosial seperti kejahatan, pertumbuhanpenduduk yang melewati batas, pengrusakan lingkungan,kecelakaan lalu lintas, narkotika dan
  5. Sekolah mentransmisi dan menstraformasi kebudayaan.

Proses transmisi meliputi proses-proses imitasi, identifikasi dansosialisasi. Imitasi adalah meniru tingkah laku dari sekitar. Pertama-tamatentunya imitasi di dalam lingkungan keluarga dan semakin lama semakinmeluas terhadap masyarakat lokal. Transmisi unsur-unsur tidak dapatberjalan dengan sendirinya. Seperti telah dikemukakan manusia adalah aktor dan manipulator dalam kebudayaannya. Oleh sebab itu, unsur-unsur tersebutharus diidentifikasi. Proses identifikasi itu berjalan sepanjang hayat.

  1. Sekolah membantu manusia secara sosial.

Kebudayaan lahir dari pengetahuan logika (benar-salah), etika (baik-buruk) dan estetika (indah-jelek) suatu kelompok manusia yang kemudian dibiasakan dari generasi ke generasi. Tiap suku, kaum atau komunitas, membangun kebudayaannya masing-masing selama beberapa generasi. Lebih lanjut, Prof Dr. Irwan Abdullah dalam bukunya Konstruksi dan Reproduksi kebudayaan (2006:51) menegaskan :

Kebudayaan bagi suatu masyarakat bukan sekedar sebagai frame of reference yang menjadi pedoman tingkah laku dalam berbagai praktik sosial, tetapi lebih sebagai “barang” atau materi yang berguna dalam proses identifikasi diri dan kelompok. Sebagai kerangka acuan kebudayaan telah merupakan serangkaian nilai yang disepakati dan yang mengatur bagaimana sesuatu yang bersifat ideal diwujudkan.

Kebudayaan ini berkembang sebagai hasil interaksi manusia dengan sesama manusia, dengan alam sekitar dan dengan penciptanya (perkecualian untuk budaya materialisme barat yang tidak berurusan dengan Tuhan)

Revitalisasi kebudayaan dan kesejarahan tentu kita tidak bebankan hanya pada sektor pendidikan formal dengan penjenjangannya (Pendidikan Dasar, Menengah dan Tinggi) semata. Tapi juga pendidikan Informal dan Non Formal. Disinilah pentingnya agar semua pihak dapat bekerja sama dan bersinergi untuk merevitalisasi kebudayaan dan kesejarahan. Di lain sisi pihak pengambil kebijakan sehubungan dengan pendidikan dapat mentransformasikan nilai-nilai tersebut melalui pendidikan formal.

Sebagai pusat pembudayaan masyarakat, sekolah berfungsi membangun warga negara yang cerdas dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup bangsa. Dalam penilaian Soedijarto, dengan kondisi pendidikan nasional yang masih timpang antara daerah yang satu dan lainnya, maka evaluasi pendidikan melalui sistem ujian nasional tidak tepat. Pemerintah perlu melakukan koreksi total terhadap penyelenggaraan pendidikan nasional dan akreditasi tingkat kelayakan sekolah di seluruh Indonesia. Pemerintah juga harus menyusun program dan melaksanakannya secara konsisten untuk memenuhi standar nasional pendidikan dengan urutan prioritas: guru, sarana dan prasarana, isi dan proses, penilaian, pembiayaan, pengelolaan serta kompetensi lulusan. (Soedijarto, 2000: 53)
Kesimpulan

Pendidikan sebagaimana digariskan oleh UNESCO sejatinya harus berangkat dari empat pilar pembelajaran yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Jika keempat pilar ini sungguh-sungguh diperhatikan dan dikembangkan dan dibudayakan oleh para pelaku pendidikan maka apa yang disebutkan dalam pepatah Latin, non scolae sed vitae discimus (sekolah bukan untuk mendapatkan nilai, tetapi untuk kehidupan) akan terwujud. Inilah bagaian dari kebudayaan. Oleh karena itu proses pendidikan harus menjadi proses pembudayaan perilaku dan karakter yang mulia dan membuat manusia tercabut dari akar budaya yang penuh dengan perbedaan dan keunikan yang bahkan saling bertentangan.

Dalam kaitan dengan pembahasan mengenai pengaruh kondisi sosial budaya terhadap perkembangan pendidikan dan pembangunan bangsa maka berikut adalah beberapa hal yang perlu ditegaskan.

  1. Kondisi Sosial budaya sangat berperan dalam proses pendidikan oleh karena itu kita sebagai anggota masyarakat perlu memberi dukungan yang positif agar pendidikan menjadi agen pembangunan di masyarakat.
  2. Agar hidup manusia sebagai bagian dari masyarakat menjunjung tinggi nilai-nilai sosial budaya maka dibutuhkan komitmen dan upaya terus-menerus secara bersama-sama bertanggung jawab menjadikan pendidikan sebagai upaya pembentukan budaya atau mewujudkan pendidikan sebagai pusat pembudayaan.

Jadi, pendidikan sesungguhnya merupakan upaya yang hasilnya baru dapat dilihat dalam rentang waktu yang cukup panjang, seiring perkembangan peradaban manusia. Apalagi, mengurus pendidikan tidaklah mudah, khususnya di dalam negara besar dan beragam seperti Indonesia. Pengambilan keputusan yang didasarkan atas pengaruh politik praktis dan kepentingan jangka pendek mutlak dihindarkan.

DAFTAR PUSTAKA

Almond, Gabriel and Sidney Verba, (1965), The Civic Culture: Political Attitudes and Democracy in Five Nations, Boston and Toronto: Little, Brown and Company

Soedijarto, (2000), Pendidikan sebagai Wahana Mencerdasakan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara Bangsa, Jakarta: CINAPS.

Soedijarto, (2008), Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita, Jakarta Penerbit Kompas

Ary H.,G.,(2000). Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Tentang Berbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Carnoy Martin and Henry M Levin, (1976) The Limits of Educational Reform, New York: Cavid McKay Company, Inc.

Nasution S., (1999). Sosilogi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Pidarta, Made. (1997). Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Rafael R. M, (2004). Manusia & dan Kebudayaan dalam Prespektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineke Cipta.

Rusfida (2002), “Peranan Pendidikan Tinggi Jarak Jauh untuk Mewudukan Knowledge Based Society, Jurnal Pendidkan dan Kebudayaan, Jakarta: Badan Peneltiaan dan Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional

Salam, Burhannudin. (2002). Pengantar Paedagogik. Jakarta: Rineka Cipta

Abdullah, Irwan. (2006) “Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan” – Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Hutington, Samuel, (2005) “Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia” – . Yogyakarta: Qalam

Kambie, A.S, (2003) “Akar Kenabian Sawerigading: Tapak Tilas Jejak Ketuhanan Yang Esa Dalam Kitab I Lagaligo (Sebuah Kajian Hermeneutik)” –, Makassar: Parasufia

Liliweri, Alo, (2002) “Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya” Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muthari, Murtadha, (1999) “Manusia dan Sejarah” – . Jakarta: Penerbit Mizan

Rahmat, Jalaluddin, (2007) “SQ For Kids: Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini” – Bandung: Mizan

Suhendro, Bambang dkk, (2007) “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” – Jakarta: Binatama Raya

PILKADA,SUARA TUHAN DAN ETIKA POLITIK

Oleh

Don Bosco Doho,

Dosen Etika

STIKOM The London School of Public Relations-Jakarta

 

Rancangan Undang-Undang Pilkada tinggal menghitung hari untuk disahkan. Tarik ulur kepentingan mewarnai kiprah para anggota dewan yang terhormat. Pilkada langsung sebagai anak kandung demokrasi di era orde reformasi patut diterima sebagai kemajuan bagi demokrasi di Indonesia. Disebut kemajuan karena rakyat sebagai subyek demokrasi dapat menyalurkan suara mereka secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Perkara jujur dan adil adalah sisi lain yang masih tetap dicari pola yang dapat diterima oleh para pihak yang terlibat dalam pemilihan kepala daerah langsung tersebut.

Patut diakui bahwa Pilkada langsung yang telah diselenggarakan hampir 600-an kali di seluruh belahan NKRI belum sepenuhnya sempurna sebagaimana ideal dari para filsuf demokrasi. Para filsuf demokrasi yang telah mendengungkan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, vox populi vox dei tentu memiliki dasar pemikiran yang mulia. Selain itu suara rakyat memiliki otoritas yang tinggi, vox populi suprema lex. Sebab sesungguhnya demokrasi tanpa rakyat adalah nonsense. Pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat memang tetap akan menjadi slogan indah yang entah sampai kapan perwujudannya menjadi sempurna. Mungkin tetap akan menjadi utopiah demokrasi itu sendiri. Dalam kegamangan tersebut rakyat tetap selalu menjadi pelengkap penderita dalam setiap pesta demokrasi. Itu berarti tanpa rakyat, pesta demokrasi dalam level manapun tidak akan pernah ada. Pilkada langsung telah menghasilkan pemimpin lokal dan rakyat merupakan penentu langsung. Proses pilkada langsung hendaknya dipertahankan dan jangan sampai diambil alih oleh mereka yang mewakili rakyat alias DPRD. Pertanyaan pentingnya adalah apa betul suara DPRD adalah suara rakyat yang sesungguhnya atau merupakan representasi partai politik semata. Keraguan seperti ini tak pelak menimbulkan pro dan kontra.

Pada sisi yang lain, begitu fenomenalnya eksistensi rakyat maka para calon wakil rakyat selalu mencari simpati rakyat setiap kali hajatan demokrasi akan berlangsung. Melalui pemilu legislatif rakyat yang berdaulat memberikan suaranya untuk menghasilkan wakil mereka. Pada konteks ini, para calon wakil rakyat sesungguhnya sadar betul bahwa tanpa rakyat mereka bukanlah siapa-siapa. Di tataran ini para calon wakil rakyat sepaham bahwa mereka berasal dari rakyat dan nanti akan kembali ke rakyat juga. Akan tetapi berbagai pengalaman menunjukkan bahwa kesepahaman di atas justru berbanding terbalik ketika para calon wakil rakyat berhasil terpilih menjadi anggota dewan yang terhormat. Perilaku, kinerja dan keteladanan yang baik dan etis begitu jauh dari kenyataan. Fenomena ini layak dijadikan pelajaran berharga bagi seluruh anak bangsa. Secara etis setiap anggota DPR, DPRD, DPD merupakan pembawa amanah dan hati nurani rakyat dari daerah pemilihan mana mereka berasal. Maka wajar jika rakyat selalu menuntut perilaku etis termasuk ketika dihadapkan pada pilihan yang dilematis antara kepentingan partai dan kepentingan rakyat. Kini tarik ulur mengenai siapa yang paling berhak dalam pilkada langsung apakah rakyat atau DPRD merupakan ujian etika politik yang menentukan masa depan demokrasi di Republik ini.

Pelaksanaan pemilihan kepala daerah langsung tidak seluruhnya jelek dan merugikan rakyat. Terlepas dari pro dan kontra proses dan pelaksanaan pemilihan kepala daerah telah memberikan kontribusi bagi perkembangan ekonomi maupun sosok pemimpin yang didambakan oleh banyak orang. Pilkada dapat dianalogikan sebagai proses persemaian pemimpin lokal menuju pemimpin nasional yang berkarakter. Pilkada layak dijadikan sebagai ajang pendidikan politik. Kematangan pemimpin daerah dapat menjadi cikal bakal pemimpin nasional. Ibarat setiap pemain sepak bola yang bermimpi menjadi pemain tim nasional, dia perlu melewati liga-liga mulai dari divisi, divisi utama, liga super baru terpilih menjadi timnas setelah memiliki track record bertanding yang memadai, demikian pula halnya dengan pemimpin hasil pilkada langsung. Perlu dicatat dalam lembaran sejarah bahwa Pilkada telah menghasilkan pemimpin berkarakter dan kini tengah menunjukkan karakter kepemimpinan mereka. Sederet nama boleh disebut seperti Jokowi (Surakarta), Ahok (Belitung Timur), Tri Rismaharini (Surabaya), Ridwan Kamil (Bandung), Abdullah Azwar Anas (Banyuwangi), Bima Arya (Bogor) dan masih banyak lagi lainnya. Output dari pilkada tersebut adalah pemimpin yang memiliki karakter kepemimpinan yang unik namun dicintai oleh rakyat banyak. Di sini jelaslah perbedaan yang tegas antara leader dan politikus. Benarlah apa yang dikatakan oleh para ahli bahwa great leader think for the next generation, while politician think for the next election.

Dari perspektif etika politik, seyogyanya para wakil rakyat yang tengah berada di persimpangan untuk mengambil keputusan menempatkan suara rakyat sebagai suara Tuhan dan bukannya menempatkan kepentingan partisan meskipun atas nama alasan yang mulia dan rasional sekalipun. Anggota dewan yang terhormat bekerja berdasarkan hati nurani. Hati nurani tidak dapat dibohongi meskipun suaranya sangat senyap. Suara rakyat yang adalah suara Tuhan memang lamat-lamat kedengaran dengan telinga tetapi jika didengar dengan hati maka hasilnya akan berbuah manis bagi sang pemilik suara yang sebenarnya yaitu rakyat itu sendiri. Menjadi anggota DPR maupun DPRD merupakan panggilan pengabdian kepada Negara dan rakyat. Mereka dituntut untuk meninggalkan kepentingan diri/ kelompok, bebas dari berbagai bentuk intervensi politik kekuasaan atau pemilik modal. Panduan kerja mereka adalah memajukan kesejahteraan umum, memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat. Ketika ini menjadi tujuan maka motif mencari kekayaan diri, mencari relasi bisnis apalagi menjadi alat pemilik modal menjadi tertutup rapat. Anggota DPR dan DPRD dipersepsikan sebagai orang terhormat, disegani rakyat dan merupakan orang pilihan. Demi menjamin previledge ini para anggota dewan dinantikan untuk selalu menjadi sosok panutan yang prima, optima dan ultima. Ketiga faktor ini merupakan kualifikasi etis yang selalu relevan dengan profesi legislator. Tidak berlebihan jika Kode Etik Dewan Perwakilan Rakyat menggarisbawahi kedudukan sebagai wakil rakyat sebagai posisi yang mulia dan terhormat.

