PENGARUH KONDISI SOSIAL BUDAYA TERHADAP PENDIDIKAN DAN PERANAN PENDIDIKAN DALAM PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN NASIONAL

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  1. Manusia sebagai makhluk sosial, tidak dapat hidup secara individu, selalu berkeinginan untuk tinggal bersama dengan individu-individu lainnya. Keinginan hidup bersama ini terutama pada aktivitas hidup yang berhubungan dengan lingkungannya. Dalam menjawab tantangan alam, manusia saling berhubungan satu dengan yang lain, sehingga suatu masyarakat dan aturan yang menyebabkan suatu hubungan antar individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Adanya norma-norma, adat istiadat, kepercayaan dalam suatu masyarakat, semuanya berhubungan dengan keseimbangan. Agar tercipta suatu hubungan yang serasi, baik dalam pengelolaan alam maupun dalam hubungan sosial. Melihat hubungan tersebut maka kebudayaan menjadi mekanisme kontrol bagi kelakuan manusia. Adanya tantangan alam dan respon masyarakat, mengakibatkan kehidupan ini berkembang menjadi masyarakat menjadi dinamis. Setiap saat timbul berbagai pemikiran untuk memberikan respon terhadap tantangan alam tersebut. Dinamika masyarakat memberikan kesempatan kebudayaan untuk berkembang. Secara singkat dapat dikatakan bahwa tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat, dan tidak ada masyarakat tanpa kebudayaan sebagai wadah pendukung. Sehingga dapat dikatakan bahwa kebudayaan dan masyarakat merupakan satu kesatuan sistem.
  1. Pendidikan di sekolah bukan hanya ditentukan oleh usaha murid secara individual atau berkat interaksi murid dan guru dalam proses belajar-mengajar, melainkan juga oleh interaksi murid dengan lingkungan sosialnya dalam berbagai situasi sosial yang dihadapinya di dalam maupun diluar sekolah. Anak itu berbeda-beda bukan hanya karena berbeda bakat atau pembawaannya akan tetapi terutama karena pengaruh lingkungan sosial yang berlain-lainan. Ia datang kesekolah dengan membawa kebudayaan rumah tangganya, yang mempunyai corak tertentu, bergantung antara lain pada golongan atau status sosial, kesukuan,agama, nilai-nilai dan aspirasi orang tuanya. Di sekolah ia akan memilih teman, kelompok,yang ada pada suatu saat akan sangat mempengaruhi tingkah lakunya. Selanjutnya anak dipengaruhi oleh kepala sekolah dan guru-guru, yang masing-masing mempunyai kepribadian sendiri-sendiri yang antara lain terbentuk atas golongan sosial dari mana ia berasal dari orang-orang yang dipilihnya sebagai kelompok pergaulannya.
  1. Pendidikan dapat di pandang sebagai sosialisasi, yang terjadi dalam interaksi sosial. Oleh karena itu sudah sewajarnya seorang pendidik harus berusaha menganalisa lapangan pendidikan dari segi sosiologi, mengenai hubungan antara manusiawi dalam keluarga di sekolah, diluar sekolah,dalam masyarakat dan sistem-sistem sosialnya. Selain memandang anak sebagai makhluk sosial, sebagai anggota dari berbagai macam lingkungan sosial.
  1. Kondisi sosial budaya suatu masyarakat akan berpengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan disuatu daerah, tempat dimana manusia hidup, sedang pendidikan memiliki peranan penting dalam mengembangkan dan memajukan kebudayaan dari suatu bangsa, termasuk dalam hal ini bangsa Indonesia, keduanya akan saling sinergi dan saling melengkapi menuju peningkatan kemajuan peradaban dan budaya bangsa Indonesia.
  1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahnya adalah :

  1. Bagaimana pengaruh kondisi sosial budaya terhadap pendidikan ?
  2. Bagaimana peranan pendidikan dalam pembangunan kebudayaan nasional ?
  3. Pengaruh Kondisi Sosial Budaya Terhadap Pendidikan
  1. Pelaksanaan pendidikan sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan antara lain aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan di suatu negara. Salah satu aspek yang menjadi pembahasan dalam naskah ini adalah pengaruh kondisi sosial budaya terhadap pendidikan.

