Manusia sebagai penghuni planet bumi ditakdirkan sebagai makhluk paling mulia di antara ciptaan yang lain. Hal yang paling mendasar yang membedakan manusia dengan primata yang lain adalah kesadaran akan makna kehidupannya. Dari begitu banyak nilai yang memenuhi sejarah kehidupannya, nilai moral, nilai etis, adalah nilai yang paling tinggi. Oleh karena itu patut dibudayakan tagline seorang guru ethos Indonesia Jansen Sinamo bahwa ethos mengantar manusia menuju titik prima, ultima, optima dan sekaligus mengantar manusia yang sama ke titik bigger, higher, better.

Siapa sesungguhnya manusia itu? Jawabannya bergantung kepada perspektif mana orang berdiri. Saya coba mengacu kepada pertanyaan eksistensial untuk apa manusia diciptakan. Apakah manusia lahir karena kebetulan atau malahan manusia lahir tidak pernah kebetulan? Untuk apa manusia dilahirkan? Kemana manusia pergi setelah mengakhiri ziarah kehidupannya di dunia ini? Apakah segalah sesuatu yang dialami manusia merupakan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya ataukah sesungguhnya eksistensi manusia itu tidak pernah terlepas dari manusia yang lain. Jika demikian, maka apa yang membedakan manusia dengan primata lain, bila kedudukannya hanya sebatas sesama bagi yang lain?

Dari perspektif filosofis, dalam pandangan Immanuel Kant, manusia adalah mahkluk yang selalu merenungkan empat hal mendasar yaitu: pertama, apa yang dapat saya ketahui? Kedua, apa yang harus saya lakukan? Ketiga, apa yang boleh saya harapkan? Dan keempat, apa itu manusia? Pertama berhubungan erat dengan metafisika. Pertanyaan kedua bertalian dengan etika. Lalu pertanyaan ketiga berkorelasi dengan agama, sementara itu pertanyaan keempat, berurusan dengan agama. Dari sudut pandangan Kant, pertanyaan keempat merupakan satu-satunya pertanyaan yang bernuansa filsafat, karena ketiga pertanyaan yang lain dapat dikembalikan kepada pertanyaan apakah manusia itu. Di atas semuanya, orang bijak mengajak kita untuk selalu berupaya mengenal diri sendiri. Sokrates (430-399SM) berpendapat bahwa pengenalan diri merupakan pintu masuk untuk mengenal kebenaran-kebenaran lain dalam kehidupan ini. Atas dasar itulah keluar kata-kata terkenal dari mulut Sokrates “kenalilah dirimu sendiri”.

Dalam perkembangannya, di abad pencerahan, manusia diposisikan sebagai subyek yang berpikir. Maka manusia dituntut untuk selalu berpikir mandiri, yang kemudian menghasilkan adagium terkenal “sapere aude” (beranilah berpikir sendiri). Bagaimanapun, dalam kesempatan lain ada demikian banyak batasan tentang manusia sebagai “homo est animal rationale” (makhluk berakal budi), “homo homini Deus” (sebagai Allah bagi sesama), hingga “homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi sesama. Namun demikian, hadir filsuf lain yang menyangkal definisi tersebut bahwa manusia adalah “homo homini socius” (sahabat bagi sesamanya).

Sahabat di sini hanya dapat dipahami melalui perbuatan baik bagi sesamanya. Perbuatan baik tidak lain tidak bukan adalah nilai baik dan buruk yaitu etika. Kebaikan dan keburukan yang disandang manusia adalah stigma etos yang khas manusia. Nilai etis tidak dikenal oleh makhluk lain. Olehnya, tidak berlebihan bila manusia adalah juga homo ethos.

Shah Alam, Kuala Lumpur Juni 2009