Hari-hari belakangan ini peran strategis anggota DPR sedang disorot oleh berbagai elemen anak bangsa. Sorotan tersebut terkait dengan argumentasi yang tengah dimainkan oleh anggota DPR mengenai urgensi pilkada langsung. Nyaris mayoritas anggota fraksi dari Koalisi Merah Putih menghendaki pilkada cukup diwakili oleh anggota DPRD saja. Argumentasi yang dibangun yakni jika pilkada langsung sebagai pesta politik berbiaya mahal, membudayakan money politics, menumbuhkan benih konflik vertical dan horizontal serta menelan korban harta bahkan nyawa, gagal menciptakan clean and good governance serta alasan sejenisnya, tidak lantas mempercayakan pilkada ke DPRD. Itu artinya buku lembaran sejarah yang dimulai halaman pertamanya pada Juni 2005 harus ditutup oleh para anggota dewan yang membawa amanat Tuhan melalui rakyat jelata. Entah kita ingin mundur ke orde-orde sebelumnya yang sudah sepakat ditinggalkan. Semoga para wakil rakyat yang adalah kumpulan orang-orang hebat tidak lupa membaca kembali Pasal 18 ayat (2) UUD 1945 dan Pasal 24 ayat (5) UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang mensyaratkan gubernur, bupati, wali kota dipilih secara demokratis. Demokratis lagi-lagi implisit mensyaratkan rakyat sebagai pemilik suara. Bukankah kedua undang-undang di atas masih berlaku atau belum dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Namun jika keputusan tetap dipaksakan maka para anggota dewan yang terhormat tersebut tengah memainkan sebuah kesesatan berpikir yang digolongkan sebagai argumentum ad baculum, dimana putusan diambil karena kekuasaan atau kedudukan bukan karena argument filosofis demokratis.

Bisa jadi mereka tengah lupa bahwa pilkada langsung adalah moment di mana rakyat merasakan proses penyaluran aspirasi yang sebenarnya. Demokrasi modern telah memberikan ruang yang luas bagi hak setiap warga Negara untuk memilih dan dipilih. Meskipun demokrasi, yaitu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat merupakan sistem pemerintahan terburuk di dunia, meminjam Winston Churchil, namun perlu disadari bahwa tidak ada lagi yang lebih bagus dari demokrasi. Anggota DPR adalah anak kandung dari demokrasi. DPR yang lahir dari praktek etika politik mesti merasa terdorong oleh moral obligation untuk tetap menjaga luhur dan mulianya suara Tuhan, yang salah satu pengejahwantahannya adalah memberikan kesempatan kepada rakyat untuk menyalurkan suara rakyat sebagai suara Tuhan melalui Pilkada langsung bukan melalui DPRD. Biarkan rakyat yang berdaulat memilih sesuai hati nuraninya. Anggota DPR perlu mendorong demokrasi melalui pilkada langsung oleh rakyat sang pemegang kedaulatan tertinggi. Kalau demikan praktek etika politiknya, niscaya dari anggota DPR yang beretika dari partai manapun mereka berasal akan mampu membawa Indonesia menjadi bigger, higher, better sebagai kiblat praktek demokrasi modern***.

MAKNA ETIS DARI SEBUAH PESAN

Ketika jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter menjadi akrab dalam kehidupan manusia modern maka ketika itu, nyaris tidak ada lagi batas antara ruang privacy dan ruang publik. Celakanya tidak semua pengguna dan penggandrung media jejaring sosial ini sadar untuk membedakan jarang yang hanya sekuku hitam tadi. Oleh karena itu sebelum pesan atau status terupdate melalui sekali ketukan Enter maka seorang pengguna sejatinya membaca ulang, mempertimbangkan dan merefleksikan apakah tulisan tersebut membawa manfaat ataukah bakal membawa petaka di detik-detik kemudian.

Bila orang menyadari sepenuhnya langkah awal ini maka sebetulnya sadar atau tidak pengguna tersebut sedang mempraktekkan etika dalam bermedia jejaring sosial.Judul di atas bunga terakhir merupakan judul asalan saja, ketika di sore ini, saya mengupdate status tersebut sesungguhnya saya sedang mendengarkan lagu Bunga Terakhir-nya Beby Romeo. Sedetik kemudian puluhan jempol dan komentar muncul. Lalu saya harus “mempertanggungjawabkan” apa maksud bunga terakhir pada status tersebut. Yang pasti ini bunga dalam makna konotatis bukan makna denotatif. (Bagi mahasiswa saya yang sedang belajar makna kata dalam Logika maka pasti kata ini dapat ditafsirkan dalam berbagai makna) Ada teman yang berkomentar, wah yang lagi galau nih….Ada yang lain menambahkan, siapa tuh bunga terakhir. Cei…leh yang lagi berbunga-bunga.

Saya paham bahwa teman-teman yang memberika komentar tadi berangkat dari asumsi yang terlanjur diterima umum bahwa pada sentuhan cinta semua orang menjadi penyair. Padahal tidak sepenuhnya benar juga. Karena ada yang tengah jatuh cinta justru tidak dapat berbicara dan berbuat apa-apa, alias tidak terungkapkan dengan kata-kata. Itulah pandangan yang dapat diperdebatkan benar-salahnya alias proposisi.

Padahal maksud status yang tertulis dengan tema Bunga Terakhir adalah sebuah kenangan akan orang-orang yang tercinta yang telah mendahului kita menuju haribaan sang Khalik. Mengapa justru hari ini? Ya….dalam tradisi Gereja Katolik tanggal 2 November setiap tahun diperingati sebagai hari untuk mengenangkan dan mendoakan arwah yang telah meninggal. Atas dasar inilah saya menulis status yang kemudian dimultitafsirkan oleh teman di jejaring sosial FB dan akun twitter saya.

Pengalaman menarik ini memberikan petuah bahwa tidak semua niat baik, suci bahkan mulia dapat diterima secara demikian oleh para penerima pesan tersebut. Dalam etika komunikasi ini dikenal dengan istilah filtering sebelum menyampaikan pesan. Kepintaran dalam filtering belum otomatis membuat makna diterima secara utuh dan semestinya oleh penerima pesan. Kebijaksanaan belum tentu dipahami sebagai kebijaksanaan pula. Apalagi bila dilakukan secara serampangan alias careless. Oleh karena itu penting untuk mempertimbangkan impact dari setiap pesan dalam jejaring sosial.

Kembali kepada tema Bunga Terakhir satu hal yang pasti bahwa kenangan kita kepada mereka yang tercinta dan telah menghadap yang Maharahim akan tetapi menjadi bunga yang indah yang menghiasi kehidupan kita. Maka tidak berlebihan jika sang penyanyi Inggris Sir Elton John menggambarkan kepergian Lady Diana dengan sebuah lagu romantis “Goodbye England Rose” dalam judul Candle in the Wind. Semoga hikmah dari pengalaman saya di hari ini dapat menjadi pelajaran yang bermakna bagi siapa saja yang terlanjur menjadikan media jejaring sosial sebagai teman dalam kehidupan sehari-hari. Semoga….

PESAN MORAL DARI SEBUAH WISUDA

Hari ini, Sabtu 8 Maret 2014 saya mendampingi ponakan yang diwisuda menjadi Ahli Madya Kebidanan dari STIKIM, STIKOM, STIKBA di Convention Hall SMESCO Building Kementerian Koperasi dan UKM Jakarta. Menarik disimak perjalanan kampus ini yang berdiri sejak tahun 2000 dengan diawali hanya 25 mahasiswa dan 9 orang dosen, kini di usianya ke 14 kampus ini telah berhasil menghasilkan 2000an lulusan.

Kampus yang memfokuskan program studi pada bidang kesehatan yaitu kebidanan, keperawatan, administrasi rumah sakit, asuransi kesehatan, hingga program studi lainnya berniat membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju. Kemajuan bangsa Indonesia perlu dimulai dari komitmen para lulusan yang hari ini diwisuda untuk memberikan yang terbaik kepada sesama yang membutuhkan bantuan agar menjadikan mereka tersenyum. Kini bangsa Indonesia sedang menangis. Para wisudawan melalui wakilnya yang memberikan sambutan berjanji untuk menjalankan profesi mereka dengan sepenuh hati sesuai sumpah profesi yang diucapkan di hadapan petingga almamater, orang tua wali dan para rohaniwan yang menyaksikan peristiwa bersejarah ini.

Kampus STIKIM ini tidak semegah dan seluas kampus-kampus lain di DKI Jakarta namun Ketua STIKIM, STIKOM menjelaskan bahwa mereka boleh berbangga karena DIKTI dan Kopertis Wilayah III Jakarta memberikan predikat sebagai salah satu kampus yang sehat di DKI. Sebuah predikat yang layak diberikan apresiasi. Sang Ketua STIKIM juga menghimbau agar para lulusan yang hari ini diwisuda untuk menjaga kesehatan, selalu mengukur lingkaran perut. Ini penting karena seiring selesainya jenjang studi, mendapat gelar baru, umumnya orang akan lebih prosper (makmur). Prosperity ini tergambar dalam makan yang berlebihan, yang lebih enak, dalam jumlah yang banyak dan akhirnya perut membuncit dan penuh dengan penyakit. Oleh karena itu tetaplah terus menjaga kesehatan dan terus berolahraga.

Ketua STIKIM juga menghimbau kalau memiliki uang yang banyak janganlah mengendarai mobil pribadi atau sepeda motor yang dapat memperparah kemacetan dan menjaga keamanan serta keselamatan di jalan. Selain itu, himbauan yang penting menurut catatan saya adalah agar para lulusan yang hari ini menjadi alumni agar tidak lagi wira wiri, repot-repot mencari pekerjaan, tetapi harus menciptakan pekerjaan untuk orang lain.

Era AFTA sudah dekat, ASEAN Community sudah di depan mata. Kita harus bersiap diri menghadapi persaingan yang makin ketat. Penguasaan bahasa asing dan penguatan kompetensi memungkinkan kita menang dalam persaingan. Jika memungkinkan kampus tetap menanti para alumni untuk kembali melanjutkan pendidikan demi Indonesia yang lebih maju.

Point-point di atas menarik untuk direnungkan. Sesuatu yang besar dimulai dari hal-hal kecil. Lari marathon berpuluh-puluh kilometer diawali sebuah langkah. Nilai-nilai yang besara yang dapat mengubah dunia umumnya berangkat dari mimpi-mimpi kecil namun tetap realistis. Perjalanan kampus ini telah membuktikan betapa kebesaran itu diperolah dari hal-hal yang bersahaja. Tidak ada gunanya membanggakan profil kampus jika para lulusan minim karakter dan masih sulit mendapatkan pekerjaan alias pengangguran. Citra itu penting, tetapi lebih penting lagi nilai-nilai moral, nilai-nilai etis yang dipegang teguh oleh para alumninya ketika mereka terjun ke dalam universitas kehidupan, the real university. Tempat Indeks Prestasi Kumulatif tidak lagi menjadi standar keberhasilan akan tetapi Indeks Prestasi Kehidupan menjadi titik tuju.

Sambutan-sambutan begitu pratis, sederhana dan jauh dari jargon-jargon akademik yang tinggi dan mungkin sulit diraih. Mereka bicara berdasarkan fakta dan kemampuan yang ada. Mereka tidak bicara tentang pencitraan dan mimpi-mimpi yang entah kapan bisa disambut. Kampus memang sejatinya mempersiapkan para mahasiswanya agar memiliki kompetensi akademik, moral dan karakter yang kuat. Kata kuncinya adalah pada keseimbangan antara pikiran dan hati agar menghasilkan pelayanan yang bermutu dan berdaya guna bagi mereka yang membutuhkan.

Indonesia membutuhkan manusia yang tidak hanya pintar secara akademis tetapi memiliki kepandaian dan kompetensi etis, moral dan karakter maju. Sumpah dan janji yang diucapkan di hadapan Tuhan dan sesama merupakan pedoman dalam bertindak dan berkarya. Saya teringat sebuah kalimat berkaitan dengan sumpah atau kaul bahwa : Tuhanlah adalah Allah yang cemburu, jika sumpah yang hari ini kau ucapkan besok kau ingkari. Selamat dan sukses untuk para wisudawan.

SMESCO Gatsu, 08 Maret 2012

 

HAPPY WRITING

Orang bijak pernah berkata, jika Anda ingin mengenal dunia maka banyaklah membaca. Akan tetapi jika Anda ingin dikenal dunia maka tulislah buku. Ini senada dengan ungkapan atau sentilah orang bijak pandai lainnya yang mengatakan bahwa tulisan adalah warisan kebudayaan yang lebih bertahan dibandingkan dengan istana, pusaka, busana dan artefak lainnya. Piramida-piramida Mesir tentu dapat saja kalah abadinya dengan tulisan yang terkumpul dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Kedigdayaan Candi Borobudur bisa memudar tetapi goresan pena Sokrates dan Filsuf dari zaman ke zaman akan tetap abadi.

Oleh karena itu, pepatah Latin kuno: verba volant, scripta manent (yang terucap segera lenyap, sedangkan yang tertulis permanen) menjadi penting untuk digarisbawahi. Lisan dengan mudah akan menguap. Pergi bersama angin. Mengalir bersama sang waktu. Namun tulisan tetap menjadi pendukung kebudayaan dan peradaban manusia. Budaya tulis-menulis yang telah dikenal sejak 6 ribu tahun silam yang dimulai di Mesir dan Mesopotamia membuat peradaban dunia berkembang demikian cepat. Manusia hidup dan berkembang dalam kebudayaan. Kebudayaan memiliki basis tradisi lisan dan tulisan, namun tulisanlah yang lebih berdaya dorong kuat. Ingatan manusia demikian terbatas. Maka tulisan menjadi begitu penting.

Akan tetapi dalam keseharian kita, betapa sering kita menemukan fakta bahwa ada orang yang begitu pandai bicara, tulisannya tidak semenarik ucapannya. Sebaliknya ada pula orang yang begitu piawai dan indah dalam tulisan tetapi lisannya, ucapannya, perkataannya tidak seteratur, serapi dan seindah tulisannya. Amat jarang ditemukan orang yang memiliki kemampuan seimbang mengenai kedua kekuatan personal manusia tersebut. Yang ada malah banyak orang yang tidak memiliki keduanya.

Menulis itu perkara kebiasaan. Menulis merupakan kemampuan yang tidak hanya menghasilkan public name yang luas tetapi dapat juga membawa pengaruh ekonomis. Dari ulasan singkat ini, maka saya berkomitmen untuk membangunkan kembali  kebiasaan menulis yang pernah bertumbuh sangat subur ketika di SMA hingga ketika menjadi mahasiswa filosofen di STF Ledalero. Jika melihat tulisan dari teman-teman, penulis beken, penghasil book best seller dan penulis novel serta sejenisnya, seringkali muncul kecemburuan, mengapa dia bisa saya tidak bisa? Bukankah setiap hari saya juga membaca lebih dari 50 halaman buku dan koran, majalah selain media online? Tidak ada kata terlambat untuk membudidayakan kembali kemampuan yang mati suri itu. Sayang seribu sayang kalau draf tulisan, coretan, goresan, kumpulan hasil bacaan, permenungan disimpan dan didiamkan di laci-laci meja rumah dan kantor. Akan memberikan nilai yang tidak terhingga, lebih dari tidak terduga bagi sebanyak mungkin pembaca, bila itu disulam, dianyam dan disusun menjadi buku yang dapat menjadi legacy bagi anak cucu ke depan.