Kondisi sosial budaya dalam kehidupan masyarakat tentu akan berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan. Kondisi sosial budaya masyarakat tersebut dipengaruhi oleh kondisi geografis, demografis, ekonomi, sumber daya alam serta adat istiadat dan peradaban yang telah ada dalam masyarakat itu. Masyarakat agraris dengan masyarakat industri akan berbeda paradigma dan cara pandangnya dalam menyikapi masalah pendidikan, demikian juga kondisi masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan tentu akan berbeda pendekatan dan kebutuhannya dalam memenuhi kebutuhan pendidikannya. Masyarakat yang sudah maju cara berfikirnya dengan masyarakat yang masih terbelakang cara berfikirnya juga akan berbeda dalam menyikapi terhadap kebutuhan akan pendidikan.

  1. Kondisi sosial budaya masyarakat akan mempengaruhi terhadap kualitas penyelenggaraan dan hasil pendidikan. Beberapa contoh yang dapat digambarkan sebagai suatu kondisi sosial budaya yang memperngaruhi pendidikan misalnya: Modernisasi di barat, bukan hanya menawarkan mekanisasi produksi untuk meningkatkan hasil ekonomi. Akan tetapi membawa paradigma mekanistik dalam memandang manusia dalam penyelenggaraan pendidikan. Sering kondisi sosial budaya barat dapat mengantarkan manusia pada jurang dehumanisasi, dimana akar spiritual dikesampingkan pada sisi kemanusiaan. Sementara disisi lain, berdasar logika oposisi modern-tradisional, maju dari terkebelakangan, barat-timur, rasional-irasional dan dikotomi lainnya, budaya barat memposisikan non barat sebagai terkebelakang dan mesti dimodernisasi. Dari pintu inilah, westernisasi membonceng di modernisasi. Sehubungan dengan dehumanisasi yang diakibatkan oleh modernisasi dan westernisasi, Maurice Borrmans dalam sumbangan tulisannya pada buku Dialektika Peradaban (2002:108) berkomentar: Dengan penyalahgunaan rasionalisme dan sekularismenya, Barat cenderung melakukan perbaikan kondisi kemanusiaan, kosong dari ajaran spiritual.

Sehubungan dengan hal ini, kita dapat menarik pendapat sementara bahwa, kebudayaan yang tidak berakar pada konsepsi makro kosmos dan keseimbangan semesta maka akan mengalami dehumanisasi dan mengantarkan manusia pada jurang kehancuran. Dalam buku Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya (2003:137), Alo Liliweri mengatakan :

…setiap kebudayaan harus memiliki nilai-nilai dasar yang merupakan pandangan hidup dan sistem kepercayaan dimana semua pengikutnya berkiblat. Nilai dasar itu membuat para pengikutnya melihat diri mereka ke dalam, dan mengatur bagaimana caranya mereka keluar. Nilai dasar itu merupakan filosofi hidup yang mengantar anggotanya ke mana dia harus pergi…

  1. Melihat kebudayaan masyarakat Indonesia, maka kita akan menemukan nilai-nilai luhur yang begitu tinggi. Akan tetapi disisi lain, kita juga akan menemukan beberapa hal yang sudah tidak relevan lagi. Menjadi pertanyaan bagi kita semua hari ini adalah, bagaimana melakukan pemilahan terhadap kebudayaan kita sehingga hal-hal yang tidak relevan, ditinggalkan dan hal-hal yang masih relevan tetap dipertahankan. Pertanyaan ini juga berlaku untuk kebudayaan asing yang juga harus dipilah. Sehingga kebudayaan asing yang relevan, dapat kita serap dan kebudayaan asing yang tidak relevan dapat kita tolak.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kondisi sosial budaya dan tingkat kemajuan peradaban masyarakat akan mempengaruhi perkembangan pendidikan pada umumnya.

  • Peranan Pendidikan dalam Pembangunan Kebudayaan Nasional
  1. Pendidikan dan kebudayaan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Salah satu prinsip pendidikan dalam Sisdiknas adalah bahwa Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, artinya bahwa pendidikan berperan penting dalam melakukan proses untuk pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung selama hidup. Makna pembudayaan ini antara lain adalah pendidikan harus mampu menginternalisasi, mensosialisasikan dan memberikan pemahaman dan pembentukan nilai-nilai budaya yang ada di bangsa kita.

