Hari ini, Sabtu 8 Maret 2014 saya mendampingi ponakan yang diwisuda menjadi Ahli Madya Kebidanan dari STIKIM, STIKOM, STIKBA di Convention Hall SMESCO Building Kementerian Koperasi dan UKM Jakarta. Menarik disimak perjalanan kampus ini yang berdiri sejak tahun 2000 dengan diawali hanya 25 mahasiswa dan 9 orang dosen, kini di usianya ke 14 kampus ini telah berhasil menghasilkan 2000an lulusan.

Kampus yang memfokuskan program studi pada bidang kesehatan yaitu kebidanan, keperawatan, administrasi rumah sakit, asuransi kesehatan, hingga program studi lainnya berniat membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju. Kemajuan bangsa Indonesia perlu dimulai dari komitmen para lulusan yang hari ini diwisuda untuk memberikan yang terbaik kepada sesama yang membutuhkan bantuan agar menjadikan mereka tersenyum. Kini bangsa Indonesia sedang menangis. Para wisudawan melalui wakilnya yang memberikan sambutan berjanji untuk menjalankan profesi mereka dengan sepenuh hati sesuai sumpah profesi yang diucapkan di hadapan petingga almamater, orang tua wali dan para rohaniwan yang menyaksikan peristiwa bersejarah ini.

Kampus STIKIM ini tidak semegah dan seluas kampus-kampus lain di DKI Jakarta namun Ketua STIKIM, STIKOM menjelaskan bahwa mereka boleh berbangga karena DIKTI dan Kopertis Wilayah III Jakarta memberikan predikat sebagai salah satu kampus yang sehat di DKI. Sebuah predikat yang layak diberikan apresiasi. Sang Ketua STIKIM juga menghimbau agar para lulusan yang hari ini diwisuda untuk menjaga kesehatan, selalu mengukur lingkaran perut. Ini penting karena seiring selesainya jenjang studi, mendapat gelar baru, umumnya orang akan lebih prosper (makmur). Prosperity ini tergambar dalam makan yang berlebihan, yang lebih enak, dalam jumlah yang banyak dan akhirnya perut membuncit dan penuh dengan penyakit. Oleh karena itu tetaplah terus menjaga kesehatan dan terus berolahraga.

Ketua STIKIM juga menghimbau kalau memiliki uang yang banyak janganlah mengendarai mobil pribadi atau sepeda motor yang dapat memperparah kemacetan dan menjaga keamanan serta keselamatan di jalan. Selain itu, himbauan yang penting menurut catatan saya adalah agar para lulusan yang hari ini menjadi alumni agar tidak lagi wira wiri, repot-repot mencari pekerjaan, tetapi harus menciptakan pekerjaan untuk orang lain.

Era AFTA sudah dekat, ASEAN Community sudah di depan mata. Kita harus bersiap diri menghadapi persaingan yang makin ketat. Penguasaan bahasa asing dan penguatan kompetensi memungkinkan kita menang dalam persaingan. Jika memungkinkan kampus tetap menanti para alumni untuk kembali melanjutkan pendidikan demi Indonesia yang lebih maju.

Point-point di atas menarik untuk direnungkan. Sesuatu yang besar dimulai dari hal-hal kecil. Lari marathon berpuluh-puluh kilometer diawali sebuah langkah. Nilai-nilai yang besara yang dapat mengubah dunia umumnya berangkat dari mimpi-mimpi kecil namun tetap realistis. Perjalanan kampus ini telah membuktikan betapa kebesaran itu diperolah dari hal-hal yang bersahaja. Tidak ada gunanya membanggakan profil kampus jika para lulusan minim karakter dan masih sulit mendapatkan pekerjaan alias pengangguran. Citra itu penting, tetapi lebih penting lagi nilai-nilai moral, nilai-nilai etis yang dipegang teguh oleh para alumninya ketika mereka terjun ke dalam universitas kehidupan, the real university. Tempat Indeks Prestasi Kumulatif tidak lagi menjadi standar keberhasilan akan tetapi Indeks Prestasi Kehidupan menjadi titik tuju.

Sambutan-sambutan begitu pratis, sederhana dan jauh dari jargon-jargon akademik yang tinggi dan mungkin sulit diraih. Mereka bicara berdasarkan fakta dan kemampuan yang ada. Mereka tidak bicara tentang pencitraan dan mimpi-mimpi yang entah kapan bisa disambut. Kampus memang sejatinya mempersiapkan para mahasiswanya agar memiliki kompetensi akademik, moral dan karakter yang kuat. Kata kuncinya adalah pada keseimbangan antara pikiran dan hati agar menghasilkan pelayanan yang bermutu dan berdaya guna bagi mereka yang membutuhkan.

Indonesia membutuhkan manusia yang tidak hanya pintar secara akademis tetapi memiliki kepandaian dan kompetensi etis, moral dan karakter maju. Sumpah dan janji yang diucapkan di hadapan Tuhan dan sesama merupakan pedoman dalam bertindak dan berkarya. Saya teringat sebuah kalimat berkaitan dengan sumpah atau kaul bahwa : Tuhanlah adalah Allah yang cemburu, jika sumpah yang hari ini kau ucapkan besok kau ingkari. Selamat dan sukses untuk para wisudawan.

SMESCO Gatsu, 08 Maret 2012