Kiranya goresan ini menjadi awal untuk pembiasaan selanjutnya. Saya ingin menjadikan pengalaman hidup saya menjadi lebih bermakna. Socrates telah menyentil saya “for man. the unexamined life is not worth living”.

Kota Hujan Bogor

Awal Maret 2014

Aside

PENERAPAN KONSEP, ANALISIS DAN PENDEKATAN SISTEM
DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

A. KONSEP SISTEM
Di dalam kehidupan sehari-hari setiap orang pasti menghadapi berbagai masalah, mulai dari masalah yang paling sederhana sampai dengan masalah yang paling rumit dan kompleks. Masalah yang rumit dan kopleks merupakan tantangan potensial yang harus dipecahkan oleh orang yang menghadapi masalah itu. Oleh karena itu, setiap orang akan berusaha untuk mengatasi dan memecahkan masalahnya.

Dengan melihat dan menganalisis situasi dan kondisi suatu masalah dan tujuan yang hendak dicapainya, seseorang dapat menggunakan atau mencari cara atau pendekatan yang dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Untuk menerapkan suatu pendekatan dalam memecahkan suatu masalah di samping pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah itu, juga bergantung pada persepsi tentang masalah yang dihadapi.

Untuk menerapkan kosep sistem, ada baiknya kita pahami lebih dahulu tentang pengertian atau definisi sistem. Beberapa orang pakar teori manajemen menyampaikan pendapatnya tentang sistem, sebagai berikut:
1. Churchman (1968); sistem merupakan seperangkat bagian yang terkoordinasi untuk menyelesaikan seperangkat tujuan.
2. Fiicks (1972); menyatakan bahwa sistem adalah seperangkat unsur-unsur yang saling berkaitan, saling bergantung, dan saling berinteraksi atau suatu usaha yang terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan satu dengan yang lainnya, dalam usaha untuk mencapai satu tujuan dalam suatu lingkungan yang kompleks.
3. Johnson, Kast, dan Rosenzweig (1973), tiga pakar teori manajemen menyatakan bahwa sistem adalah suatu tatanan yang kompleks dan menyeluruh. Lebih luas lagi pendapat Kast dan Rosenzweig (1974), yaitu sistem dipahami sebagai suatu tatanan yang menyeluruh dan terpadu terdiri atas dua bagian atau lebih yang saling tergantung dan ditandai oleh batas-batas yang tegas dari lingkungan supra sistemnya.
4. Huberman (1978); mendefinisikan sistem sebagai suatu kumpulan unsur yang saling berkaitan satu dengan lainnya secara signifikan.
5. Romiszowski (1982); adalah kumpulan komponen yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan.
6. Bactiar (1988), seorang ahli sosiologi, mengemukakan bahwa sistem adalah: ”sejumlah satuan yang saling berhubungan satu dengan lainnya sedemikian rupa sehingga membentuk suatu kesatuan yang biasanya berusaha untuk mencapai tujuan tertentu”. Pada bagian yang sama, Bactiar juga menambahkan bahwa sistem adalah seperangkat ide atau gagasan, asas, metode, dan prosedur yang disajikan sebagai satu tatanan yang teratur.
7. Cleland dan King (1988) yang menyatakan bahwa sistem adalah sekelompok sesuatu yang secara tetap saling berkaitan dan saling bergantungan sehingga membentuk suatu keseluruhan yang terpadu.
8. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia: dinyatakan bahwa sistem adalah: (1) Seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas; (2) susunan yang teratur dari pandangan, teori,
Asas, dan sebagainya; dan (3) metode atau cara untuk melakukan sesuatu.

Dan banyak lagi pakar-pakar teori manajemen yang mengemukan teori tentang sistem.Didasarkan pada berbagai tipe sistem yang ada di alam semesta ini, Boulding (1956) menyajikan suatu klasifikasi sistem yang terdiri atas:
Pertama: sistem yang berstruktur statis atau tingkatan yang berbentuk kerangka; kedua, sistem dinamis sederhana yang ditetapkan sebelumnya, sistem ini dapat diumpakan seperti cara kerja sebuah jam;
ketiga, sistem sibernetik (cybernetic), atau nama panggilannya sistem termostat – sistem ini secara otomatis memelihara keseimbangannya sendiri;
keempat, sistem terbuka;
kelima, sistem genetik seperti tumbuh-tubuhan;
keenam, sistem hewani;
ketujuh, sistem insani sebagai mahluk hidup;
kedelapan, sistem sosial atau sistem kehidupan sosial; dan
kesembilan, sistem transedental.

Dari kalsifikasi Boulding tersebut, tampak bahwa tingkat pertama, kedua, dan ketiga termasuk dalam golongan yang bersifat fisik atau sistem mekanis yang merupakan landasan ilmu pengetahuan alam. Sementara itu, tingkat keempat, kelima, dan keenam merupakan sistembiologik, seperti ilmu hayat, ilmu tumbuh-tumbuhan, dan ilmu hewan. Tingkat ketujuh, kedelapan dan kesembilan adalah sistem-sistem yang berkaitan dengan manusia dan sistem sosial.

Di dalam suatu sistem yang kompleks seperti sistem sosial termasuk di dalamnya sistem kesehatan, kejelasan hierarki atau struktur sistem sangat penting. Kejelasan istilah-istilah yang digunakan dalam satu sistem perlu disepakati oleh sekelompok orang yang akan menyusun hierarki atau struktur sistem, kelompok penyusun atau tim harus menyepakati dahulu suatu kerangka hierarki atau struktur sistem, sub sistem, komponen, dimensi, dan variabel dari suatu masalah.

Hubungan Internal dan Eksternal
Sesuatu dapat dinamakan sistem bila terjadi hubungan atau interrelasi dan interdependensi baik internal maupun eksternal antar subsistem. Disebut hubungan internal bila terjadi interaksi, interrelasi, dan interdependensi. Bila antar sistem terjadi interaksi, interrelasi dan interdependensi disebut hubungan eksternal.

Hubungan deterministik dan nondeterministik
Disebut hubungan diterministik bila hubungan antar subsistem/komponen di mana hubungan itu terjadi dengan sendirinya dan tergantung pada subsistem komponen lain. Sebaliknya, bila hubungan itu tidak pasti bahwa sesuatu itu dapat berfungsi, maka suatu komponen tidak perlu bergatung pada suatu komponen yang lain. Hubungan yang demikian ini disebut nonditerministik. Contoh: Bola lampu mempunyai akibat deterministik terhadap penerangan, karena tanpa bola lampu dengan berbagai jenis dan bentuknya akan mengakibatkan kegelapan. Namun terang dan gelap lampu tidak ada hubungannya dengan kipas angin.

Hubungan Fungsional dan Disfungsional
Bila terdapat pengaruh yang menunjang, memperkuat, mempercepat fungsi perubahan atau pertumbuhan suatu sistem atau subsistem, maka hubungan itu disebut hubungan fungsional. Sebaliknya, bila akibat dari hubungan itu menimbulkan pengaruh yang menghambat atau mencegah, maka hubungan itu disebut disfungsional.

Sistem Tertutup dan Sistem Terbuka
Pada dasarnya sistem hanya terdiri atas dua sistem, yaitu sistem tertutup dan sistem terbuka.
Sistem tertutup: di dalam proses kerjanya tidak dipengaruhi oleh lingkungannya, dengan demikan sistem ini tidak memperoleh masukan dari lingkungan sistemnya.
Sistem terbuka: di dalam proses kegiatannya memperoleh masukan atau berhubungan secara dinamik dengan sistem yang lain di luar lingkungan sistemnya, dengan demikian sistem ini terjadi suatu proses yang dinamis, yaitu sistem dipengaruhi oleh sistem yang berada di luarnya dan pada gradasi tertentu langsung atau tidak langsung keluaran suatu sistem terbuka dapat mempengaruhi sistem terbuka lainnya.

Konsep Lingkungan
Lingkungan merupakan batas antara satu sistem dengan sistem lainnya. Makin terbuka suatu sistem, makin perilakunya terpengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan suatu sistem merupakan pembeda antara satu sistem dengan sistem yang lain. Konsep lingkungan yang merupakan batas suatu sistem dapat membantu untuk lebih memahami perbedaan antara sistem tertutup dan sistem terbuka.

Konsep Interfase
Pendapat Kast dan Rosenzweig tentang konsep interfase, adalah suatu konsep yang menggambarkan persatuan atau pertemuan antara satu sistem dengan sistem yang lain. Makin terbuka suatu sistem seperti sistem kesehatan, makin banyak wilayah persentuhannya.

Konsep Entropy
Kata entropy tidak ada terjemahan yang tepat, istilah ini diambil dari kajian ilmu termodinamika, yang menggambarkan suatu keadaan yang tidak teratur dalam suatu sistem. Melalui istilah entropy dapat dipahami kemampuan dan keterbatasan suatu sistem dalam mencapai fungsi dan tujuan. Menurut Eddington yang dikuti Bertalanffy , dikutip kembali oleh Endang (2000), entropy merupakan ”panah waktu” (the arrow of time). Misalnya tanpa entropy di alam semesta ini maka tidak dapat dibedakan antara masa lalu dan masa yang akan datang.

Konsep Keseimbangan
Salah satu konsep yang erat kaitannya dengan entropy adalah konsep keseimbangan dinamik. (Van Gigch, 1974). Konsep kesimbangan dinamik adalah kemampuan dan ketangguhan dari suatu sistem dalam mempertahankan kelangsungan keberadaannya.

Konsep Haemostat
Konsep keseimbangan dinamik ini erat kaitannya dengan konsep haemostat Konsep ini yang menjaga agar suatu sistem tetap terpelihara kseimbangannya antara berbagai komponen yang terdapat di dalam sistem.

Prosedur kerja suatu sistem (yang selanjutnya akan disebut sistem terbuka) mengubah atau memproses masukan yang diperoleh dari lingkungannya atau dari sistem lain menjadi keluaran , yang selajutnya akan dijadikan masukan oleh sistem lain. Proses transformasi ini merupakan suatu proses yang bersifat ritmik. Secara singkat prosedur kerja sistem adalah:

 

Agar suatu sistem dapat bertahan hidup dan dapat mempertahankan keberadaannya diperlukan ketangguhan, kemampuan dan keseimbangan dalam menjaga hubungannya dengan lingkungan. Untuk itu, sebuah sistem harus mempunyai kemampuan untuk dapat menyesuaikan dirinya dan mempunyai mekanisme serta dapat memelihara keseimbangan. Hal ini penting mengingat pertama: agar tetap terpeliharanya keadaan keseimbangan, di mana berbagai sistem selalu berada dalam keseimbangan dan seluruh sistem tetap serasi dengan lingkungannya; kedua, mekanisme adaptasi diperlukan agar tercipta suatu keseimbangan yang dinamis dari sebuah sistem.

 

Konsep Umpan Balik
Salah satu konsep yang harus diperhatian di dalam suatu sistem yang erat kaitannya, baik dengan Konsep keseimbangan dinamik maupun konsep hierarki adalah konsep umpan balik
Melalui proses umpan balik (baik yang bersifat positif maupun negatif), suatu sistem yang teratur , secara berkesinambungan sebuah sistem akan tetap memperoleh informasi yang akurat dalam menyesuaikan keberadaannya.

B. ANALISIS SISTEM
Analisis sistem adalah cara berfikir berdasarkan teori umum sistem (General System Theory). Teori umum sistem, menurut para pakar teori manajemen, memberikan pengertian/definisi, sebagai berikut:
1. Boulding, analisis sistem adalah merupakan kerangka ilmu pengetahuan (skeleton of science) yang dapat menyajikan suatu struktur teoritik secara sistematis, di mana berbagai disiplin diarahkan, diintetegrasikan, dan didayagunakan secara produktif.
2. Dalam konteks yang sama Berthalanffy (1979), mengemukakan bahwa : teori umum sistem adalah ” merupakan suatu konsep yang bersifat menyeluruh yang memandang sesuatu secara keseluruhan, di mana keseluruhan itu lebih penting artinya daripada jumlah bagian-bagiannya”.
Dalam kaitan itu, menurut Berthalanffy minimal terdapat lima tujuan utama teori umum sistem , yaitu:
a. Terdapat kecenderungan pengintregrasian berbagai ilmu alamiah dan ilmu sosial.
b. Pengintregasian itu tampaknya berpusat pada teori umum sistem.
c. Teori-teori di atas mungkin merupakan instrumen penting dalam bidang ilmu non fisik;
d. Mengembangkan prisip-prinsip untuk menyatukan berbagai bidang ilmu; dan.
e. Dampak dari hal-hal tersebut diperlukan pengintegrasian berbagai bidang ilmu dalam proses pendidikan.

3. Siagian (1988), mengatakan analisis sistem dewasa ini merupakan salah
satu alat bantu yang makin luas penggunaannya dalam analisis keputusan. Selanjutnya Siagian mengemukakan bahwa berbeda model-model matematis yang mengunakan angka-angka untuk menjelaskan situasi tertentu, analisis sistem sesungguhnya merupakan sikap mental seseorang dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah.
4. Quade (1968), karakteristik analisis sistem adalah suatu pendekatan yang sistimatik yang dapat membantu pimpinan (pengambil keputusan) dalam memilih seperangkat tindakan melalui penelaahan yang menyeluruh dan membandingkannya dengan berbagai konsekwensi.
5. Subrahmanyam (1971), pendapatnya tentang analisis sistem: Di dalam mencari konsensus , pertimbangan berdasarkan nilai-nilai tertentu merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam analisis sitem. Analisis sistem hanyalah merupakan suatu teknik pengambilan keputusan. Pada dasarnya analisis sitem merupakan forum dialog yang berkesinambungan antara pengambil keputusan dan analis di mana si pengambil keputusan meminta berbagai alternatif pemecahan masalah.
6. Dua pakar manajemen Cleland dan King (1988), menyatakan bahwa analisis sitem merupakan suatu proses ilmiah, atau metodologi yang dapat menggambarkan dengan jelas hubungan masalah dengan unsur-unsurnya. Pada bagian lain mereka menambahkan bahwa analisis sistem merupakan suatu metodologi untuk menganalisis dan memecahkan permasalahan melalui suatu pengujian yang sistimatik dan sestemik serta membandingkan berbagai altenatif berdasarkan sumber-sumber pembiayaan dan keuntungan yang berkaitan dengan setiap altenatif.
Dan banyak lagi pendapat para pakar teori manajemen mengenai pengertian analisis sistem ini.
Kajian analisis sistem ditujukan untuk menghindari berbagai kesalahan yang berskala besar dan memberikan atau menyampaikan suatu daftar pilihan kepada pengambilan keputusan yang menggambarkan berbagai ramuan keefektifan perician biaya untuk dijadikan pertimbangan dalam menentukan pilihan.
Teknik riset operasi berupaya menerapkan rumus-rumus matematika untuk memaksimumkan atau meminimumkan hambatan-hambatan suatu obyek. Riset operasi berorientasi kepada berbagai masalah di mana unsur perhitungan sangat dominan. Oleh karena itu, dalam riset operasi penggunaan konsep aplikasi ilmu matematika memegang peranan yang sangat dominan dan bukan hanya sekedar alat bantu untuk menentukan keputusan. Sebaliknya, analisis sistem mengembangkan berbagai teknik untuk menentukan menganalisis berbagai masalah yang kompleks begitu rupa, sedangkan perhitungan matematika hanyalah merupakan dukungan terhadap keputusan yang telah diambil atau ditetapkan.

