Orang bijak pernah berkata, jika Anda ingin mengenal dunia maka banyaklah membaca. Akan tetapi jika Anda ingin dikenal dunia maka tulislah buku. Ini senada dengan ungkapan atau sentilah orang bijak pandai lainnya yang mengatakan bahwa tulisan adalah warisan kebudayaan yang lebih bertahan dibandingkan dengan istana, pusaka, busana dan artefak lainnya. Piramida-piramida Mesir tentu dapat saja kalah abadinya dengan tulisan yang terkumpul dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Kedigdayaan Candi Borobudur bisa memudar tetapi goresan pena Sokrates dan Filsuf dari zaman ke zaman akan tetap abadi.

Oleh karena itu, pepatah Latin kuno: verba volant, scripta manent (yang terucap segera lenyap, sedangkan yang tertulis permanen) menjadi penting untuk digarisbawahi. Lisan dengan mudah akan menguap. Pergi bersama angin. Mengalir bersama sang waktu. Namun tulisan tetap menjadi pendukung kebudayaan dan peradaban manusia. Budaya tulis-menulis yang telah dikenal sejak 6 ribu tahun silam yang dimulai di Mesir dan Mesopotamia membuat peradaban dunia berkembang demikian cepat. Manusia hidup dan berkembang dalam kebudayaan. Kebudayaan memiliki basis tradisi lisan dan tulisan, namun tulisanlah yang lebih berdaya dorong kuat. Ingatan manusia demikian terbatas. Maka tulisan menjadi begitu penting.

Akan tetapi dalam keseharian kita, betapa sering kita menemukan fakta bahwa ada orang yang begitu pandai bicara, tulisannya tidak semenarik ucapannya. Sebaliknya ada pula orang yang begitu piawai dan indah dalam tulisan tetapi lisannya, ucapannya, perkataannya tidak seteratur, serapi dan seindah tulisannya. Amat jarang ditemukan orang yang memiliki kemampuan seimbang mengenai kedua kekuatan personal manusia tersebut. Yang ada malah banyak orang yang tidak memiliki keduanya.

Menulis itu perkara kebiasaan. Menulis merupakan kemampuan yang tidak hanya menghasilkan public name yang luas tetapi dapat juga membawa pengaruh ekonomis. Dari ulasan singkat ini, maka saya berkomitmen untuk membangunkan kembali  kebiasaan menulis yang pernah bertumbuh sangat subur ketika di SMA hingga ketika menjadi mahasiswa filosofen di STF Ledalero. Jika melihat tulisan dari teman-teman, penulis beken, penghasil book best seller dan penulis novel serta sejenisnya, seringkali muncul kecemburuan, mengapa dia bisa saya tidak bisa? Bukankah setiap hari saya juga membaca lebih dari 50 halaman buku dan koran, majalah selain media online? Tidak ada kata terlambat untuk membudidayakan kembali kemampuan yang mati suri itu. Sayang seribu sayang kalau draf tulisan, coretan, goresan, kumpulan hasil bacaan, permenungan disimpan dan didiamkan di laci-laci meja rumah dan kantor. Akan memberikan nilai yang tidak terhingga, lebih dari tidak terduga bagi sebanyak mungkin pembaca, bila itu disulam, dianyam dan disusun menjadi buku yang dapat menjadi legacy bagi anak cucu ke depan.

Kiranya goresan ini menjadi awal untuk pembiasaan selanjutnya. Saya ingin menjadikan pengalaman hidup saya menjadi lebih bermakna. Socrates telah menyentil saya “for man. the unexamined life is not worth living”.

Kota Hujan Bogor

Awal Maret 2014