Dalam hari-hari belakangan di bulan April ini, kata yang familiar didengar, diucapkan dan didiskusikan adalah DCS (Daftar Calon Sementara) dan DCT (Daftar Calon Tetap) untuk anggota legislatif. Para elit partai, para pengurus, para politisi dan kader serta simpatisan bergerilnya mencari calon “terbaik” untuk disodorkan sebagai bakal calon anggota legisltif yang bakal bertarung di Pileg 2014. Tidak ketinggalan pertimbangan memenuhi kuota 30% perempuan. Alhasil muncul polemik, wajah lama mendominasi DCS dari partai-partai besar.

Satu fenomena yang menarik adalah majunya kembali Sekjen Partai Demokrat, Putra Mahkota Cikeas, Menantu Menko Perekonomian HR, siapa lagi kalau bukan Edy Baskoro Yudhoyono (Ibas). Dulu tahun 2009 sang putra mahkota MAJU sebagai caleg dari Partai besutan Sang Ayah SBY partai Demokrat dari Dapil Jawa Timur. Apakah karena ketokohan sang ayah, atau karena platform dan jejaring partai, Ibas pun melenggang ke Senayan. Selama di Senayan sepak terjang Ibas mendapat sorotan yang tajam khususnya melalui kehadiran dan partisipasi aktif dalam berbagai sidang.

Atas nama berbagai alasan, Ibas memutuskan MENGUNDURKAN DIRI dari Senayan. Ada beberapa deretan alasan misalnya fokus pada urusan sang anak yang harus mendapatkan perawatan intensif. Lalu ditambah alasan demi fokusnya menjalankan tugas-tugas kepartaian, di tengah carut-marutnya Partai Demokrat. Dengan alasan kemanusiaan hal tersebut dapat dipahami. Etika mengajarkan kita untuk memahami secara menyeluruh situasi dan kondisi riil yang dialami oleh seseorang dalam proses pengambilan keputusan. Dalam etika kita tidak menegenal berdosa atau tidak berdosa, benar atau salah tetapi yang ada hanyalah BAIK dan Buruk. Tentu dalam perspektif etika politik tindakan Ibas mengundurkan diri dari posisi yang dipercayakan rakyat dapat dipahami dalam berbagai alasan. Mundur adalah tanda bahwa Ibas mengembalikan dan menyia-nyiakan kepercayaan rakyat. Artinya, kredit yang diberikan rakyat (konstituen) merupakan sebuah harga yang mahal. Kalau kemudian hari ternyata dia datang kembali meminta kredit yang sama, maka kemungkinannya bisa dua. Pertama boleh jadi konstituen bisa kembali memberikan kepercayaan untuk kedua kalinya. Kedua, sangat boleh jadi orang percaya pada pemeo bahwa “sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak dipercaya”. Atau repotnya lagi bila konstituen terlancur percaya pada kata bertuah, bahwa kesempatan baik tidak pernah datang dua kali.

Dalam perkara ini, hati nurani menjadi wujud tertinggi dari seorang anak manusia. Ketika dahulu berkeputusan untuk MAJU maka dia mengacu ke hati nuraninya, ketika dia mundur (menyia-nyiakan kepercayaan konstituen) hati nurani pula yang berbicara. Kini ketika berkeputusan kembali, kita ragu masihkah hati nurani berbisik sebenar-benarnya?

Rakyat kini sudah paham. Konstituen sudah pintar dan mereka tahu memberikan yang terbaik kepada orang yang layak diberikan kepercayaan. Dalam DCS yang diajukan Partai Demokrat Ibas kembali MAJU. Dari kacamata etika politik, kebijakan yang diambil oleh Partai tentu saja dapat dinilai sebagai langkah yang buruk karena secara etika orang bersangkutan sudah “lancung ke ujian”. Kalau nanti ternyata tidak terpilih artinya partai pengusung juga punya kontribusi dalam menggagalkan sang calon. Akan tetapi kalau ternyata di pileg nanti sang calon masih menang, bahkan mungkin menang telak, maka secara logika politik orang boleh menyimpulkan, bahwa rakyat bisa dibeli, rakyat belum bijak, rakyat tersandera oleh hallo effect, bias dan pertimbangan jangka pendek tanpa mempertimbangkan aspek etis dalam percaturan politik. Sebab bagaimana mungkin orang yang mencla-mencle tetapi masih sekali lagi mendapat kepercayaan.

Jika fenomena seperti ini masih diulangi oleh banyak partai di Republik Indonesia yang sama kita cintai ini, maka artinya pendidikan politik, etika politik, tatacara berpolitik berlandaskan etika, masih jauh panggang dari api. Itu artinya Etika Politik, mudah diucapkan. Gampang digembar gemborkan. Indah dibicarakan. Jelek dalam rupa. Hancur dalam aplikasi. Akarnya dari pendidikan yang belum mampu menanamkan etika sebagai panglima bagi seluruh aspek kehidupan.

Buitenzorg, Kota Hujan, April 2013