Untuk mengaplikasikan pendekatan sistem, menurut Quade (1968) dan Subrahmanyam (1971) harus dilakukan melalui sebuah model karena model merupakan hal yang paling esensial dalam penerapan pendekatan sistem. Langkah-langkah mengaplikasikan pendekatan sistem menurut Suriasumantri (1977) sangat sederhana. Langkah-langkah itu terdiri atas:
1) Merumuskan tujuan yang ingin dicapai;
2) Mengembangkan berbagai alternatif yang mungkin dapat dilakukan dalam mencapai tujuan;
3) Menetapkan kriteria untuk melihat alternatif yang terbaik dari seperangkat alternatif yang diajukan;
4) Memilih alternatif terbaik berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dari seperangkat alternatif yang diajukan tersebut.

Guna mendukung ke 4 (empat) langkah dalam pengkajian Sistem Analisis, teknik yang dipergunakan untuk mengembangkan alternatif-alternatif dalam mencapai suatu tujuan tertentu bisa bersifat analitik atau intuitif. Dalam hal-hal tertentu maka proses kreatif dianjurkan untuk menemukan alternatif yang bersifat baru dan segar. Sistem analisis sering bersifat tidak efektif, bila alternatif yang diajukan bersifat itu-itu juga.

Teknik-teknik berpikir kreatif seperti brainstorming, disarankan untuk dipergunakan dalam mengembangkan alternatif yang benar-benar baru. Walaupun demikian dalam memilih alternatif-alternatif yang diajukan tersebut kita tetap berpegang kepada prinsip-prinsip ekonomi dalam mengalokasikan sumber-sumber ekonomis secara efisien. Salah satu teknik yang dipakai untuk melakukan seleksi tersebut dipinjam dari ilmu ekonomi yakni Cost and Benefit Analysis (CBA). Teknik ini mempergunakan moneter, umpamanya rupiah, sebagai alat pengukur input dan out put.

Dengan membandingkan ratio input dan output dari berbagai yang dipandang alternatif, maka kita bisa menetapkan ratio alternatif mana yang dipandang dari prinsip ekonomi bersifat paling efisien. CBA adalah salah satu teknik ekonomi yang sudah dikenal.

Sekitar tahun 1950 oleh RAND Corporation, yang juga mengembangkan konsep Sistem Analisis, diciptakan suatu teknik baru yang disebut Cost Effectiveness Analysis (CEA). Teknik ini mempergunakan besaran moneter untuk mengukur input tetapi mempergunakan besaran lain untuk mengukur output. Atau meminjam perkataan Hovey: ”CEA adalah model di mana input diberi harga tetapi output tidak”.

Pada mulanya, ketika Sistem Analisis dipergunakan untuk mengembangkan sistem persenjataan Amerika Serikat, (CEA) ini menggunakan satu variabel untuk mengukur efektivitas suatu alternatif, umpamanya efektivitas suatu sistem persenjataan untuk membunuh manusia per unit sistem persenjataan itu. Jadi jika terdapat dua sistem persenjataan yang mempunyai ongkos yang sama untuk membuatnya, tetapi sistem X mempunyai efektivitas pembunuh 1000/unit, sedangkan sisten Y 1200/unit, maka berdasarkan pengkajian CEA yang menggunkan prinsip ekonomi akan dipilih sistem Y sebagai altenatif yang lebih baik.
Tetapi ketika Planning-Programing – Budgeting – System (PPBS), yang mempergunakan sistem analisis sebagai komponennya, diterapkan dalam sistem anggaran Pemerintah Federal Amerika Serikat dalam tahun 1965, ditemui berbagai kesulitan dalam menerapkannya. Salah satu kesukarannya adalah bahwa dalam berbagai program , terutama program dibidang sosial, kegunaan suatu program tidak bersifat tunggal melainkan jamak. Oleh sebab itu maka dikembangkanlah CEA di mana efektivitas dari sebuah alternatif tidak diukur oleh satu variabel tetapi oleh seperangkat variabel yang relevan dengan kegunaan program tersebut. Dalam hal ini, umpamanya, suatu program transmigrasi tidak saja diukur dari banyaknya penduduk yang bisa ditransmigrasikan, tetapi juga dimasukan kedalam pengukuran efektivitasnya dampak positif terhadap perkembangan ekonomi, sosial-budaya, pemerataan pendidikan dan ketahanan nasional. Demikian juga, dalam memperhitungkan ongkosnya, yakni harga input yang harus dibayar, kita tidak sekedar menghitung besaran dimensi ekonomis yang diinvestasikan, tetapi sekaligus juga ongkos-ongkos lain, umpamanya ongkos (resiko) kestabilan politis. Tetapi untuk memudahkan analisis, maka resiko seperti ini tidak dibebankan kepada input, melainkan kepada output, tentu saja dengan penafsiran yang terbalik.

Sebuah input yang mengandung resiko negatif bukan berarti suatu keuntungan (benefit atau efectiveness) melainkan suatu kerugian. Dengan membandingkan jumlah dimensi moneter pada satu pihak , dengan seperangkat kegunaan program tersebut pada pihak lain, maka secara sistematis dan analistis, kita bisa membandingkan posisi relatif program tersebut terhadap alternatif program-program yang lain.

Tentu saja pengukuran seperangkat dimensi non ekonomis mempunyai implikasi lain yakni pertama, variabel non-ekonomis sukar diukur dengan eksak , kedua, bagaimana caranya kita menentukan posisi relatif variabel yang satu dengan variabel yang lain. Katakan saja kita mempunyai sebuah program yang efektifitasnya diukur dengan 10 variabel; maka masalah yang dihadapi adalah : bagaimana menggabungkan dimensi 10 variabel tersebut menjadi satu dimensi yang komposit yang memungkinkan dilakukan perbandingan secara rasional dengan dimensi input?

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah ini adalah dengan memberikan bobot kepada tiap-tiap variabel, yang demikian, memungkinkan kita membentuk dimensi komposit secara sistemats dan rasional. Tetapi dalam pendekatan seperti ini masih terdapat kesukaran, yakni, bahwa tidak semua variabel non ekonomi dapat diukur secara kuantitatif. Tetapi hal seperti ini tidak usah membuat kita pesimis, bahwa seakan-akan analisis dari sekian variabel non ekonomis yang sukar diukur adalah tidak mungkin dilakukan. Secara kreatif kita kembangkan teknik analisis yang sesuai dengan permasalahan. Sistem Analisis tidak bermaksud untuk menggantikan peranan intuisi dan pertimbangan dalam menarik suatu kesimpulan dengan formula matematika.
Analisis menurut Fisher, bertujuan untuk lebih mempertajam intuisi dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Demikian juga upaya yang dipaksakan untuk mengkuantifikasikan variabel kualitatif yang tidak mungkin untuk diukur secara kuantitatif, bukan saja merupakan upaya yang ”dibuat-buat” tetapi juga berbahaya, yang akan merusak kesimpulan analisis secara keseluruhan. Beberapa variabel seperti kesetabilan politik atau tingkat moral sukar untuk diukur dengan akurat, dan oleh sebab itu, sebaiknya tetap dibiarkan dalam dimensi kualitatif.

Beberarapa analis, karena kesukaran seperti di atas, cenderung untuk menghilangkan variabel-variabel yang sukar diukur secara kuantitatif. Seorang analis yang baik, menurut Rowen , mempunyai tiga karakteristik yakni:
(1) Tidak ”memberikan” angka kepada unsur yang tidak dapat dikuantifkasikan;
(2) Tidak melupakan unsur-unsur yang tersirat (intangibel); dan
(3) Tidak mengenyampingkan evaluasi yang bersifat subyektif dan pertimbangan yang matang.

Langkah-langkah dalam Sistem Analisis bersifat sistematik, analitik, rasional dan tersurat. Pada tahap-tahap tertentu dalam Sistem Analisis penelitian ilmiah bisa membantu analisis dengan memberikan masukan yang kemudian digunakan sebagai premis atau fakta bagi analisis selanjutnya.

Tentu saja dari sifat sistematik, rasional, analitik dan tersurat didasarkan kepada data atau informasi yang obyektif tetap merupakan kerangka dasar pengkajian Sistem Analisis; tetapi hal ini dilakukan dengan semangat kerjasama dan demokratis yang merupakan jiwa dari pengambilan keputusan dalam organisasi yang modern.

Wright, umpamanya , menolak tuduhan bahwa Sistem Analisis bersifat otokratik; bahkan sebaliknya, dia menjawab, Sistem Analisis adalah salah satu kegiatan intelektual yang sangat demokratis, dengan bersedia untuk mempergunakan metode mana saja, yang berguna untuk sampai kepada kesimpulan yang tepat. Memang dalam era komputerisasi Sistem Analisis dengan mengenyampingkan variabel-variabel kualitatif serta pertimbangan yang bersifat intuitif, Sistem Analisis dalam bentuk komputer print – out menjadi penentu keputusan. Tetapi belajar dari kesalahan, para analis sudah lebih dewasa, mereka mau mendengarkan berbagai pendapat dan informasi yang relevan dengan persoalan yang diajukan, untuk dikaji dan diperdebatkan. Dan Sistem Analisis ini, meminjam perkataan Enthoven, menyediakan aturan-aturan yang logis untuk debat yang bersifat konstruktif dan bermanfaat.

Secara teoritis tidak ada permasalahan dalam proses Sistem Analisis yang tidak dapat dipecahkan; lewat akal sehat, berfikir logis, dan kalau dirasa perlu; mengadakan penelitian ilmiah mengenai sesuatu hal yang diperdebatkan.

Tetapi justru di sini juga terletak kelemahan dari Sistem Analisis. Quade, umpamanya, menuduh Sistem Analisis sarat dengan intuisi dan pertimbangan-pertimbangan, yang jauh dari bersifat obyektif , cenderung untuk bersifat parokial, partisan, dan terbelenggu oleh kepercayaan yang kita agungkan. Kelemahan Sistem Analisis yang utama terletak pada kemungkinan bahwa alternatif yang benar-benar paling baik tidak termasuk kedalam serangkaian alternatif yang diajukan.

Kesalahan yang biasa dilakukan dalam menerapkan Sistem Analisis diberikan oleh Mc Kean, sebagai berikut:
1) Melupakan besar absolut dari biaya atau tujuan;
2) Merumuskan tujuan yang salah atau besar tujuan yang salah;
3) Melupakan ketidak pastian;
4) Melupakan dampak program terhadap kegiatan-kegiatan lainnya;
5) Mengambil konsep yang salah mengenai biaya;
6) Melupakan dimensi waktu;
7) Mempergunakan test yang dipaksakan; dan
8) Menerapkan kriteria yang baik terhadap permasalahan yang salah.

Di samping itu, menurut Quade, sering terjadi ”isyu” sampingan dijadikan sebagai kriteria serta kealpaan untuk tidak menilai proses analisis.

Sistem Analisis sering tidak dapat diterapkan sepenuhnya dalam mencari pemecahan masalah, terutama yang menyangkut keputusan politis, di mana seperti dikatakan Schlesinger: bahwa wilayah politis mempunyai logika tersendiri yang berbeda dengan Sistem Analisis.

Didasarkan pada uraian di atas dapat disimpulkan bahwa analisis sistem merupakan suatu metode yang sangat mendasar untuk memahami hubungan sistem dengan lingkungannya. Dalam pengertian umum analisis sistem merupakan pedoman berpikir yang menyajikan suatu kerangka kerja yang dapat digunakan oleh metode analisis lainnya. Oleh karena sifatnya yang sangat mendasar tersebut, maka analisis sistem dapat diterapkan pada berbagai tingkatan yang sifatnya sangat rumit.

Penerapan analisis sistem yang paling sederhana adalah suatu cara berpikir, tetapi sebaliknya analisis sistem juga dapat diterapkan pada bentuk yang sangat rumit dengan mempergunakan berbagai perhitungan rumus matematika yang paling cangih. Keluwesan penerapan analisis sistem merupakan metode yang dapat digunakan untuk berbagai penerapan dalam memecahkan berbagai tingkatan masalah.

C. PENDEKATAN SISTEM
Sebagaimana telah diutarakan pada uraian terdahulu, bahwa pendekatan sistem adalah cara berpikir dengan menggunakan konsep sistem.

Johnson, Kast, dan Rosenzweig (1973) mengemukakan bahwa pendekatan sistem adalah cara berpikir untuk mengatur tugas, melalui suatu kerangka yang melukiskan faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal sehingga merupakan suatu keseluruhan secara terpadu.

Sejalan dengan ketiga pakar di atas, Van Gigch (1974) mengemukakan, bahwa pendekatan sistem merupakan desain metodologi, kerangka kerja konseptual, metode ilmiah baru, teori keorganisasian, sistem manajemen, metode rekayasa riset operasi, dan metode untuk meningkatkan efisiensi biaya serta metode untuk menerapkan teori umum sistem.

Sebagai desain metodologi, pendekatan sistem merupakan alat bantu bagi para pengambil keputusan dengan cara mempertimbangkan semua permasalahan yang berkaitan dengan keputusan yang akan diambil. Sedangkan pendekatan sistem sebagai kerangka konseptual bertujuan untuk mencari berbagai persamaan dan berbagai kecenderungan fenomena yang ada dengan menggunakan analisis multidisiplin.

Sebagai metode ilmiah baru, pendekatan sistem mencoba mewujudkan cara berpikir baru yang dapat diaplikasikan, baik terhadap ilmu-ilmu perikehidupan maupun terhadap ilmu-ilmu perilaku. Pendekatan sistem merupakan salah satu metode ilmiah baru yang telah turut melengkapi paradigma metode ilmah yang sudah ada.

