Ketika jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter menjadi akrab dalam kehidupan manusia modern maka ketika itu, nyaris tidak ada lagi batas antara ruang privacy dan ruang publik. Celakanya tidak semua pengguna dan penggandrung media jejaring sosial ini sadar untuk membedakan jarang yang hanya sekuku hitam tadi. Oleh karena itu sebelum pesan atau status terupdate melalui sekali ketukan Enter maka seorang pengguna sejatinya membaca ulang, mempertimbangkan dan merefleksikan apakah tulisan tersebut membawa manfaat ataukah bakal membawa petaka di detik-detik kemudian.

Bila orang menyadari sepenuhnya langkah awal ini maka sebetulnya sadar atau tidak pengguna tersebut sedang mempraktekkan etika dalam bermedia jejaring sosial.Judul di atas bunga terakhir merupakan judul asalan saja, ketika di sore ini, saya mengupdate status tersebut sesungguhnya saya sedang mendengarkan lagu Bunga Terakhir-nya Beby Romeo. Sedetik kemudian puluhan jempol dan komentar muncul. Lalu saya harus “mempertanggungjawabkan” apa maksud bunga terakhir pada status tersebut. Yang pasti ini bunga dalam makna konotatis bukan makna denotatif. (Bagi mahasiswa saya yang sedang belajar makna kata dalam Logika maka pasti kata ini dapat ditafsirkan dalam berbagai makna) Ada teman yang berkomentar, wah yang lagi galau nih….Ada yang lain menambahkan, siapa tuh bunga terakhir. Cei…leh yang lagi berbunga-bunga.

Saya paham bahwa teman-teman yang memberika komentar tadi berangkat dari asumsi yang terlanjur diterima umum bahwa pada sentuhan cinta semua orang menjadi penyair. Padahal tidak sepenuhnya benar juga. Karena ada yang tengah jatuh cinta justru tidak dapat berbicara dan berbuat apa-apa, alias tidak terungkapkan dengan kata-kata. Itulah pandangan yang dapat diperdebatkan benar-salahnya alias proposisi.

Padahal maksud status yang tertulis dengan tema Bunga Terakhir adalah sebuah kenangan akan orang-orang yang tercinta yang telah mendahului kita menuju haribaan sang Khalik. Mengapa justru hari ini? Ya….dalam tradisi Gereja Katolik tanggal 2 November setiap tahun diperingati sebagai hari untuk mengenangkan dan mendoakan arwah yang telah meninggal. Atas dasar inilah saya menulis status yang kemudian dimultitafsirkan oleh teman di jejaring sosial FB dan akun twitter saya.

Pengalaman menarik ini memberikan petuah bahwa tidak semua niat baik, suci bahkan mulia dapat diterima secara demikian oleh para penerima pesan tersebut. Dalam etika komunikasi ini dikenal dengan istilah filtering sebelum menyampaikan pesan. Kepintaran dalam filtering belum otomatis membuat makna diterima secara utuh dan semestinya oleh penerima pesan. Kebijaksanaan belum tentu dipahami sebagai kebijaksanaan pula. Apalagi bila dilakukan secara serampangan alias careless. Oleh karena itu penting untuk mempertimbangkan impact dari setiap pesan dalam jejaring sosial.

Kembali kepada tema Bunga Terakhir satu hal yang pasti bahwa kenangan kita kepada mereka yang tercinta dan telah menghadap yang Maharahim akan tetapi menjadi bunga yang indah yang menghiasi kehidupan kita. Maka tidak berlebihan jika sang penyanyi Inggris Sir Elton John menggambarkan kepergian Lady Diana dengan sebuah lagu romantis “Goodbye England Rose” dalam judul Candle in the Wind. Semoga hikmah dari pengalaman saya di hari ini dapat menjadi pelajaran yang bermakna bagi siapa saja yang terlanjur menjadikan media jejaring sosial sebagai teman dalam kehidupan sehari-hari. Semoga….