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia secara manusiawi, disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi sosialnya.

Kebudayaan berkembang dari waktu ke waktu karena kemampuan belajarmanusia Tampak disini bahwa kebudayaan itu selalu bersifat historis, artinya proses yang selalu berkembang.

Kebudayaan bersifat simbolik, sebab kebudayaan bersifat ekspresi, ungkapankehadiran manusia. Suatu ekspresi manusia, kebudayaan ini tidak sama denganmanusia. Kebudayaan disebut simbolik, sebab mengekspresikan manusia dan segalaupayanya untuk mewujudkan dirinya.

Kebudayaan adalah sistem pemenuhan berbagai kebutuhan manusia. Tidak seperti hewan, manusia memenuhi segala kebutuhannya dengan cara-cara yang beradab, atau dengan cara-cara manusiawi.

Menurut Kerber dan Smith (Imran Manan, 1989) menyebutkan ada 6 fungsi utama kebudayaan dalam kehidupan manusia yaitu :

  1. Penerus keturunan dan pengasuh anak
  2. Pengembangan kehidupan ekonomi
  3. Transmisi budaya
  4. Meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  5. Pengendalian sosial
  6. Rekreasi
  1. Peranan Pendidikan dalam kebudayaan

Brameld telah menulis bukunya mengenai “Cultural Foundation of Education (1957)”. Dan banyak lagi tulisan-tulisan lainnya yang menempatkan betapa peranan pendidikan di dalam proses membudaya.

Peranan pendidikan di dalam kebudayaan dapat kita lihat dengannyata di dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar  jumlah dari kepribadian-kepribadian. Di dalam hal ini kita kenal mengenaiiteori superorganik kebudayaan dari Kroeber. Namun demikian, teori Kroeber tersebut tidak seluruhnya dapat diterima. Para pakar antopologi, juga antropologi pendidikan menunjuk kepada peranan individu bukan hanya sebagai bidak-bidak di dalam papan catur kebudayaan. Individu adalah kreator dan sekaligus manipulator dari kebudayaannya. Di dalam pengembangan kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaan akan dapat berkembang melalui kepribadian-kepribadian tersebut. Inilah yang disebut sebab-akibat sirkuler antara kepribadian dankebudayaan. Pranata sosial yang disebut sekolah harus kondusif untuk dapat mengembangkan kepribadian yang kreatif

Ruth Benedict menyatakan bahwa kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah diturunkan seperti tingkah laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi. Di sini kita lihat betapa pentingnya peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia. Para ahli psikologi behaviorisme melihat kelakuan manusia sebagai suatu rekasi dari rangsangan dari sekitarnya. Di sinilah peranan pendidikan didalam pembentukan kelakuan manusia. John Gillin menyatukan pandangan behaviorisme dan psikoanalis mengenai perkembangan kepribadian manusia sebagai berikut:

  1. kebudayaan memberikan kondisi yang disadari dan yang tidak disadari untuk belajar
  2. kebudayaan mendorong secara sadar ataupun tidak sadar akan reaksi-reaksi kelakukan tertentu. Jadi selain kebudayaan meletakkan kondisi yang terakhir ini kebudayaan merupakan perangsang-perangsang untuk terbentuknya kelakuan-kelakuan tertentu
  3. kebudayaan mempunyai sistem “reward and punishment ” terhadap kelakuan-kelakuan tertentu.

Setiap kebudayaan akan mendorong suatu bentuk kelakuan yang sesuai dengan sistem nilai dalam kebudayan tersebut dan sebaliknya memberikan hukuman terhadap kelakuan-kelakuan yang bertentangan atau mengusik ketentraman hidup suatu masyarakat tertentu

  1. kebudayaan cenderung mengulang bentuk-bentuk kelakuan tertentu melalui proses belajar.