Pada tabel 1 berikut ini dapat dilihat persandingan antara metode ilmiah yang sudah sejak lama ada dengan pendekatan sisem sebagai pardigma metode ilmiah baru.
Tabel 1: Persandingan Metode Ilmiah yang Sudah Sejak Lama
Ada dengan Pendekatan Sisem Sebagai
Metode Ilmiah Baru.

Metode Ilmiah
yang Sudah Ada Pendekatan Sistem
Sebagai Metode Ilmiah Baru

1. Merupakan paradigma berpikir yang mempuyai landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.
2. Dalam proses kegiatan memper- gunakan logika deduktif dan induktif
3. Merupaan cara berpikir untuk memecakan masalah
4. Bersifat atomistik
5. Bersifat analistis, berorientasi pada pemecahan masalah sampai tuntas

6. Berorientasi pada proses
7. Penerapannya ditujukan kepada hal-hal yang lebih bersifat teknis
8. Dalam organisasi sering digunakan untuk keputusan para pelaksana

9. Proses kegiatan terdiri atas:
a. Perumusan masalah
b. Penyusunan kerangka berpikir
c. Perumuan hipotesis
d. Pengujian hipotesis
e. Penarikan kesimpulan
10. Bersifat vertikal
1. Merupakan paradigma berpikir yang mempuyai landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.
2. Dalam proses kegiatan memper- gunakan logika deduktif dan induktif
3. Merupakan cara untuk memecakan masalah
4. Bersifat holistik
5. Bersifat analistis, sistematik dan sistemik, berorientasi pada kebijakan
6. Berorientasi pada keluaran
7. Penerapannya ditujukan kepada hal-hal yang lebih bersifat kompleks dan rumit
8. Dalam organisasi sering digunakan untuk keputusan para pengambil keputusan
9. Proses kegiatan terdiri atas:
a. Perumusan masalah
b. Penelitian
c. Penilaian
d. Penelaahan
e. Pemeriksaan
f. Pelaksanaan
10.Bersifat vertikal
Sumber: Makalah kelompok Mahasiswa Semester I PPs IKIP Jakarta, 1986.

Dari hasil kajian kepustakaan menunjukkan bahwa pendekatan sistem telah digunakan sebagai pendekatan ilmiah dalam pemecahan berbagai masalah. Parsaons (1964) seorang pakar sosiologi telah mengadopsi pandangan umum teori sistem dan dijadikan dasar dalam penelitian kelompok sosial. Di dalam ilmu ekonomi pendekatan sistem telah diterapkan secara meluas dalam ekonomi modern. Konsep sistem merupakan salah satu konsep dasar dalam teori dan praktik ekonomi. Hal ini pula barangkali yang menjadi dasar konsep teori penawaran dan permintaan (supply and demand) dalam teori dan praktik ekonomi.

Ekonomi modern bergerak dari model keseimbangan statis seperti pada sistem tertutup, bergerak menuju model ekonomi keseimbangan dinamis seperti pada sistem terbuka. Kalau diperhatikan dewasa ini, interdependensi dan interelasi penawaran dan permintaan barang dan jasa sudah tidak lagi dalam ruang lingkup nasional, namun sudah mencakup penawaran dan permintaan yang bersifat global. Globalisasi perekonomian dunia sudah merupakan fenomena yang sekarang sedang terjadi. Interdependensi dan globalisasi di bidang ekonomi menurut Naisbitt dan Aburdene (1990) merupakan salah satu kecenderungan yang akan mempengaruhi kehidupan manusia dipenghujung abad ke 20 dan di awal abad ke 21.

SIBERNETIK
Sibernetik (cybernetics) adalah suatu cabang ilmu yang menaruh kepedulian terhadap masalah-masalah komunikasi dan arus informasi sebagai salah satu sistem yang bersifat kompleks.

Dewasa ini manusia di seluruh dunia menaruh kepedulian terhadap berbagai jenis polusi dan perusakan lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh perilaku manusia secara kontroversi digambarkan oleh hasil penelitian Meadows, Randers dan Behres III (1972). Akumulasi tindakan perseorangan dapat berpengaruh terhadap perubahan lingkungan secara drastis. Dewasa ini sudah sangat disadari oleh semua pihak bahwa perusakan lingkungan hidup akan menjadi bumerang terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, timbul berbagai organisasi , baik organisasi pemerintah maupun oranisasi non pemerintah yang berusaha menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup ini. Pemeliharaan keseimbangan lingkungan hidup berarti memelihara siklus kehidupan, dan untuk menjaga siklus kehidupan sejak lama sudah dikenal salah satu cabang ilmu yang sifatnya multidisiplin yaitu ilmu tentang lingkungan hidup atau ekologi. Salah satu hukum dasar dari ekologi , yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan segala sesuatu itu merupakan salah satu konsep dasar pendekatan sistem.

Sebagaimana telah dikemukakan pada uraian terdahulu bahwa Amerika Serikat telah menerapkan pendekatan sistem di dalam sistem pertahanan dan keamanan sebagaimana diuraikan dalam buku yang berjudul System Analysis and Policy Planning Aplication in Defense yang diedit oleh E. Quade dan W. I. Boucher di mana beberapa pendapatnya telah diikuti dalam tulisan ini.

Dalam teori organisasi dan manajemen modern, menurut Kast dan Rosenzweig (1974), mengemukakan bahwa pendekatan sistem merupakan suatu kerangka kerja yang bersifat integratif dalam teori dan pratik organisasi dan manajemen. Selzniek (1966), telah menggunakan analisis struktural dan pendekatan sistem dalam penelitian organisasi pemerintahan dan organisasi yang besar dan kompleks.

D. MANAJEMEN PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH ATAS SEBAGAI SISTEM
Pendekatan sistem digunakan dalam pembahasan manajemen, hal ini disebabkan karena gerakan sistem adalah sesuatu yang baru dan cocok dalam bidang manajemen. Sesungguhnya masih ada gerakan yang lebih mutakhir dalam administrasi ialah contingency atau pendekatan situasional (Robbin, 1982,h. 46) namun pendekatan ini tidak dipilih mengingat pendekatan sistem itu sendiri bisa merangkul pendekatan situasional berkat keterbukaannya terhadap lingkungan
Misalnya bila masyarakat dan kebijakan atau peraturan pemerintah berubah, maka institusi atau manajemen akan mengubah diri pula agar selaras dengan kemauan masyarakat dan pemerintah.

Organisasi sebagai Sub Sistem
Hersey (1978, h. 8) membagi organisasi menjadi sub sistem, yaitu sub struktur, teknologi, manusia, dan informasi dengan tujuan ada ditengah-tengah.Sementara itu Kast (1974) menyatakan organisasi sebagai sub sistem lingkungannya yang lebih besar yang berorientasi kepada tujuan, yang mencakup sub sistem teknik, struktur, psikologi sosial, dan manajemen. Pandangan ke dua ini didukung oleh Johson (1973).Dan ada pula akhli lain yang tidak menyebutkan bagian-bagian organisasi itu sebagai sub sistem tetapi dengan elemen-elemen organisasi, yaitu elemen tujuan, orang-orang, struktur, teknik, dan informasi (Shrode, 1974, h. 8).

Pendapat keempat ahli di atas tidak persis sama tentang macam-macam sub sistem suatu organisasi. Sub sistem yang mereka sudah sepakati bersama ialah struktur, teknik, orang-orang, dan informasi. Yang belum mendapatkan kesepakatan ialah mengenai tujuan, lingkungan dan manajemen.

Ada yang mengatakan tujuan ada di tengah-tengah organiusasi sbagai pengendali sub sistemnya, ada yang mengatakan organisasi berorientasi kepada tujuan, dan ada pula yang memandang tujuan sebagai salah satu elemen organisasi. Pernyataan pertama dan kedua menekankan kepada peranan tujuan sedangkan pernyataan ketiga menekankan pada satu segi yang tidak dapat disamakan atau digabungkan dengan segi yang lain. Memang benar tujuan memegang peranan tertentu namun ia benar pula sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Ini berarti tujuan dapat dipandang sebagai salah satu sub sistem oranisasi.
Manajemen dipandang sebagai sub sistem organisasi, hanya dikemukakan oleh dua dari keempat ahli tersebut di atas. Namun demikian hal ini bisa diterima mengingat manajemen ini juga berdiri sendiri seperti halnya dengan sub sistem –sub sistem yang lain, yang tidak dapat digabungkan dengan bagian-bagian organisasi lainnya.

Bagaimana halnya dengan lingkungan? Lingkungan hanya dipandang sebagai sura sistem, yaitu sistem-sistem yang berada di sekeliling sistem organisasi. Organisasi ada di tengah-tengah lingungannya. Hal ini memang meruupakan kenyataan, kita dapat mengamatiu sendiri di lapangan lebihj-lebh sistem ang bersifat terbuka. Tatai dalam pembahasan manajemen sebagai sistem, lingkungan ini dimasukkan sebagai salah satu sub sistemnya. Sebab menangani kesehatan tidak terlepas dari keadaan dan usaha lingkungan.

Dengan demikian organisasi sebagai sistem terdri dari sub sistem tujuan, manajemen, struktur, teknik, personalia,dan informasi serta merupakan bagian dari lingkunganya. Sistem kesehatan adalah merupakan sub sistem dari sistem lingkungan yanglebih besar. Sistem kesehatan memiliki supra sistem yang disebut lingkungan.

Administrasi sebagai Sub Sistem
Administrasi adalah bentuk kerja sama antara para aggota organisasi untuk merealisasi cita-cita mereka. Administrasi merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan organisasi. Dalam hal ini yang banyak terlibat dalam proses adalah isi organisasi itu, sdangkan lingkungan hanya aktif bila diperlukan saja secara insidental. Proses kerja sama itu selalu dituntun oleh tujuan , sementara itu tujuan tetap dia, ia hanya sebagai lamang yang terpampang sebagi gambaran aspirasi yang akan dikejar. Ini berarti administrasi sebagai suatu proses kerja sama hanya mencakup sub sistem manajemen, struktur, teknik, personalia,dan informasi saja.

Bagaimana halnya dengan manajemen sebagai suatu kesatuan yang berdiri sendiri, sebagai suatu sistem? Shrode (1974, h. 157) menyebutkan dimensi-dimensi manajemen sebagai berikut : (1) management by objective, (2) mangement by techniques, (3) management by structure, (4) management by people, (5) management by information. Kalau kita konsisten dengan pendirian bahwa tujuan adalah sesuatu yang diam hanya sebagai target atau ukuran yang akan dikejar, maka tujuan tidak perlu dipandang sebagai sub sistem manajemen. Sebab manajemen adalah suatu kegiatan.
Bila ketiga sistem yang telah diuraikan di atas yaitu sistem organisasi, adminsitrasi, dan manajemen dibuat bagannya akan tampak sebagai berikut:

Organisasi sebagai sistem:
– Sub sistem tujuan di tengah.
– Sub sistem manajemen di luarnya.
– Sub sistem struktur, teknik, persona-
lia , dan informasi pada keempat lingkungan yang mengelilingi.
– Lingkungan pada lingkaran paling luar

Administrasi sebagai sistem:
– Sub sistem manajemen ditengah
– Sub sistem stuktur, teknik, personalia, dan informasi pada keempat lingkungan yang mengelilingi

Manajemen sebagai sistem:
– Sub sistem struktur
– Sub sistem teknik
– Sub sistem personalia
– Sub sistem informasi
– Sub sistem lingkungan/masyarakat
Bagan: Organisasi sebagai sistem, administrasi sebagai sistem, dan manajemen sebagai sistem
Bila melaksanakan manajemen secara sistem, berarti memberi perhatian dan perlakuan dengan proposi yang relatif sama kepada sub sistem-sub sistemnya. Tidak dibenarkan manajer hanya memperhatikan beberapa saja dari sub sistemnya dengan menomor duakan sub sistem lainnya. Misalnya kalau ingin memajukan kesehatan hendaknya perhatian terhadap perbaikan informasi dan personalia sama intensitasnya dengan perhatian terhadap perbaikan teknik dan pelayanannya. Dengan memberi perhatian dan perlakuan yang relatif sama terhadap sub sistem – sub sitem manajemen yang diharapkan jalan organisasi pelayanan kesehatan tidak timpang. Sub sistem-sub sistem itu akan semakin meningkat secara serempak dan terpadu melaksanakan misi kesehatan membentuk manusia sehat sejahtera yang dilandasi oleh nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Fungsi-fungsi menajemen, seperti perencanaan, koordinasi/organisasi, pengarahan, dan kontrol/ pengawasan akan terjadi pada setiap sub sistem manajemen dengan proporsi yang sesuai menurut keperluan. Fungsi-fungsi atau tugas-tugas manajemen itulah yang perlu dikenakan secara relatif sama dan terpadu pada setiap sub sistem.

Kesimpulan
Keseharian saya sebagai kepala sekolah tidak pernah lepas dari fungsi managerial dalam organisasi pendidikan yaitu planning, organizing, actuating dan controll. Dari semua persoalan yang dihadapi sehari-hari, hal yang paling krusial adalah disiplin. Dalam konteks berpikir sistem, guru dan tenaga kependidikan lainnya tidak dapat mendisiplinkan peserta didik mereka sebelum mereka mendisiplinkan diri mereka sendiri. Disiplin merupakan jalan menuju keteraturan. Pelanggaran disiplin dalam berbagai bentuk di berbagai bagian merupakan bentuk entrophy. Oleh karena itu, sebagai kepala sekolah, saya selalu berupaya untuk melakukan perbaikan atau development dan dan pemeliharaan atau maintenance untuk bagian –bagian yang sudah bagus.

Sumber Bacaan:
1) Jujun S. Suriasumantri., Berpikir Sistem. PPs Universitas Negeri Jakarta 2002
2) Endang Sunarya, Teori Perencanaan Pendidikan , Berdasarkan Pendekatan Sistem. (Adicita Karya Nusa ,Yogyakarta. 2002)
3) Djadjang A., Kapita Selekta Kuliah Azas-azas Manajemen. (Sekolah Tinggi Manajemen Indonesia, Jakarta,2010)..
4) Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia. (Rineka Cipta,Jakarta,2004)

Aside

SAJAK DR.LEO KLEDEN, SVD

 

SURAT UNTUK TUHAN

Pada suatu pagi yang biasa

dari musim yang sudah kulupa

Kutemukan namamu bersama cahaya

Dan sejak itulah aku ‘ngembara

Mencari engkau tanpa alamat

Mula-mula aku bertanya

Pada seorang tua yang bijaksana

Apakah ia mengenal engkau?

