Sejak zaman Yunani Kuno ketika komunikasi masih bermain pada ranah komunikasi lisan dan dikenal dengan sebutan retorika, diingatkan untuk selalu membekali diri dengan ethos, pathos dan logos. Apa persisnya ketiga istilah yang selalu disebut dalam filsafat, etika dan komunikasi itu?

a. Ethos: berkaitan dengan “sumber kepercayaan” (source credibility) yang dibuktikan seorang orator bahwa dirinya memang mumpuni pada bidangnya, dan karena kepakarannya itu, seorang orator layak dipercaya.

b. Pathos: berurusan dengan “himbauan emosional” (emotional appeals) yang ditunjukkan seorang rhetor dalam menampilkan gaya dan bahasa yang mampu membangunkan kegairahan dengan semangat yang berapi-api di hadapan khalayak.

c. Logos: bertalian dengan “imbauan logis” (logical appeals) yang dibuktikan seorang orator bahwa uraian atau kajiannya sungguh-sungguh masuk akal sehingga layak diikuti atau dituruti oleh khalayak.

Meskipun ketiga pilar di atas telah menjadi panduan bagi para orator pada zaman Yunani Kuno, sudah ratusan tahun sebelum Masehi, namun tuahnya hingga kini masih mutlak dipegang oleh para pelaku komunikasi. Komunikasi yang kini tidak hanya berada dalam ranah lisan namun juga tulisan, komunikasi bermedia sebagai sumbangan revolusi teknologi informasi, melewati batas dan sekat dunia, wajib dipegang teguh oleh para pelakunya. Dari ketiganya, tentu ethos merupakan faktor yang paling mutlak oleh setiap komunikator. Manakalah seorang komunikator kehilangan nilai ethos dalam komunikasinya maka sangat mungkin apa yang dikomunikasikan akan menimbulkan efek bumerang dan berakibat fatal pada kehilangan kepercayaan, kehormatan, integritas dan kewibawaan. Pertanyaan penting yang layak diurutkan adalah: apa komponen etos dan apa saja faktor pendukung ethos? Berikut ini adalah komponen-komponen ethos:

1. Competensi, integritas dan tenggang rasa: Pada kondisi ini komunikan akan menentukan apakah mereka percaya bahwa komunikator memiliki kompetensi, kualitas dan good will dalam aktivitas komunikasi. Tugas seorang komunikator adalah membimbing komunikan untuk percaya, bahwa ia adalah seorang yang memiliki kemampuan, memiliki integritas dan memiliki tenggang rasa yang tinggi kepada para komunikannya. Komunikator menunjukkan ethos kepada komunikannya dengan jalan melakukan pilihan. Pada tahap awal pembinaan ethos, komunikator berusaha mengembangkan komponen tersebut dalam dirinya sendiri.

2. Faktor-faktor Pendukung Ethos: Sukses seorang komunikator ditentukan oleh kemampuan dalam mengadakan pilihan yang akan meningkatkan ethosnya dalam mata komunikan. Seorang komunikator mulain meningkatkan atau menurunkan ethosnya sejak saat komunikan sadar akan kehadiran sang komunikator. Untuk itulah hal-hal di bawah ini menjadi faktor pendukung yang menentukan kualitas komunikasi:

a. Persiapan (preparation): Ini merupakan faktor mutlak. Akan tetapi bila hanya memperhatikan persiapan saja belum cukup. Komunikator harus memperlihatkan kepada komunikan bahwa ia telah melewati persiapan. Sang komunikator harus menunjukkan kepercayaan mengenai persiapan ini bukan saja sewaktu ia berbicara, tetapi juga dalam tingkah lakuknya, sebelum dan sesudah berbicara.

b. Kesungguhan (seriousmess): Seorang komunikator yang sungguh-sungguh akan membangkitkan kepercayaan dari pada komunikator yang tidak melakukannya secara demikian. Seorang komunikator harus menangani subyeknya, audiense nya dan peristiwanya dengan sungguh-sungguh. Kita dapat menyaksikan begitu banyak orator politik yang sukses menyisipkan humornya ke dalam pidatonya, tetapi mereka dengan hati-hati pula menghindarkan diri reputasinya sebagai pelawak. Winston Churcill, kita kenal sebagai orator ulung yang biasa menggunakan humor ketika melakukan pidato di tengah situasi perang dunia kedua, namun ia juga begitu berhati-hati yang dapat mengesankan bahwa dirinya sedang tidak serius menghadapi perang dunia tersebut. Di bagian lain, Adlai Stevenson begitu tragis ketika berkampanye untuk kepresidenannya disebabkan para pendukungnya menganggap bahwa dia lebih layak menjadi seorang humoris ketimbang sebagai presiden.