Pada dasarnya pengaruh tersebut dapat dilukiskan sebagai berikut :

  1. Kepribadian adalah suatu proses. Seperti yang telah kita lihat kebudayaan juga merupakan suatu proses. Hal ini berarti antarapribadi dan kebudayaan terdapat suatu dinamika.
  2. Kepribadian mempunyai keterarahan dalam perkembangannya untuk   mencapai suatu misi tertentu. Keterarahan perkembangan tersebut tentunya tidak terjadi di dalam ruang kosong tetapi di dalam suatu masyarakat manusia yang berbudaya.
  3. Dalam perkembangan kepribadian salah satu faktor penting ialah Manusia tanpa imajinasi tidak mungkin mengembangkan kepribadiannya. Hal ini berarti apabila seseorang hidup terasing seorang diri tnapa lingkungan kebudayaan maka dia akan memulaidari nol di dalam pengembangan kepribadiannya.
  4. Kepribadian mengadopsi secara harmonis tujuan hidup di dalam masyarakat agar ia dapat hidup dan berkembang. Yang paling efisien adalah dia secara harmonis menacri keseimbangan antara tujuan hidupnya dengan tujuan hidup dalam masyarakatnya.
  5. Di dalam pencapaian tujuan oleh pribadi yang sedang berkembang itu dapat dibedakan antara tujuan dalam waktu yang dekat dan tujuan dalam waktu yang panjang.
  6. Learning is a goal teaching behaviour.
  7. Dalam psiko analisis antara lain dikemukakan mengenai peranan super ego dalam perkembangan kepribadian. Super ego tersebut tidak lain adalah dunia masa depan yang ideal.
  8. kepribadian juga ditentukan oleh bawah sadar manusia. Bersama-sama dengan ego, beserta id, keduanya merupakan energi yang adadi dalam diri pribadi seseorang. Energi tersebut perlu dicarikan keseimbangan dengan kondisi yang ada serta dorongan super ego yang diarahkan oleh nilai-nilai budaya. Bidney menyatakan bahwa individu bukan pemilik pasif dari nilai-nilai sosial budaya tetapi jugaaktif di dalam menciptakan dan mengubah kebudayaannya. Salah satu proses yang luas dikenal mengenai kebudayaan adalah transmisi kebudayaan. Artinya kebudayan itu ditransmisikan dari satugenerasi kepada generasi berikutnya. Bahkan banyak ahli pendidikan yang merumuskan proses pendidikan tidak lenih dari proses transmisi kebudayaan. Manusia atau pribadi adalah aktor dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Dengan demikian kebudayaan bukanlah suatu “entity ” yang statis tetapi sesuatu yang tersu menerus berubah.
  1. Sekolah sebagai Pusat Kebudayaan

Manusia dan kebudayaan adalah ibarat dua sisi dari satu mata uang. Manusia membentuk kebudayaan, dan kebudayaan menentukan kualitas kehidupan manusia. Kita telah memahami mengenai tahap perkembangan kebudayaan yang dimulai dari usage, mores, folkways hingga customs yang membentuk aturan bagi tata cara perilaku manusia sebagai individu dan manusia sebagai anggota masyarakat.

Pendidikan merupakan salah satu proses dasar pembentukan budaya, dan karena itu disebut sebagai centre of culturalization. Pusat pembudayaan. Pembahasan tentang karakter, etos, patos dan logos merupakan bagian yang integral dalam proses pembudayaan. Logos menentukan etos, etos membangun patos yang menyata dalam perilaku sehari-hari yang kemudian membentuk budaya.

Mempelajari dan memperhatikan sekolah sebagai pusat kebudayaan diharapkan akan memperoleh berbagai manfaat sebagai berikut :