Ia cuma menggeleng kepala

dan berkata: Ah dia,

lebih tua dari gurun lebih muda dari embun

mungkin langit masih mengenalnya.

Aku melihat kanak-kanak

Begitu muda seperti fajar

Main kejaran di pantai pasir dan bertanya:

Adakah mereka melihat engkau?

Semua heran dan berkata:

Ia belum tiba di sini

Engkau datang terlalu dini.

Aku pergi ke taman kota

melihat sepasang anak muda

Asyik-masyuk dimabuk asmara

Mungkinkah mereka mengenal engkau?

Yang laki-laki itu berkata:

Ia hidup dalam dongeng dari beribu tahun lalu

Sisa namanya masih tercatat dalam sebuah perkamen tua.

Yang perempuan lalu menambah:

Sungguhpun hidup begitu indah

Riwayat kita teramat singkat.

Pengembara,

Mengapa mencari yang sia-sia?

Aku mencatat sementara:

Lebih tua dari gurun lebih muda dari embun

Engkau hidup dalam dongeng dari beribu tahun lalu

Apakah namamu sia-sia

dan aku datang terlalu dini?

Bertahun-tahun kemudian aku mencari seorang filsuf yang berjalan siang hari dengan lampu menyala di tangan, karena bertarung mencari yang benar. Mungkinkah dia mengenal engkau?

Sewaktu kami di jalan bertemu, ia besarkan nyala lampu lalu mendugai lubuk mataku, berseru:

Pengembara, kita sama pejalan jauh menuju langit yang tak terjangkau.

Tentang dia, aku hanya bisa bertanya, filsuf tak pernah punya jawaban. Mungkin sang nabi lebih tahu?

Aku pergi kepada sang nabi dan berkata dengan takzim: Salam padamu pewarta firman. Aku yakin, wahai nabi, engkau tahu yang kucari, ceritakan padaku tentang dia.

Ia menjawab: Aku bukan seorang nabi. Pewarta sabda hanyalah suara yang berseru di padang gurun: Siapkanlah jalan Tuhan luruskanlah lorong-lorongnya. Aku belum melihat wajahnya dan para nabi sepanjang zaman tidak pernah melihat dia. Dialah cahaya mahacahaya yang memijari matahari dan menyinari lubuk hati. Ia menuntun orang buta, membimbing langkah pengembara. Sedang mata kita yang fana tak bisa menangkap mahacahaya.

Kudengar dentang lonceng gereja, memanggil umat beribadah.

Aku pergi membawa namamu lalu bertanya kepada pendeta. Ia menjawab: Gereja mewarisi nama ini, memanggil dia dalam ibadah, tapi maknanya tetap rahasia. Coba tanya si ahli kitab, mungkin dia yang lebih tahu.

Aku pergi ke ahli kitab, mengucapkan salam dan bertanya, tapi dia tak sempat mendengar. Rupanya sudah berabad-abad ia menggali ayat suci, dan sekarang terperangkap dalam guanya sendiri. Ketika akhirnya kami bertemu kata-katanya begitu pelik sampai aku tak dapat mengerti: Mengapa mesti sekian sulit, membuat namamu rumpil rumit. Adakah relung luka di gua menyesatkan dia dari firmanmu?

Aku berpikir, sebaiknya pergi kepada penyair. Dia menyambutku dalam diam, menggumam sajak yang tak selesai:

Pada mulanya adalah Sunyi dan Sunyi itu melahirkan Kata dan Kata menciptakan alam semesta dan alam semesta menyanyikan madah. Dan semua madah kembali ke Sunyi di baris terakhir semua puisi. Tapi tak pernah seorang penyair berhasil menulis bait itu. Mungkin pertapa lebih mengenal rahsia Sunyi?

Aku pergi ke padang gurun lalu menemui sang pertapa. Ia dulunya seorang kaya, menjual tuntas semua harta dan hidup menyepi mencari Sunyi. Sebelum kutanyakan sepatah kata, ia mendengar debur jantungku, dan berkata:

Lebih kaya dari cinta, lebih miskin dari rindu. Itulah dia.

Makanya harta yang habis terjual tidak cukup membayar jalan untuk sampai ke hadiratnya. Mungkin sekali fakir miskin lebih mengenal wajah itu.

Sesampai ke pondok fakir miskin, aku langsung melupakan namamu. Yang kulihat, yang kuingat, hanyalah wajah kanak-kanak, dengan igauan dalam demam, menjerit pedih minta nasi sedang ibunya menjual diri untuk membeli sepotong roti. Pernah sang ayah mengedar ganja untuk memanen uang murah, tapi semua tinggal mimpi, ia pergi tak pernah kembali. Maka di sini di laut derita, bisakah seorang mengelak teriak dari kapal yang sedang karam? Apa makna semua doa, madah puji dan nyanyi ibadah bagi mereka yang kini tenggelam? Sungguh, di laut duka aku telah melupakan engkau. Namamu – tak lagi penting untuk diriku, dan mungkin namaku tak pernah berarti untukmu jua. Tapi mengapa di siang ini, ketika hibuk dalam letih, sesudah hilang semua pamrih, tiada terduga engkau tiba: O Cahaya mahacahaya, Sunyi suci yang melahirkan Kata, lebih kaya dari cinta lebih miskin dari rindu, di tengah wajah kanak-kanak lapar, aku sujud menyembah engkau.

Leuven, 15 Juni 2007

Musim Gugur

Di taman ini

Kutemui puing sebuah mimpi

Ada sisa matahari dan rimis badai, masih

Sepasang kekasih saling mendekap

Melekapkan diri

Dalam berahi

Yang tak pernah abadi

Sebab memang musim berkisar

Seperti cakra langit berkisar

Seperti cinta dan debar dukamu yang nyasar

Hidup hanya sebentar:

Sehembus angin masih menderu

Debur laut yang belum teduh

Di pantai pulau

Diam –

Kudengar kabut

Menyaput rambutmu

Daun jatuh

Rindu alam pun

runtuh.

Kudengar keluh

Suara salju

Menghapus tahun-tahun lampau:

Ke mana perginya daun-daun, sayangku

Ke mana perginya daun-daun?

Di taman ini

Kutemui puing sebuah mimpi

Kita akhirnya mesti pergi

Bayang-bayang sepi –

Tahu nanti

Sepasang kekasih ‘kan kembali

Membakar diri

Dalam pijar matahari.

Bunga Kecil dari Geneva

Dengan hati-hati sekali engkau mengambil bunga kecil dari halaman gereja tua di Geneva dan mengirimnya untukku, dalam suratmu dulu, pada awal musim semi. Dengan hati-hati sekali aku menanam bunga itu di antara lembar-lembar Alkitab dan menyiramnya dengan doaku yang sunyi. Saban kali kurasa rindu aku membuka halaman Firman dan menemukan lagi musim semi di bukit-bukit dan lembah-lembah, semerbaknya sampai ke relung jiwa.

Sejak kau pergi tanpa berita, hilang lenyap dalam lupa, dengan alamat sebuah dusta, aku membuka kembali Alkitab, mencari-cari bunga kecil dari halaman gereja Geneva. Yang kutemukan bau bangkai, keranda rindu, bunga mati. Di halaman gereja tertimbun sampah musim gugur.

Pepatah Waktu

Lubuk laut bisa diduga

Kenangan rindu siapa tahu

Entahkah waktu yang mengarung perahu

Membuat perantau pulang lupa?

Leo Kleden lahir di Flores Timur pada 1950, dan sekarang bekerja sebagai seorang pastor dari tarekat SVD (Societas Verbi Divini). Doktor filsafat lulusan Universitas Leuven, Belgia. Pengajar filsafat pada STF Ledalero, Maumere, Flores. Pernah menjadi Dewan Generalat untuk SVD Sedunia di Roma dan kini menjabat sebagai Provinsial untuk Provinsi SVD Ende Flores. 

TEORI SISTEM UMUM (Perkembangan Filosofi dan Teori Sistem dari Perspektif Keilmuan)

I

PENDAHULUAN

 I. Pengantar

Setiap ilmu yang kita pelajari tidak pernah terlepas dari aspek dan pengaruh filsafat. Aspek filosofis dari setiap ilmu pengetahuan dikenal dalam tiga istilah yang tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain karena kesatuannya membentuk kadar keilmuan dari sebuah ilmu. Setiap ilmu lasimnya dapat ditelaah menurut aspek ontologis (metafisika), epistemologis dan aksiologis. Ketiga aspek inilah yang memberikan kualifikasi keilmuan dari setiap ilmu yang kita pelajari.

Aspek ontologis dari sebuah ilmu sangat esensial karena dari sana dapat kita telusuri cakupan ilmu tersebut atau kedudukan ilmu tersebut di antara rumpun ilmu yang lain. Aspek ontologis memberikan kekhasan atau keunikan dari sebuah ilmu sehingga berbeda dengan ilmu yang lain. Dengan menelusuri kaitan dan kedudukan ilmu ini di tengah ilmu yang lain maka di sana kita menemukan realitas dalam konteks metafisika.

Aspek kedua yang harus dimiliki oleh sebuah ilmu adalah aspek epistemologis. Unsur epistemologis ini merupakan jalan untuk mengetahui atau mengkaji sebuah ilmu. Oleh karena itu dibutuhkan teori-teori atau metode yang khas ilmu tersebut untuk menyelami apa yang menjadi esensi atau inti dari ilmu tersebut. Tanpa sifat epistemologis yang dimiliki sebuah ilmu maka ilmu tersebut tidak memiliki kredibilitas ilmiah karena sulit dipertanggungjawabkan. Aspek epistemologis membantu kita untuk mengetahui batasan dari sebuah ilmu dengan demikian tidak terlalu lentur untuk ditafsirkan sesuai dengan perspektif penafsirnya. Untuk menyelami sebuah ilmu maka dibutuhkan kemampuan memahami logika, dimana dapat dibangun premis-premis, analogi hingga mencapai kesimpulan yang valid dan benar.

Aksiologis adalah unsur lain yang juga mendasar bagi semua ilmu. Aspek aksiologis inilah yang memberikan jalan dan bukti apakah sebuah ilmu yang dipelajari membawa manfaat bagi orang yang mempelajarinya. Aspek aksiologis diperlukan untuk mengetahui alas an mendasar untuk apa sebuah ilmu dipelajari dan jika telah dipelajari apa manfaat, sumbangan dan implikasinya bagi kehidupan manusia.

Jika ketiga aspek filosofis ini dimiliki oleh sebuah ilmu maka dapat dipastikan bahwa ilmu tersebut memiliki daya dan kekuatan yang layak dikuasai karena mendatangkan manfaat bagi siapa saja  yang mendalaminya. Mengaju kepada landasan berpikir di atas maka dapat ditegaskan bahwa managemen sistem sangat layak dipelajari karena tergolong ilmu strategis yang memiliki muatan filosofis yang mendalam.

Jika merujuk kepada aspek aksiologis dari teori managemen sistem maka kiranya jelas pemikiran sistem memainkan peranan yang sangat penting dan luas cakupannya meliputi perusahaan industri, bidang persenjataan hingga topik manusia dengan ilmu pengetahuan murni.

Setiap orang yang berurusan dengan managemen, posisi, pengaruh, dan keinginan yang menentukan kehidupan wajib memiliki kemampuan berpikir dan bertindak sistematis. Pemikiran yang sistematis mau tidak mau mengacu kepada pemahaman mengenai filosofi dari sistem itu sendiri. ’Pendekatan Sistem’’ untuk menekan berbagai permasalahan seperti polusi, kemacetan, dan udara, lalu lintas yang padat dan lain-lain perlu dikaji berdasarkan sistem berpikir yang sistematis, rasional, realistis dan aplikatif. Dalam perkembangannya Maning perdana menteri Kanada menulis tentang ‘’Pendekatan Sistem’’ dan dalam platform politiknya menyatakan :

Sebuah hubungan timbal balik ada di antara semua elemen dan para pemilih dari masyarakat. Faktor-faktor yang utama dalam masalah-masalah umum, kebijakan-kebijakan, keputusan-keputusan, dan program-program haruslah selalu dipertimbangkan dan dievaluasi sebagai ketergantungan antar komponen dari seluruh sistem.

Pernyataan di atas merupakan suatu gambaran bahwa dalam pelbagai aspek permasalahan orang tidak bisa berpaling dari pendekatan sistem. Paling tidak kita harus berhadapan dengan keruwetan dengan ‘’keseluruhan’’ atau ‘’sistem’’ di semua bidang ilmu pengetahuan. Hal ini mencakup sebuah dasar orientasi kembali di dalam pemikiran ilmiah. Managemen Pendidikan pun sejatinya berlandaskan cara berpikir sistem. Untuk menopang ketrampilan dalam managemen pendidikan dibutuhkan pemahaman dan penguasaan yang mandalam dan sungguh-sungguh tentang teori sistem dan cara berpikir sistematis.

 

II   

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Sistem

Istilah Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) yang berarti suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasimateri atau energi untuk mencapai suatu tujuan. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi satu sama lain dengan demikian orang dapat menciptakan model tertentu berdasarkan sistem yang ada.

Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti Negara, partai politik, badan-badan dunia dsb. Negara misalnya, merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara tersebut.

Kata “sistem” banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi maupun temu ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan juga pada banyak bidang, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka. Sistem sebagai suatu organisasi atau kumpula objek-objek yang terangkai dalam interaksi dan saling bergantung dan teratur.

Menurut Ludwig von Bertalanffy(1940): Pengertian sistem sebagai suatu elemen-elemen yang berada dalam keadaan yang saling berhubungan.

Sementara itu Kamus Webster mengemukakan pengertian sistem sebagai suatu kesatuan (untiy) yang kompleks yang dibentuk oleh bagian-bagian yang berbeda-beda yang masing-masing terikat pada rencana yang sama atau berkontribusi untuk mencapai tujuan yang sama.

Berdasarkan pengertian di atas, sistem adalah kumpulan objek yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu dalam lingkungan yang kompleks. Objek yang dimaksud disisni adalah bagian-bagian dari sistem seperti input, proses, output, pengembalian umpan balik, batasan-batasan, dimana setiap bagian inimempunyai beberapa nilai atau harga yang bersam-sama menggambarkan keadaan sitem pada suatu saat tertentu. Berikut adalah contoh praktis penerapan teori sistem dalam kehidupan sehari-hari.