c. Ketulusan (sincerity): Seorang komunikator harus menunjukkan kesan kepada audiense atau komunikannya bahwa ia adalah orang yang tulus dalam pikiran dan perbuatan. Sang komunikator yang mahir dapat menstimulus faktor ethos, jadi menciptakan kesan palsa dalam pikiran audiense. Namun, bila audiense mendapati kepalsuan dan ketidakjujuran maka sang komunikator akan menuai ketidakpercayaan dari audiensenya. Oleh karena itu cara terbaik bagi seorang orator ialah menumbuhkan ethos ini dengan kemampuan untuk memproyeksikan kualitas ini kepada para komunikannya.

d. Kepercayaan (confidence): Seorang komunikator harus senantiasa memancarkan kepastian. Untuk itu dia harus muncul dengan penguasaan diri dan situasi yang sempurna. Cara satu-satunya adalah dengan melakukan persiapan secara menyeluruh untuk segala situasi.

e. Ketenangan (Poise): Audiense akan cenderung mempercayai pembicara yang tenang, santai dalam pidatonya dan dalam situasi sosial di sekitar pidatonya, dan yang mempunya kesadaran akan kerahamahan yang memadai bagi peristiwa pidatonya. jadi, ketenangan dalam segala situasi pidato, baik di hadapan orang-orang penting maupun orang kebanyakan merupakan sesuatu yang krusial. Ketenangan dalam situasi pidato sendiri ditimbulkan ketika sang pembicara muncul di depan publik. Seoran pembicara yang berpengalaman akan mengangguk dengan tenang kepada pembicara lainnya, dengan tenang pula mengatur catatan atau bahan ppidatonya, dan mendengarkan dengan penuh perhatian yang sopan kepada pembicara lainnya tanpa menunjukkan reaksi kepada argumennya. Dan ketika, tiba saatnya dia berbicara, ia menghampiri mimbar dengan langkah yang pasti dan tenang serta penuh percaya diri, lalu setelah memberikan pernyataan terima kasih secara singkat dan sopan atas undangan kepadanya dan dapat bersama-sama dengan pembicara lainnya di sana, untuk kemudian menyajikan uraiannya. Dengan demikian, faktor ketenangan ini hanya berlaku dalam komunikasi lisan, khususnya orasi atau pidato.

f. Keramahan (friendship): Kita lebih mempercayai teman daripada orang yang belum kita kenal. Olehnya, komunikator harus menunjukkan dirinya sebagai seorang sahabat kepada mereka yang menyelenggarakan pertemuan itu terdapat perdebatan. Hal yang terakhir ini paling kurang menyatakan hormat.

g. Kesederhanaan (moderation): Umumnya komunikan menaruh kepercayaan dengan mudah kepada orang yang sederhana yang namun dalam pernyataannya masuk akal. Bagi seorang pembicara atau orator, biasanya akan menguntungkan bila ia memperlihatkan kesederhanaan. Gerak-gerik, bahasa tubuh dan mimik yang sederhana dan hindari apa yang disebut oleh anak mudah sekarang lebay. Kini orang lebih menyukai gerak gerik yang santai daripada yang kaku, berlebihan dan dibuat-buat. Hanya komunikator yang berpengalaman saja yang mengetengahkan istilah-istilah yang sederhana, mudah dicerna dan membuat hadirin mengangguk-angguk tanda setuju.

Dari pemaparan di atas, rasanya jelas bahwa dari sekian nilai yang harus dimiliki oleh komunikator dalam hubungan dengan komunikasi sebagai upaya mencapai kesepahaman adalah nilai ethos. Ethos membuat sesuatu yang sederhana dapat diangkat kepada level ultima, prima dan optima (pinjam istilah guru ethos). Semoga nilai-nilai yang dapat meningkatkan kualitas hidup, kualitas diri, kualitas pengetahuan yang ditimba dari kemampuan komunikasi dapat dipegang dan dieajahwantakan oleh para calon orator apalagi menjelang pemilihan umum mendatang. Salam Ethos, Pathos,….Logos…..untuk kehidupan yang lebih baik.

Kota Solo, Februari 2013.