  1. sebagai guru/dosen dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah dimana ia bekerja dan memperoleh nafkah serta mendarmabaktikan dirinya  pada kehidupan. Sebagai pusat pembudayaan maka sebagaimana dirintis oleh negara-negara maju universitas sejatinya merupakan city of intelectual. Lingkungan sekolah yang bercirikan akademik dan intelek hanya dibangun dalam suasana yang khas akademis. Lingkungan pendidikan harus dihuni oleh insan yang berkecimpung dalam bidang pendidikan, dan semua yang mendiami kawasan tersebut adalah mereka yang bekerja untuk universitas atau perguruan tinggi.
  2. sebagai guru/dosen dapat membantu para peserta didik agar dapat menghayati bahwa lingkungan sekolah adalah pusat kebudayaan, bekal-bekal untuk menciptakan lingkungan sekolah pada tempat mereka bekerja nanti, dapat juga merupakan pusat kebudayaan yang bermanfaat bagi lingkungan sosialnnya dan lingkungan kemanusiaan. Ideal ini hanya dapat diwujudkan bila para dosen dan mahasiswa berada pada satu titik yang sama, dengan demikian interaksi intelektual dapat berlangsung secara terus menerus sehingga menjadi budaya. Budaya intelektual itulah yang memungkinkan manusia hidup dan berkembang serta tercabut dari akar budayanya masing-masing. Hal ini penting karena pendidikan sejatinya harus mengantar manusia menuju akhlak mulia dan terbebas dari lokalitas masing-masing individu.
  3. Agar dapat berperan secara aktif dalam mewujudkan sekolah sebagai pusat kebudayaan, maka beberapa hal perlu dilakukan oleh para pendidik, beberapa hal tersebut antara lain :
  • Setiap pendidik hendaknya bersikap inovatif serta peka terhadap perkembangan dan tuntutan masyarakat, terutama dalam era globalisasi. Antara pendidik dan peserta didik dibutuhkan keberanian dan kemauan untuk terus menerus melakukan inovasi.
  • Pendidik harus mampu membelajarkan peserta didiknya dengan menciptakan suasana belajar yang menarik. Suasana yang menyenangkan membawa peserta didik untuk masuk ke dalam suasana joy of learning. (Soedjarto, 2000: 70)
  • Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut dengan baik, pendidik hendaknya telah menguasai dan mengoperasikan kompetensi profesionalnya. Untuk mencapai kriteria profesional tidak terlepas juga dari proses pendidikan. Proses pendidikan mempersiapkan para pendidik untuk menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan profesional.
  • Pendidik hendaknya dapat menjadi teladan bagi para peserta didik serta warga masyarakat sekitarnya dalam rangka menciptakan sekolah sebagai pusat Pendidikan sebagai proses pembiasaan dan pembudayaan tidak pernah terlepas dari peran sentral para pendidik. Hasil yang maksimal dapat terwujud jika pertemuan yang intens dan berkelanjutan antara pendidik dan peserta didik terjadi pada satu titik city of intelectual.
  • Pendidik hendaknya mampu menumbuh kembangkan kesadaran para peserta didiknya agar selalu ingin belajar, baik di sekolah maupun diluar sekolah. Hal ini berkaitan dengan kemampuan, kemauan dan tanggung jawab dari para pendidik untuk membawa para peserta didik untuk masuk ke dalam kondisi joy of learning karena guru atau pendidik berhasil menciptakan semangat active learning (Soedijarto, 2000: 70).
  1. Sekolah dan Perubahan Masyarakat.

Keberadaan sekolah adalah berdasar pada pertimbangan atau atas dasar anggapan dan kenyataan bahwa pada umumnya para orang tua tidak mampu mendidik anak mereka secara sempurna dan lengkap.

Karena itu mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk mendidik anak-anak mereka. Dengan sekolah mereka berharap ia mengalami perubahan dalam kehidupannya baik untuk memperoleh pekerjaannya yang baik maupun untuk meningkatkan derajat hidup dan prestise di dalam masyarakat. Oleh karenanya banyak orang yang sekolah sampai ketingkat yang lebih tinggi.

Sekolah yang mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan. Anak yang menamatkan sekolah diharapkan sanggup melakukan pekerjaan sebagai mata pencarian atau setidaknya mempunyai dasar untuk mencari nafkahnya. Makin tinggi pendidikan makin besar harapannya memperoleh pekerjaan yang baik. Ijazah masih dijadikan syarat penting untuk suatu jabatan. Walaupun ijazah itu sendiri belum menjamin kesiapan seseorang untuk melakukan pekerjaan tertentu. Akan tetapi dengan ijazah yang tinggi seorang dapat memahami dan menguasai pekerjaan kepemimpinan atau tugas lain yang dipercayakan kepadanya. Memiliki ijazah perguruan tinggi merupakan bukti akan kesanggupan intelektualnya untuk menyelesaikan studinya yang tidak mungkin dicapai oleh orang yang rendah kemampuannya. Sekolah yang ditempuh seseorang banyak menentukan pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang.