  • Sistem yang digunakan untuk menunjukkan suatu kumpulan atau himpunan benda-benda yang disatukan atau dipadukan oleh suatu bentuk saling hubungan atau saling ketergantungan yang teratur. Contoh : sistem tata surya, ekosistem.
  • Sistem yang digunakan untuk menyebut alat-alat atau organ tubuh secara keseluruhan yang secara khusus memberikan andil atau sumbangan terhadap berfungsinya fungsi tubuh tertentu yang rumit tetapi amat vital. Contoh : system syaraf
  • Sistem yang menunjukkan sehimpunan gagasan (ide) yang tersusun /terorganisasikan. Contoh: system teologi Agustinus, sistem pemerintahan demokrasi.
  • Sistem yang dipergunakan dalam arti metode atau tata. contoh: sistem mengetik sepuluh jari, sistem pembelajaran.
  • Sistem yang dipergunakan untuk menunjukkan pengertian skema atau metode pengaturan organisasi atau susunan sesuatu, atau mode tatacara .
  1. Menunjuk pada sesuatu (entitas), sesuatu wujud benda (abstrak / konkrit, termasuk juga yang konseptual). Contoh: mobil, jam tangan, manusia, alam semesta.
  2. Menunjuk pada suatu metode, cara untuk mencapai sesuatu. Contoh: sistem control, sistem belajar efektif.

2.2. Sejarah Perkembangan Teori Sistem

Sistem teori umum muncul pertama kali didahului oleh hadirnya teori cibernatika, sistem keteknikan dan bidang pengetahuan yang saling berhubungan. Pengertian sistem telah melewati sejarah yang panjang, walaupun kondisi sistem tidak mengutamakan sejarah dari pengertian yang meliputi banyak nama dan ilustrasi.Nicolas dari cusa’s Deludo globyBertalanffy dan Hermann Hasse’s Glasperlenspielyang mengamati bahwa pengerjaan dunia direfleksikan dalam sebuah desain yang cakap dan permainan yang abstrak.

Dalam pandangan Kohler sebuah sistem teori dimaksudkan untuk lebih mengerjakan sifat yang paling umum seperti properti organik daripada sistem organik untuk satu derajat, permintaan ini dipenuhi dengan teori sistem terbuka.

Kemampuan mengerjakan disebabkan oleh berbagai perkembangan baru teoritis, epistemologis, matematis dan lain–lain. Dalam hubungannya dengan pekerjaan eksperimen pada metabolisme dan pertumbuhan pada satu sisi dan sebuah usaha untuk mengkongkretkan sebuah program organismik pada sisi yang lain, teori sistem terbuka adalah sebuah lanjutan berdasar pada fakta yang biasa bahwa organisme adalah suatu sistem terbuka.

Seiring berjalannya waktu keberadaan sistem teori mulai diperhitungkan oleh banyak pihak, yang kemudian timbul usaha untuk menginterpretasikan ilmu pengetahuan dan teori yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Sistem teori umum ditanggapi sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin. Teori sistem sering diidentikkan dengan teori cybernatika dan control, meskipun hal ini tidak mutlak benar. Cybernatika sebagai sebuah teori pengendalian mekanis dalam teknologi dan alam, dalam pengertian informasi dan kilas balik, tetapi merupakan sebuah bagian dari sebuah sistem teori umum, sistem cybernatika merupakan kasus spesial tetapi penting dari sistem menunjukkan keteraturan sendiri.

2.2.1. Trend dalam Teori Sistem

Ketika hal baru di serukan sebagai sesuatu yang revolusioner banyak orang memakai istilah ini untuk menandai perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh ‘’revolusi ilmu pengetahuan’’ dapat diidentifikasi sebagai criteria diagnostic yang tertentu. Menurut pendapat Kuhn revolusi ilmu pengetahuan ditentukan oleh pemunculan bagan konsep yang baru atau paradigma. Dalam hal ini masalah sistem merupakan hal yang penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan. Aplikasi prosedur analisis tergantung pada dua kondisi yang pertama interaksi antara bagian yang tidak ada atau cukup lemah untuk dibiarkan untuk tujuan penelitian tertentu. Yang kedua dalam hubungannya dengan menerangkan perilaku bagian haruslah linier.

2.2.2. Sistem Teori Klasik

Teori Sistem Klasik menambah pada matematika klasik dengan tujuan untuk menyatakan prinsip yang digunakan pada sistem umum atau sub kelas yang ditentukan. Berbagai teori pendukungpun bermunculan untuk melengkapi pengapli-kasian teori sistem umum antara lain: Teori Bagian, Teori Set, Teori Grafik, Teori Jaringan, Cibernetika, Teori Informasi, Teori Automata, Teori Permainan, Teori Keputusan, dan Teori Pengantrian.

2.2.3. Arti Teori Sistem Umum

Ilmu modern dikarakterkan oleh spesialisasinya yang pernah meningkat, diharuskan dengan banyaknya jumlah data, kompleksitas tehnik dan struktur teoritis di semua bidang. Pada acara ini, kita merumuskan disiplin ilmu baru yang disebut “Teori Sistem Umum”. Pada teori sistem umum, subjek masalahnya adalah pada perumusan dan derivasi prinsip-prinsip yang valid untuk “sistem” secara umum. Arti disiplin ini dapat dikondisikan sebagai berikut: Fisika dihubungkan dengan sistem level-level generalitas yang berbeda. Ini diperluas dari sistem yang agak khusus, sperti yang diaplikasikan oleh insinyur pada konstruksi jembatan atau mesin, pada hokum khusus disiplin ilmu fisika seperti mekanik atau optik; pada hukum generalitas besar seperti prinsip termodinamika yang diaplikasikan pada sistem yang berbeda sifatnya secara intrisik, mekanik, kalorik, kimia atau yang lain. Dengan mendefinisikan konsep sistem, kita akan tahu bahwa model, prinsip dan hukum yang ada itu diaplikasikan pada sistem yang digeneralkan yang mengabaikan jenis, elemen dan “kekuatan” khusus yang terlibat.

2.3. Tujuan Teori Sistem Umum

Teori sistem umum merupakan keseluruhan yang sampai sekarang masih dianggap sebagai konsep yang semimetafisik dan tidak jelas. Dalam bentuk yang berelaborasi ini akan menjadi disiplin logis matematika secara formal tetapi dapat di aplikasikan pada berbagai ilmu empiris karena berhubungan dengan ‘’keseluruhan yang teroganisir’’ ini akan menjadi signifikasi yang hampir sama dengan yang dimiliki teori probabilitas untuk ilmu yang berhubungan dengan ‘’peristiwa kesempatan’’ yang berikutnya juga adalah disiplin matematika formal yang dapat diaplikasikan pada bidang yang paling berbeda, seperti termodinamika, percobaan biologi dan medis, genetik, statistik asuransi hidup dan sebagainya. Indikasi tujuan teori sistem umum, adalah sebagai berikut :

1.Ada tendensi umum melalui integrasi dalam berbagai ilmu alam dan sosial.

2.Beberapa integrasi nampaknya menjadi pusat dalam teori sistem umum.

3.Beberapa teori mungkin menjadi penting untuk menuju pada teori eksak dalam bidang atau ilmu non fisika.

4.Mengembangkan prinsip kesatuan yang dijalankan secara vertikal melalui universalnya ilmu individu, teori ini membawa kita lebih dekat pada tujuan kesatuan ilmu.

5.Lebih mengarah pada dibutuhkannya integrasi dalam pendidikan ilmiah.

2.4. Sistem Terbuka dan Sistem Tertutup

Fisika konvensional berkenaan hanya dengan sistem tertutup, sistem tertutup, sistem yang terisolasi terhadap lingkungan. Dalam teori kimia fisis dijelaskan reaksi-reaksi, rata-rata dan kesetimbangan kimia yang ditetapkan dalam bejana tertutup dimana sejumlah reaktan dijadikan satu. Hukum termodinamika menyatakan bahwa hukum tersebut hanya diterapkan pada sistem tertutup saja. Sedangkan setiap organisme yang hidup pada dasarnya merupakan sistem yang terbuka.

Mereka mempertahankan diri dalam sebuah pemasukan dan pengeluaran yang berkesinambungan, pembangunan dan kerusakan komponen-komponen, tidak pernah selama hidupnya berada dalam kesetimbangan kimiawi dan termodinamis, tapi tetap berada dalam sebuah keadaan tetap yang berbeda jauh dengan keadaan sebelumnya. Perumusan fisika yang terjadi tidak dapat dipakai oleh organisme hidup dengan sistem terbuka dan keadaan tetap, dan kita juga bisa menduga bahwa karakteristik sistem kehidupan yang beraneka ragam berlawanan asas dalam pandangan hukum-hukum fisika yang merupakan sebuah konsekuensi dari fakta ini.

2.5. Hubungan Sebab Akibat dan Teleologi

Tujuan ilmu pengetahuan sepertinya menjadi analitis yaitu pemecahan realitas menjadi unit-unit yang lebih kecil dan isolasi deretan hubungan sebab akibat yang inidvidualis. Karakteristik ilmu pengetahuan modern yang dipolakan menjadi unit-unit yang dapat dijauhkan dari hubungan sebab akibat telah terbukti tidak mencukupi, oleh sebab itu kenampakan dalam semua bidang ilmu pengetahuan, gagasan seperti keseluruhan, holistik, organisme, gestalt dan sebagainya, semuanya menandakan bahwa kita harus berfikir dalam terminologi sistem-sistem elemen dalam interaksi satu sama lain.

Sama halnya, gagasan teologi dan petunjuk terlihat seperti di luar jangkauan ilmu pengetahuan dan menjadi tempat bermain bagi hal-hal yang misterius, supranatural, asing bagi ilmu pengetahuan pengalihan, pemusatan pikiran bagi para peneliti yang percuma pada alam yang diatur oleh hukum-hukum yang tidak jelas tujuannya

2.6. Beberapa Konsep Sistem.

Konsep sistem menyatakan bahwa sebuah sistem dapat ditetapkan sebagai sekumpulan elemen atau unsur yang berdiri di dalam interrelasi. Sistem dapat ditetapkan secara matematis dengan berbagai cara. Sebagai ilustrasi, dapat dipilih sistem dari persamaan-persamaan diferensial simultan. Tak ada pembicaraan masalah finalitas yang mendetail, tetapi dapat disampaikan tipe finalitas, antara lain :

  1. Teleologi statis, berarti bahwa persesuaian berguna bagi tujuan tertentu.

2. Teleologi dinamis, berarti kelangsungan proses-proses.

Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Analogis secara ilmiah mungkin kurang bermanfaat, namun homologis sebaliknya seringkali menghadirkan model-model bernilai, sehingga secara luas dapat diterapkan dalam fisika. Sementara secara filsafat, teori sistem umum dalam bentuk perkembangannya, akan menggantikan apa yang dikenal dengan teori kategori.

 2.7. Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan

Selanjutnya seluruh hasil utama penyajian sebagai Kestuan Ilmu Pengetahuan dapat kita rangkum sebagai berikut :

1. Analisis prinsip sistem umum memperlihatkan banyak konsep yang merupakan hasil dari definisi sistem atau hasil kondisi sistem tertentu.

2. Investigasi ini merupakan prasyarat bermanfaat yang berkaitan dengan masalah nyata dalam ilmu pengetahuan.

3. Investigasi sama pentingnya dengan filsafat ilmu pengetahuan.

4.   Fakta bahwa prinsip-prinsip diterapkan dalam sistem secara umum.

 Dari sudut pandang kita, Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan memang terbukti nyata pada saat yang sama juga merupakan aspek yang lebih kentara. Realita dalam gagasan modern merupakan suatu urutan hirarkhis yang besar dari entitas terorganisir, mencakup seluruh tingkat dari sistem fisika, kimia hingga biologi. Penjelasan teori sistem umum pada masa yang akan datang, akan menjadi langkah utama terhadap penyatuan ilmu pengetahuan, dan akan memainkan peranan sama dengan logika Aristoteles dalam ilmu pengetahuan antiquiti. Dalam ilmu pengetahuan modern, interaksi dinamis menjadi suatu masalah besar dalam seluruh bidang realita dan prinsip-prinsip umumnya harus ditetapkan dengan teori sistem.

 2.8. Elemen dalam sistem

Pada prinsipnya, setiap sistem selalu terdiri atas empat elemen:

•     Objek, yang dapat berupa bagian, elemen, ataupun variabel. Ia dapat benda fisik, abstrak, ataupun keduanya sekaligus; tergantung kepada sifat sistem tersebut.

•     Atribut, yang menentukan kualitas atau sifat kepemilikan sistem dan objeknya.

•     Hubungan internal, di antara objek-objek di dalamnya.

•     Lingkungan, tempat di mana sistem berada.

 

Ada beberapa elemen yang membentuk sebuah sistem, yaitu : tujuan, masukan, proses, keluaran, batas, mekanisme pengendalian dan umpan balik serta lingkungan. Berikut penjelasan mengenai elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem :

2.8.1. Tujuan

Setiap sistem memiliki tujuan (Goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali. Tentu saja, tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda.

2.8.2. Masukan

Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah, sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya permintaan jasa pelanggan).

 

2.8.3. Proses

Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien.

 

2.8.4. Keluaran

Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan, dan sebagainya.

2.8.5. Batas

Yang disebut batas (boundary) sistem adalah pemisah antara sistem dan daerah di luar sistem (lingkungan). Batas sistem menentukan konfigurasi, ruang lingkup, atau kemampuan sistem. Sebagai contoh, tim sepakbola mempunyai aturan permainan dan keterbatasan kemampuan pemain. Pertumbuhan sebuah toko kelontong dipengaruhi oleh pembelian pelanggan, gerakan pesaing dan keterbatasan dana dari bank. Tentu saja batas sebuah sistem dapat dikurangi atau dimodifikasi sehingga akan mengubah perilaku sistem. Sebagai contoh, dengan menjual saham ke publik, sebuah perusahaan dapat mengurangi keterbasatan dana.

2.8.6. Mekanisme Pengendalian dan Umpan Balik

Mekanisme pengendalian (control mechanism) diwujudkan dengan menggunakan umpan balik (feedback), yang mencuplik keluaran. Umpan balik ini digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan.

2.8.7. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar sistem. Lingkungan bisa berpengaruh terhadap operasi sistem dalam arti bisa merugikan atau menguntungkan sistem itu sendiri. Lingkungan yang merugikan tentu saja harus ditahan dan dikendalikan supaya tidak mengganggu kelangsungan operasi sistem, sedangkan yang menguntungkan tetap harus terus dijaga, karena akan memacu terhadap kelangsungan hidup sistem

 

2.9. Klasifikasi Sistem

Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem abstrak (abstract system) dan sistem fisik (phisycal system).

a. Sistem abstak adalaah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak tampak secara fisik.

b. Sistem fisik merupakan sistem yang ada secara fisik

 

2. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem alamiah (natural system) dam sistem buatan manusia (human made system).

a. Sistem alamiah adalah sistem yang terjadi melalui proses alam, tidak dibuat oleh manusia.

b. Sistem buatan manusia adalah sistem yang dirancang olenh manusia.

3. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertentu (deterministic system) dan sistem tak tentu (probalistic system).

a. Sistem tertentu beropersi dengan tingkah laku yang sudah diprediksi.

b. Sistem tak tentu merupakan sistem yag kondisi masadepannya tak dapat diprediksinya karena mengandung unsur probalitas.

 4. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertutup dan sistem terbuka.

a. Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak berhubungan dan tidak terpengaruh oleh lingkungan luarnya.

b. Sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dan tepengaruh oleh lingkungan luarnya.

 

2.9.1. Karakteristik Sistem

Suatu sistem mempunyai karakteristik atas sifat-sifat yang tertentu, yaitu memiliki:

1. Komponen Sistem

Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi yang artinya saling kerjasama membentuk suatu kesatuan.komponen-komponen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagian-bagian dari sistem.

2. Batasan Sistem

Batasan sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batasan sistem memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai suatu kesatuan dan menunjukan ruang lingkup dari sistem tersebut.

3. Lingkungan Luar Sistem

Lingkungan dari luar sistem adalah apapun diluar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem.

4. Penghubung Sistem

Penghubung merupakan media yang menghubungkan antara satu subsistem dengan subsistem lainnya.

5. Lingkungan Luar Sistem

Masukan sistem adalah energi yang dimasukan kedalam sistem. Masukan dapat berupa masukan perawatan (Maintenance Input) dan masukan sinyal (Sinyal Input). Maintenance input adalah energi yang dimasukan supaya sistem tersebut dapat berjalan,signal input adalah energi yang diproses untuk mendapatkan keluaran dari sistem.

6. Keluaran Sistem

Keluaran sistem adalah energi yang diolah dan diklasifikasi menjadi keluaran yang berguna. Keluaran dapat merupan masukan untuk subsistem yang lain.

7. Pengolahan Sistem

Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolahan atau sistem itu sendiri sebagai pengolahannya. Pengolahan yang akan merubah masukan menjadi keluaran.

8. Sasaran Sistem

Suatu sistem pasti mempunyai tujuan atau sasaran, jika suatu sistem tidak mempunyai sasaran maka sistem tidak akan ada. Suatu sistem yang berhasil bila mengenai sasaran atau tujuannya. Sasaran sagat berpengaruh pada masukan dan keluaran yang dihasilkan.

2.10. Praktek Teori Sistem dalam Managemen Pendidikan

Keseluruhan penjelasan di bawah ini dapat diaplikasikan dalam ranah managemen pendidikan. Oleh karena semuanya berkaitan maka managemen pendidikan mutlak membutuhkan penerapan teori sistem yang telah memiliki aspek filosofis yang tidak diragukan lagi. Sistem berguna dalam managemen pendidikan untuk menetapkan dan mencapai:

1.     Tujuan

Setiap perilaku atau kegiatan dari sebuah sistem senantiasa diorientasikan pada sebuah tujuan tertentu. Tujuan dari sebuah sistem adalah menciptakan sesuatu yang berharga, sesuatu yang bernilai. Catatan : Tujuan sistem bisa lebih dari satu , akan tetapi dari beberapa tujuan itu tetaplah ada tujuan utamanya.

2.     Batas

Sebuah konsep untuk memisahkan sistem tersebut dengan lingkungan dan memisahkan sistem tersebut dari sistem lain yang lebih luas atau besar.

3.Keterbukaan

Sistem biasa dibedakan dua macam yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dengan lingkungannya, komponen2 nya dibiarkan mengadakan hubungan keluar dari batas luar sistem. Sebaliknya sistem tertutup adalah sistem yang terisolasi dari segala pengaruh luar sistem itu sendiri. Dalam kenyataanya sebenarnya tidak ada sistem yang benar2 tertutup, karena komponen2 nya senantiasa dipengaruhi oleh berbagai kekuatan  yang ada dilingkungannnya. Karena itulah maka dapat disimpulkan pada hakekatnya sistem itu bersifat terbuka.

4.Struktur sistem – sub sistem

Suatu sistem terdiri dari beberapa subsitem atau bagian yang lebih kecil, dan biasa juga disebut unsur atau komponen. Istilah komponen bisa diartikan:

1. Bagian-bagian fisik,

2. Langkah-langkah/cara,

3. Sub sistem yang kedudukannya lebih rendah atau lebih kecil.

a.Kebulatan / keseluruhan (“wholisme”)

Sistem sebagai satu keseluruhan bukanlah sekedar kumpulan dari bagian-bagian, pemahaman ini melandasi konsep sinergi yaitu tindakan yang terpadu atau kompak. Sinergi berkaitan dengan kemampuan bagian-bagian atau komponen sistem untuk mencapai tujuan atau sasaran bersama secara bersama-sama dengan demikian kebulatan muncul. Tujuan yang tunggal dan jelas akan mempermudah bagian-bagian menjadi satu kebulatan yang padu, sementara beragam tujuan akan kearah konflik diantara sub sistem yang bisa mencerai beraikan bagian-bagian tersebut. Untuk menjaga kebulatan yang utuh dan padu diperlukan usaha menyeimbangkan tujuan-tujuan yang berbeda, meyeimbangkan bagian-bagian dan lingkungannya. Dari sini tersirat keharusan untuk lebih mendahulukan kepentingan sistem secara keseluruhan dibandingkan kepentingan khusus anggota atau bagian.

b.Saling hubungan

Konsep saling hubungan mencerminkan adanya interaksi dan saling ketergantungan diantara berbagai bagian atau komponen sistem dan antara sistem dan lingkungan.

c.Proses tranformasi

Setiap sistem yang terbuka merupakan tempat mengolah, memproses, mengubah, mentranformasikan bahan2 yang disebut masukan (input) menjadi sesuatu yang bisa disebut keluaran (output). Dengan model seperti diatas dimungkinkan untuk melakukan analisis hasil akhir maupun analisis proses.

d.Mekanisme kontrol, penyesuaian  dan pengaturan diri.

Karena sistem mempunyai sifat terbuka dan saling hubungan antara bagiannya maka sistem akan tanggap terhadap keadaan atau tuntutan baik yang berasal dari bagian-bagiannya (internal) ataupun dari lingkungan (eksternal). Dengan kata lain sistem itu haruslah mampu mengatur dirinya sendiri dan mampu menyesuaikan dirinya dengan kondisi lingkungan maupun kondisi internal sistem.

Sistem adalah  kumpulan bagian-bagian yang memiliki keterhubungan yang bulat dan utuh bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu

Tujuan menggunakan pendekatan sistem dalam memahami realitas

  1. Memahami realitas secara holistik/menyeluruh/integral
  2. Mengetahui bagian-bagian /unsur pembentuk dalam sebuah realitas tertentu.
  3. Memahami keterkaitan antara masing-masing bagian dalam rangka mencapai tujuan.
  4. Mengetahui hal-hal yang memberikan pengaruh terhadap sebuah realitas sistem.
  5. Mengetahui hubungan sebab akibat dalam realitas sistem.

 

 III

KESIMPULAN

Teori Sistem Umum sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin ilmu tidak muncul begitu saja tetapi melalui perjalanan yang panjang dengan bantahan-bantahan yang muncul dan bersifat menentang karena pada waktu itu ilmu fisika dan kimia dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu sosial. Masalah sistem itu penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan.

Hal ini seharusnya diungkapkan pertama kali berawal dari ilmu-ilmu metafisik dan pertama kali diperkenalkan oleh Von Bertalanffy melalui bukunya General System Theory pada tahun 1928 dan merupakan awal konsep untuk memandang dan memecahkan masalah secara integral dan holistik. Memecahkan masalah hanya dengan satu ilmu pada waktu itu sudah tidak memadai, sehingga General System Theory sangat populer dan diakui oleh dunia Teori sistem umum juga sering diidentifikasi dengan teori cibernetika, sebagai sebuah teori pengendalian mekanis dalam teknologi dan alam, didirikan pada pengertian informasi dan feedback.

Isomorfisme dalam Ilmu Pengetahuan, bermaksud menunjukkan tujuan umum dan beberapa konsep umum dari teori sistem umum. Pada kasus yang sederhana, tujuan isomorfisme telah dapat dilihat seperti pada hukum eksponensial maupun hukum logistik. Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Sementara model organisme sebagai sistem terbuka telah terbukti bermanfaat dalam penjelmaan dan perumusan matematika berbagai fenomena hidup. Model ini juga menghasilkan masalah-masalah alam yang fundamental. Di sisi lain, teori sistem dalam psikologi dan psikiatri bukanlah penemuan baru yang harus dikontradiksikan. Konsep sistem adalah pembalikan teori robotik secara radikal. Dalam kondisi tertentu sistem terbuka mendekati suatu kondisi yang bebas waktu yang disebut sebagai kondisi tetap/mantap.

Dari pemikiran Bertalanffy tentang hal tersebut di atas jelas Bertalanffy mengemukakan pemikirannya tentang General System Theory yang telah berjasa dalam menghilangkan jurang pemisah antara ilmu-ilmu eksak dengan ilmu sosial. Masyarakat dunia semakin sadar bahwa dibutuhkan kesatuan dalam ilmu pengetahuan untuk mengatasi permasalahan yang muncul di belahan dunia manapun.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bertalanffy, L.V, 1968, General System Theory: Foundations, Development, Aplications, New York, George Braziller

 

Hersey, Paul dan Kenneth H. Blancard, 1995, Manajemen Perilaku Organisasi : Pendayagunaan Sumber Daya Manusia, Penerj. Agus Dharma, Edisi 4, Jakarta: Erlangga

Indrajit, Eko R, 2001, Analisis dan Perancangan Sistem Berorientasi Object. Bandung, Informatika.

 

ETIKA POLITIK: Maju-Mundur-Maju Lagi Caleg

Dalam hari-hari belakangan di bulan April ini, kata yang familiar didengar, diucapkan dan didiskusikan adalah DCS (Daftar Calon Sementara) dan DCT (Daftar Calon Tetap) untuk anggota legislatif. Para elit partai, para pengurus, para politisi dan kader serta simpatisan bergerilnya mencari calon “terbaik” untuk disodorkan sebagai bakal calon anggota legisltif yang bakal bertarung di Pileg 2014. Tidak ketinggalan pertimbangan memenuhi kuota 30% perempuan. Alhasil muncul polemik, wajah lama mendominasi DCS dari partai-partai besar.

Satu fenomena yang menarik adalah majunya kembali Sekjen Partai Demokrat, Putra Mahkota Cikeas, Menantu Menko Perekonomian HR, siapa lagi kalau bukan Edy Baskoro Yudhoyono (Ibas). Dulu tahun 2009 sang putra mahkota MAJU sebagai caleg dari Partai besutan Sang Ayah SBY partai Demokrat dari Dapil Jawa Timur. Apakah karena ketokohan sang ayah, atau karena platform dan jejaring partai, Ibas pun melenggang ke Senayan. Selama di Senayan sepak terjang Ibas mendapat sorotan yang tajam khususnya melalui kehadiran dan partisipasi aktif dalam berbagai sidang.

Atas nama berbagai alasan, Ibas memutuskan MENGUNDURKAN DIRI dari Senayan. Ada beberapa deretan alasan misalnya fokus pada urusan sang anak yang harus mendapatkan perawatan intensif. Lalu ditambah alasan demi fokusnya menjalankan tugas-tugas kepartaian, di tengah carut-marutnya Partai Demokrat. Dengan alasan kemanusiaan hal tersebut dapat dipahami. Etika mengajarkan kita untuk memahami secara menyeluruh situasi dan kondisi riil yang dialami oleh seseorang dalam proses pengambilan keputusan. Dalam etika kita tidak menegenal berdosa atau tidak berdosa, benar atau salah tetapi yang ada hanyalah BAIK dan Buruk. Tentu dalam perspektif etika politik tindakan Ibas mengundurkan diri dari posisi yang dipercayakan rakyat dapat dipahami dalam berbagai alasan. Mundur adalah tanda bahwa Ibas mengembalikan dan menyia-nyiakan kepercayaan rakyat. Artinya, kredit yang diberikan rakyat (konstituen) merupakan sebuah harga yang mahal. Kalau kemudian hari ternyata dia datang kembali meminta kredit yang sama, maka kemungkinannya bisa dua. Pertama boleh jadi konstituen bisa kembali memberikan kepercayaan untuk kedua kalinya. Kedua, sangat boleh jadi orang percaya pada pemeo bahwa “sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak dipercaya”. Atau repotnya lagi bila konstituen terlancur percaya pada kata bertuah, bahwa kesempatan baik tidak pernah datang dua kali.

Dalam perkara ini, hati nurani menjadi wujud tertinggi dari seorang anak manusia. Ketika dahulu berkeputusan untuk MAJU maka dia mengacu ke hati nuraninya, ketika dia mundur (menyia-nyiakan kepercayaan konstituen) hati nurani pula yang berbicara. Kini ketika berkeputusan kembali, kita ragu masihkah hati nurani berbisik sebenar-benarnya?

Rakyat kini sudah paham. Konstituen sudah pintar dan mereka tahu memberikan yang terbaik kepada orang yang layak diberikan kepercayaan. Dalam DCS yang diajukan Partai Demokrat Ibas kembali MAJU. Dari kacamata etika politik, kebijakan yang diambil oleh Partai tentu saja dapat dinilai sebagai langkah yang buruk karena secara etika orang bersangkutan sudah “lancung ke ujian”. Kalau nanti ternyata tidak terpilih artinya partai pengusung juga punya kontribusi dalam menggagalkan sang calon. Akan tetapi kalau ternyata di pileg nanti sang calon masih menang, bahkan mungkin menang telak, maka secara logika politik orang boleh menyimpulkan, bahwa rakyat bisa dibeli, rakyat belum bijak, rakyat tersandera oleh hallo effect, bias dan pertimbangan jangka pendek tanpa mempertimbangkan aspek etis dalam percaturan politik. Sebab bagaimana mungkin orang yang mencla-mencle tetapi masih sekali lagi mendapat kepercayaan.

Jika fenomena seperti ini masih diulangi oleh banyak partai di Republik Indonesia yang sama kita cintai ini, maka artinya pendidikan politik, etika politik, tatacara berpolitik berlandaskan etika, masih jauh panggang dari api. Itu artinya Etika Politik, mudah diucapkan. Gampang digembar gemborkan. Indah dibicarakan. Jelek dalam rupa. Hancur dalam aplikasi. Akarnya dari pendidikan yang belum mampu menanamkan etika sebagai panglima bagi seluruh aspek kehidupan.

Buitenzorg, Kota Hujan, April 2013