  1. Sekolah memberikan keterampilan dasar. Orang yang telah bersekolah setidak-tidaknya pandai membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam tiap masyarakat modern. Selain itu diperoleh sejumlah pengetahuan lain seperti sejarah, geografi, kesehatan, kewarganegaraan, fisika dan lain-lain yang membekali anak untuk melanjutkan pelajarannya, atau memperluas pandangan dan pemahamannya tentang masalah-masalah dunia.
  2. Sekolah yang membuka kesempatan memperbaiki nasib. Sekolah sering dipandang jalan bagi mobilitas sosial. Melalui pendidikan orang dari golongan rendah dapat meningkat ke golongan yang lebih tinggi. Orang tua mengharapkan agar anank-anak mempunyai nasib yang baik dan karena itu berusaha untuk menyekolahkan anaknyajika mungkin sampai memperoleh gelar dari suatu perguruan tinggi, walaupun sering dengan pengorbanan besar mengenai pembiayaan.
  3. Sekolah menyediakan tenaga pembangunan. sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.
  4. Masalah-masalah sosial diharapkan dapat diatasi dengan mendidik generasi muda untuk mengelakkan atau mencegah penyakit-penyakit sosial seperti kejahatan, pertumbuhanpenduduk yang melewati batas, pengrusakan lingkungan,kecelakaan lalu lintas, narkotika dan
  5. Sekolah mentransmisi dan menstraformasi kebudayaan.

Proses transmisi meliputi proses-proses imitasi, identifikasi dansosialisasi. Imitasi adalah meniru tingkah laku dari sekitar. Pertama-tamatentunya imitasi di dalam lingkungan keluarga dan semakin lama semakinmeluas terhadap masyarakat lokal. Transmisi unsur-unsur tidak dapatberjalan dengan sendirinya. Seperti telah dikemukakan manusia adalah aktor dan manipulator dalam kebudayaannya. Oleh sebab itu, unsur-unsur tersebutharus diidentifikasi. Proses identifikasi itu berjalan sepanjang hayat.

  1. Sekolah membantu manusia secara sosial.

Kebudayaan lahir dari pengetahuan logika (benar-salah), etika (baik-buruk) dan estetika (indah-jelek) suatu kelompok manusia yang kemudian dibiasakan dari generasi ke generasi. Tiap suku, kaum atau komunitas, membangun kebudayaannya masing-masing selama beberapa generasi. Lebih lanjut, Prof Dr. Irwan Abdullah dalam bukunya Konstruksi dan Reproduksi kebudayaan (2006:51) menegaskan :

Kebudayaan bagi suatu masyarakat bukan sekedar sebagai frame of reference yang menjadi pedoman tingkah laku dalam berbagai praktik sosial, tetapi lebih sebagai “barang” atau materi yang berguna dalam proses identifikasi diri dan kelompok. Sebagai kerangka acuan kebudayaan telah merupakan serangkaian nilai yang disepakati dan yang mengatur bagaimana sesuatu yang bersifat ideal diwujudkan.

Kebudayaan ini berkembang sebagai hasil interaksi manusia dengan sesama manusia, dengan alam sekitar dan dengan penciptanya (perkecualian untuk budaya materialisme barat yang tidak berurusan dengan Tuhan)

Revitalisasi kebudayaan dan kesejarahan tentu kita tidak bebankan hanya pada sektor pendidikan formal dengan penjenjangannya (Pendidikan Dasar, Menengah dan Tinggi) semata. Tapi juga pendidikan Informal dan Non Formal. Disinilah pentingnya agar semua pihak dapat bekerja sama dan bersinergi untuk merevitalisasi kebudayaan dan kesejarahan. Di lain sisi pihak pengambil kebijakan sehubungan dengan pendidikan dapat mentransformasikan nilai-nilai tersebut melalui pendidikan formal.

Sebagai pusat pembudayaan masyarakat, sekolah berfungsi membangun warga negara yang cerdas dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup bangsa. Dalam penilaian Soedijarto, dengan kondisi pendidikan nasional yang masih timpang antara daerah yang satu dan lainnya, maka evaluasi pendidikan melalui sistem ujian nasional tidak tepat. Pemerintah perlu melakukan koreksi total terhadap penyelenggaraan pendidikan nasional dan akreditasi tingkat kelayakan sekolah di seluruh Indonesia. Pemerintah juga harus menyusun program dan melaksanakannya secara konsisten untuk memenuhi standar nasional pendidikan dengan urutan prioritas: guru, sarana dan prasarana, isi dan proses, penilaian, pembiayaan, pengelolaan serta kompetensi lulusan. (Soedijarto, 2000: 53)
Kesimpulan

Pendidikan sebagaimana digariskan oleh UNESCO sejatinya harus berangkat dari empat pilar pembelajaran yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Jika keempat pilar ini sungguh-sungguh diperhatikan dan dikembangkan dan dibudayakan oleh para pelaku pendidikan maka apa yang disebutkan dalam pepatah Latin, non scolae sed vitae discimus (sekolah bukan untuk mendapatkan nilai, tetapi untuk kehidupan) akan terwujud. Inilah bagaian dari kebudayaan. Oleh karena itu proses pendidikan harus menjadi proses pembudayaan perilaku dan karakter yang mulia dan membuat manusia tercabut dari akar budaya yang penuh dengan perbedaan dan keunikan yang bahkan saling bertentangan.

Dalam kaitan dengan pembahasan mengenai pengaruh kondisi sosial budaya terhadap perkembangan pendidikan dan pembangunan bangsa maka berikut adalah beberapa hal yang perlu ditegaskan.

  1. Kondisi Sosial budaya sangat berperan dalam proses pendidikan oleh karena itu kita sebagai anggota masyarakat perlu memberi dukungan yang positif agar pendidikan menjadi agen pembangunan di masyarakat.
  2. Agar hidup manusia sebagai bagian dari masyarakat menjunjung tinggi nilai-nilai sosial budaya maka dibutuhkan komitmen dan upaya terus-menerus secara bersama-sama bertanggung jawab menjadikan pendidikan sebagai upaya pembentukan budaya atau mewujudkan pendidikan sebagai pusat pembudayaan.

Jadi, pendidikan sesungguhnya merupakan upaya yang hasilnya baru dapat dilihat dalam rentang waktu yang cukup panjang, seiring perkembangan peradaban manusia. Apalagi, mengurus pendidikan tidaklah mudah, khususnya di dalam negara besar dan beragam seperti Indonesia. Pengambilan keputusan yang didasarkan atas pengaruh politik praktis dan kepentingan jangka pendek mutlak dihindarkan.

DAFTAR PUSTAKA

Almond, Gabriel and Sidney Verba, (1965), The Civic Culture: Political Attitudes and Democracy in Five Nations, Boston and Toronto: Little, Brown and Company

Soedijarto, (2000), Pendidikan sebagai Wahana Mencerdasakan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara Bangsa, Jakarta: CINAPS.

Soedijarto, (2008), Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita, Jakarta Penerbit Kompas

Ary H.,G.,(2000). Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Tentang Berbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Carnoy Martin and Henry M Levin, (1976) The Limits of Educational Reform, New York: Cavid McKay Company, Inc.

Nasution S., (1999). Sosilogi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Pidarta, Made. (1997). Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Rafael R. M, (2004). Manusia & dan Kebudayaan dalam Prespektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineke Cipta.

Rusfida (2002), “Peranan Pendidikan Tinggi Jarak Jauh untuk Mewudukan Knowledge Based Society, Jurnal Pendidkan dan Kebudayaan, Jakarta: Badan Peneltiaan dan Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional

Salam, Burhannudin. (2002). Pengantar Paedagogik. Jakarta: Rineka Cipta

Abdullah, Irwan. (2006) “Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan” – Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Hutington, Samuel, (2005) “Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia” – . Yogyakarta: Qalam

Kambie, A.S, (2003) “Akar Kenabian Sawerigading: Tapak Tilas Jejak Ketuhanan Yang Esa Dalam Kitab I Lagaligo (Sebuah Kajian Hermeneutik)” –, Makassar: Parasufia

Liliweri, Alo, (2002) “Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya” Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muthari, Murtadha, (1999) “Manusia dan Sejarah” – . Jakarta: Penerbit Mizan

Rahmat, Jalaluddin, (2007) “SQ For Kids: Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini” – Bandung: Mizan

Suhendro, Bambang dkk, (2007) “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” – Jakarta: Binatama Raya